Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Perusahaan Karoseri di Malang Raya, Sejarah dan Perkembangannya (2), Bengkel di Garasi Rumah Simon Jethrokusumo Jadi Cikal Bakal Adi Putro

Fathoni Prakarsa Nanda • Kamis, 23 Januari 2025 | 18:00 WIB
BAWA NAMA BESAR: David Jethrokusumo menjadi penerus Simon Jethrokusumo dalam mengembangkan karoseri Adi Putro. Dia dibantu tiga paman dan empat sepupunya. NABILA AMELIA/RADAR MALANG
BAWA NAMA BESAR: David Jethrokusumo menjadi penerus Simon Jethrokusumo dalam mengembangkan karoseri Adi Putro. Dia dibantu tiga paman dan empat sepupunya. NABILA AMELIA/RADAR MALANG

Sebelum mendirikan Adi Putro, almarhum Simon Jethrokusumo membantu keluarganya untuk mengembangkan Studio Foto Yeh. 

Saat bisnis jual beli mobil mulai ramai, dia mulai tertarik untuk mencari sisi lain dunia otomotif yang juga menjanjikan, yakni perakitan bodi kendaraan hingga akhirnya membangun karoseri. 

NABILA AMELIA

SIMON Jethrokusumo tutup usia pada 8 November 2024 lalu. 

Namun, perjuangannya menjadi semangat dan inspirasi bagi sang putra, David Jethrokusumo, untuk melanjutkan kemudi perusahaan karoseri Adi Putro.

Karoseri tersebut sudah dirintis sejak 52 tahun silam. 

Saat masih muda, hari-hari Simon sebenarnya lebih banyak dihabiskan untuk memproduksi foto hitam putih di Studio Foto Yeh. 

Dia dipercaya keluarganya untuk mengembangkan studio foto yang juga dikenal dengan nama “Abadi” itu di Kelurahan Oro-Oro Dowo, Kecamatan Klojen. 

Suatu ketika, Simon melihat bisnis jual-beli mobil sedang tren di masyarakat. 

Banyak permintaan yang masuk, tetapi suplai mobil di Kota Malang sedikit. 

Karena penasaran, Simon mulai mencari tahu produk-produk mobil di Jakarta untuk kemudian dijual. 

Rasa penasarannya berkem bang menjadi bisnis samping an yang dikembangkan bersama tiga saudara laki-lakinya. 

Yaitu Philip Jethrokusumo, Lukas Jethrokusumo, serta Andreas Jethrokusumo. 

Tak hanya jual beli, lelaki kelahiran 14 Juni 1944 itu juga mempelajari cara untuk merakit mobil sendiri. 

Bahkan Simon berani menyulap garasi rumah lamanya di Jalan Kartini menjadi bengkel perakitan mobil angkutan penumpang. 

Setelah bengkel jadi, dia membeli satu sasis mobil Mitsubishi Colt T-100 untuk dirakit menjadi mobil angkutan. 

Seluruh pekerjaan perakitan dilakukan Simon sendiri. 

Mulai dari mengelas hingga mengecat mobil. 

Saat selesai, mobil hasil rakitannya baru dijual. 

Itu berlangsung sejak tahun 1973. 

Hasil penjualan terus di putar oleh Simon. 

Pesanan pun semakin banyak. 

Otomatis, dia harus menambah jumlah pembelian sasis. 

Aktivitas pekerjaan merakit kendaraan juga terus bertambah. 

Kebisingan suara palu dan peralatan lain yang beradu dengan material ternyata mulai mengusik para tetangga. 

Simon memutuskan untuk mencari lokasi baru untuk bengkel, yakni di Jalan Mayjen Panjaitan atau Betek. 

Sama halnya dengan bengkel di garasi rumahnya, suara bising dari aktivitas perakitan kendaraan juga dikomplain warga sekitar. 

Dia harus kembali mencari lahan yang lebih besar dan memiliki jarak ideal dari permukiman warga. 

Akhirnya, Simon mendapatkan lahan di Jalan Raya Balearjosari. 

Di tempat itu pula, Simon bersama tiga adiknya mendirikan PT Adi Putro Wira sejati pada 1975. 

Awalnya, luas lahan yang digunakan sekitar dua sampai tiga hektar. 

Seiring dengan perkembangan perusahaan, Simon memperluas lahan sepetak demi sepetak. 

Saat ini, luas lahan karoseri itu mencapai 7,5 hektare. 

Sasis yang digunakan untuk perakitan kendaraan juga semakin beragam, mulai dari Colt T-100, Colt T-120, hingga Suzuki Carry. 

Puncak kejayaan Adi Putro kala itu adalah saat memproduksi bodi untuk Suzuki Carry. 

Bahkan, Suzuki sebagai agen tunggal pemilik merek (ATPM) sempat mengajak tim dari Adi Putro untuk terbang ke Jepang untuk meninjau pembuatan karoseri di pabrik. 

Pada 1982, Adi Putro juga mulai berinvestasi untuk mesin pembuatan bodi kendaraan. 

Mesin tersebut dikenal dengan sistem full pressed body dengan kapasitas mencapai 1.000 ton. 

Dengan alat tersebut, pengerjaan bodi kendaraan semakin mudah, karena lembaran pelat untuk pembuatan kendaraan bisa dicetak. 

Tak puas dengan standar Jepang, pada 1994 Simon dan timnya berinisiatif mencari ilmu ke Jerman. 

Mereka belajar ke Neoplan, sebuah perusahaan otomotif yang memproduksi bus konvensional maupun bus listrik. 

Ada dua gelombang karyawan yang kala itu diberangkatkan ke Jerman dalam rangka belajar, yaitu pada 1994 dan 1996. 

Satu gelombang karyawan belajar di Jerman selama enam bulan. 

Setelah dirasa cukup, Adi Putro mulai membuat bus. 

Mereka menjadi semacam franchise dari Neoplan di Indonesia. 

Namun, itu tidak berlangsung lama, karena pada 1998 Indonesia diterpa badai krisis moneter. 

Dengan standar kualitas yang diterapkan Neoplan, biaya pembuatan bus dirasa terlalu mahal untuk Indonesia. 

Tim Adi Putro dituntut untuk memutar otak. 

Mereka harus bisa melakukan penyesuaian konstruksi hingga material agar tetap bisa memproduksi bus yang berkualitas di Indonesia. 

Sayang jika ilmu yang didapat dari Jerman tidak diterapkan. 

Bus yang sesuai pun berhasil diproduksi. 

Bahkan, Adi Putro langsung bisa bersaing dengan karoseri bus lain yang jumlahnya mencapai puluhan pada akhir 1990-an. 

Memasuki tahun 2000, David, putra sulung Simon, mulai terjun untuk membantu pengembangan Adi Putro. 

Dia bergabung tak lama setelah lulus kuliah. 

Kala itu David masih berusia sekitar 23 tahun. 

Sempat bekerja di Amerika, David kemudian pulang ke Malang atas permintaan ayahnya. 

Meski merupakan putra pemilik perusahaan, David tidak boleh santai di belakang meja kantor. 

Simon memintanya untuk benar-benar belajar dari nol. 

Termasuk dalam quality control dan pemasaran produk. 

“Kebetulan waktu kecil saya sering diajak main ke perusahaan. Nama anak lelaki pasti tertarik dengan mobil,” kenangnya. 

Salah satu tantangan yang diberikan kepadanya saat itu adalah menawarkan produk ke perusahaan jasa transportasi Cipaganti. 

Selama sekitar 1,5 tahun, David berupaya menemui pemilik Cipaganti hingga harus menanti di pos satpam. 

Upaya itu pun akhirnya berbuah manis. 

Selama melanjutkan perusahaan yang dibuat Simon, David bolak-balik menghadapi tantangan. 

Salah satunya saat berupaya menjajaki pasar ekspor pada tahun 2018-2019. 

Kala itu, Adi Putro menjajal pasar di Arab Saudi yang dinilai menjanjikan karena membutuhkan banyak bus untuk pelaksanaan ibadah haji. 

Mereka juga pernah memasarkan produk ke Jeddah, Qatar, serta Kuwait. 

Penjajakan yang dilakukan Adi Putro ke Arab Saudi sebenarnya mendapat sinyal positif. 

Mereka bahkan diundang ke rumah salah satu pengusaha di sana. 

Yang paling berkesan, menurut David, adalah saat beberapa atase dari Timur Tengah berkunjung ke Adi Putro di Malang. 

Sayangnya, meski kualitas Adi Putro dirasa cocok, pasar luar negeri belum terbuka karena faktor harga. 

Demikian pula saat melakukan pemasaran di Asia Tenggara, seperti Malaysia dan Singapura. 

“Padahal, saya melihat kualitas karoseri Indonesia di pasar Asia Tenggara sebenarnya sangat bagus,” tegas David. 

Karena itu, David berharap ke depan pemerintah bisa hadir untuk mengembangkan pasar karoseri lokal di luar negeri. 

Dia menyebut, pasar karoseri juga perlu kemudahan dan perlindungan. 

Tantangan lain terjadi saat pandemi Covid-19. 

David maupun Simon merasa momen itu menjadi tantangan terberat. 

Sebab, mereka berupaya tidak langsung melakukan efisiensi karyawan di tengah kondisi yang seperti tak ada ujungnya. 

Tidak ada pesanan yang masuk selama pandemi. 

Kemudian, ada 271 bus yang tidak diambil oleh pemesan karena ekonomi sedang buruk. 

Belum lagi mereka harus tetap menggaji karyawan dan memberikan bantuan. 

Dari sebanyak 1.500 karyawan, akhirnya tersisa 600 karyawan. 

Pekerjaan pada akhirnya tetap dilakukan meski ada penerapan masuk dengan mekanisme ganjil dan genap. 

Artinya, setengah dari total karyawan masuk secara bergantian sesuai absen. 

Terhadap pelanggan, Adi Putro juga tidak meminta pembayaran langsung saat pandemi. 

Untungnya, David tidak berjuang sendiri. 

Dia dibantu tiga adik Simon. 

Selain itu, empat sepupunya turut serta dalam mengembang kan Adi Putro. 

Yaitu Eric Jethrokusumo, Jesse Jethrokusumo, Samuel Jethrokusumo, dan Joshua Jethrokusumo. 

Setelah pandemi, pesanan kembali meroket meski belum bisa disamakan saat sebelum pandemi. 

Tak hanya kepada David, perjuangan almarhum Si mon juga memberi kesan terhadap karyawannya. 

Salah satunya Manager Engineering Adi Putro, Eko Widi. 

Lulusan Teknik Mesin ITN itu masuk Adi Putro sejak 1996. 

Selain terkesan terhadap jiwa kepemilikan perusahaan yang ditunjukkan Simon, Eko bersyukur bisa ikut dan belajar dua kali di Jerman. 

Eko pertama kali belajar di Berlin. 

Dia bersama rekan-rekannya mempelajari rakitan kendaraan untuk tipe K. 

Tipe tersebut memiliki panjang 12 meter dengan kapasitas 49 kursi. 

“Kami belajar membuat bus monocoque sampai 12 meter dan sempat dibuat trayek. Tapi kemudian dihentikan,” ucapnya. 

Penghentian dilakukan karena menyesuaikan kondisi jalan dan lingkungan di Indonesia. 

Karena itu, mereka membuat bus monocoque kelas medium. 

Panjangnya sembilan meter dan lebarnya 2,1 meter. 

Agar lebih ramah bagi seluruh kalangan masyarakat, termasuk disabilitas, bus didesain low deck

Untuk pembuatan satu unit bus dibutuhkan waktu antara 1 hingga 1,5 bulan. 

Namun, dengan banyaknya pesanan, setiap hari terdapat sekitar 6 bus besar dan tiga microbus yang selesai diproduksi. 

Produk yang dikembangkan juga makin bervariasi. 

Terdiri dari kendaraan enam roda seperti Jetbus SDD, Jetbus UHD, Jetbus SHD, Jetbus MHD, Jetbus HDD, dan Jetbus MD. 

Sementara untuk kendaraan dengan roda di bawah enam ada Jetbus Jumbo, Jetbus Big Jumbo, Jetbus Big Benz, dan Jetbus MC. (*/fat)

Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana
#sejarah #Malang Raya #adi putro #perkembangan #karoseri #perusahaan