Passion-nya di dunia seni tak pernah luntur meski harus menjalankan tugas sebagai prajurit TNI.
Kiprah Peltu Supriyono sebagai dalang sudah dikenal di kalangannya.
Dia kerap dipercaya menjadi penampil di beberapa event perayaan tingkat regional dan nasional.
NAHDIATUL AFFANDIAH
Sebelum menjadi prajurit TNI, Peltu Supriyanto sudah lebih dulu mengenal dunia karawitan dan dalang.
Dia mulai menggelutinya ketika duduk di bangku SMA.
Tepatnya pada tahun 1992.
Saat itu, dia kerap diundang ke acara acara hajatan di desa kelahirannya, di daerah Sragen, Jawa Tengah.
Darah seni memang mengalir dari kedua orang tuanya.
Ayah Supriyanto adalah seorang penabuh gendang.
Sementara ibunya menjadi sinden.
Meski begitu, kedua orang tuanya tidak terlalu berkenan melihat anaknya berkarier sebagai dalang.
Alasannya, karena kedua orang tuanya sudah merasakan hidup sebagai seniman selama bertahun tahun.
Sehingga, tahu betul bahwa pendapatan yang dihasilkan tidak bisa diandalkan.
Untuk itu, kedua orang tua Supriyanto mendorongnya agar menjadi anggota TNI.
Lantas pada 1996, Supriyanto mendaftar TNI.
Saat mulai masa pelatihan, dia tidak melupakan jati diri sebagai seorang seniman.
Sebab sejak kecil dia dibesarkan dari kalangan seniman.
Cerita uniknya terjadi sesaat sebelum dia dilahirkan.
Saat itu, ibunya masih sempat manggung sebagai sinden.
”Ceritanya, saat nyinden ibu-ibu katanya terasa mau lahiran. Akhirnya turun panggung dan memanggil dukun bayi,” kisah dia.
Di kediaman orang yang mengundang ibunya lah Supriyanto lahir.
Tanpa sepengetahuan orang tuanya, dia tetap meneruskan kegemarannya mendalang saat mengikuti pelatihan sebagai anggota TNI.
Hingga tiba saatnya Supriyanto resmi menjadi anggota TNI.
Dia pertama bertugas di Denkesyah (Detasemen Kesehatan Wilayah) 05.04.03 Malang, dan sempat berpindah ke Aceh.
Orang di lingkungannya yang tahu keterampilannya sudah beberapa kali meminta dia menjadi dalang.
Khususnya saat perayaan-perayaan tertentu.
Pada 2001 lalu, Supriyanto mengundang kedua orang tuanya untuk melihat penampilannya.
Saat itu dia menjadi salah satu penampil di acara HUT TNI di Kesdam V/Brawijaya.
”Saat itu ayah baru tahu yang akan menjadi dalang saya, saking terkejutnya, beliau akhirnya bersedia menabuh gendang,” ujar pria yang sudah dikaruniai satu anak itu.
Mulai saat itu, orang tua nya mendukung penuh kegiatan mendalangnya.
Sebab, di sisi lain Supriyanto juga sukses membuktikan diri dengan menjadi anggota TNI.
”Niat kedua orang tua saya saat itu bukan sepenuh nya melarang. Namun, memperingatkan anaknya bahwa menggantungkan hidup pada dunia seni bukan keputusan yang terbaik,” papar pria yang kini kembali bertugas di Denkesyah 05.04.03 Malang itu.
Sejak saat itu, tawaran untuk men dalang mulai sering berdatangan.
Namun Supriyanto hanya bisa mengambil jadwal pada akhir pekan.
Dalam satu tahun, dia bisa tampil 10 kali di sela-sela menjalankan tugas sebagai anggota TNI.
Tiap penampilan yang disuguhkan, Supriyanto selalu minim latihan.
Sebab waktu nya tidak banyak untuk berkesenian.
”Beruntungnya saya dikelilingi orang-orang yang berbakat. Jadi, kalau mau tampil tidak pernah membutuhkan latihan berhari-hari,” lanjut Supriyanto.
Secara perlahan, dia mulai kondang sebagai dalang di antara prajurit TNI lain.
Pada 2009, dia didapuk menjadi dalang dalam acara ruwatan di Lapangan Markas Kodam V/Brawijaya.
Aksi dalangnya disaksikan langsung Mayjen TNI Suwarno, yang saat itu menjabat sebagai Pangdam V/Brawijaya.
Sosok yang disukai Supriyanto saat mendalang adalah karakter Bima.
Menurutnya, kepribadian Bima selaras dengan prinsip prajurit TNI.
Yang, harus memiliki keteguhan jiwa, kejujuran, dan tidak mudah terpengaruh.
Puncak performanya terjadi pada bulan Oktober 2023 lalu.
Saat itu dia diundang untuk mendalang di acara ulang tahun TNI AD ke-78.
Di depan ribuan prajurit TNI dan Panglima TNI Laksamana Yudo Margono, Supriyanto dengan lincah menunjukkan aksi dalangnya.
Peringatan ulang tahun itu digelar dengan pertunjukan wayang kulit serentak di 78 titik di seluruh Indonesia.
Dalang-dalang yang diundang pun campuran dari kalangan umum dan anggota TNI.
Namun saat itu Supriyanto mendapat kesempatan mendalang di hadapan Panglima TNI langsung.
Lima dalang yang juga tampil di sana adalah pilihan langsung dari pimpinan TNI.
Dia menjadi satu-satunya perwakilan dari Jawa Timur. (*/by)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana