Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Cerita Jumarali, Peternak dari Kota Batu yang Kehilangan Tiga Sapi, Empat Ekor Harus Dipotong Paksa, Rugi Sekitar Rp 150 Juta

Bayu Mulya Putra • Jumat, 24 Januari 2025 | 18:10 WIB
SISAKAN TIGA EKOR: Jumarali setelah membersihkan kandang sapi miliknya di Desa Beji, Kecamatan Junrejo, Kota Batu, kemarin. MOH RIZAL / RADAR MALANG
SISAKAN TIGA EKOR: Jumarali setelah membersihkan kandang sapi miliknya di Desa Beji, Kecamatan Junrejo, Kota Batu, kemarin. MOH RIZAL / RADAR MALANG

Pada dua hari pertama tahun 2025, Jumarali mendapati tiga sapinya mati karena penyakit mulut dan kaki (PMK). 

Beberapa hari berikutnya, dia terpaksa menjual empat ekor sapi dengan harga murah. 

Semuanya terinfeksi PMK dan harus dipotong paksa.
MOH RIZAL

JUMARALI tampak sibuk membersihkan kandang sapi di belakang rumahnya, di Desa Beji, Kecamatan Junrejo, Kota Batu, kemarin (23/1). 

Dia mengawali proses itu dengan membuang kotoran sapi di kandang berukuran sekitar 8 x 4 meter. 

Selanjutnya dia menyapu sisa-sisa kotoran dan rumput.

Setelah itu dia menyiram bagian lantainya. 

Sejak awal Januari, dia semakin rajin membersihkan kandang sapi miliknya. 

Memori tentang tiga sapi miliknya yang mati masih terngiang. 

Semua terjangkit penyakit mulut dan kaki (PMK). 

Selain tiga sapi yang mati, ada empat sapi lain miliknya yang harus dipotong paksa. 

Seperti jagal pada umumnya, dia biasa membeli sapi muda. 

Kemudian dirawat beberapa bulan untuk pembesaran. 

Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang menjadi jujukannya. 

Jumar masih ingat betul, akhir 2024 lalu dia membeli delapan sapi secara berkala dari Pujon. 

”Saat itu kondisinya masih sehat semua,” kata dia. 

Kematian sapi pertamanya terjadi tepat setelah pergantian tahun. 

Beberapa hari sebelumnya, dia sudah merasa ada yang janggal dengan salah satu sapinya. 

Sapi tersebut mengeluarkan liur dan enggan makan. 

Dia langsung menduga sapi tersebut terkena PMK. 

Sebab, ada beberapa luka yang ditemukan di bagian mulut. 

Usaha untuk mengobatinya sudah dilakukan. 

Namun upaya itu belum membuahkan hasil. 

Pagi hari, tepat tanggal 1 Januari 2025, dia mendapati satu sapi miliknya sudah tergeletak kaku di kandang. 

Jumar merasa efek PMK kali ini lebih parah dari kejadian sebelumnya. 

”Yang dulu itu masih bisa bertahan sampai tiga minggu. Kalau yang ini maksimal hanya satu sampai tiga hari,” ujarnya. 

Karena berlokasi di satu kandang, sapi-sapi lainnya juga cepat tertular PMK. 

Saat itu, mayoritas peternak cukup kelimpungan. 

Mereka tidak ada persiapan sama sekali untuk menghadapi wabah PMK. 

Beberapa rekomendasi obat untuk menyembuhkan sapi sapinya sudah dicoba Jumar. 

Mulai dari pemberian jamu hingga menyemprot kandang dengan cairan jeruk. 

Setiap hari, dia memblender berbagai jenis bahan. 

Seperti kunyit, madu, kencur, hingga daun binahong. 

Jamu tersebut diberikan dengan takaran sekitar 750 ml ke pada tiap ekor sapi. 

Lagi-lagi upaya itu belum membuahkan hasil. 

Malam harinya, masih tanggal 1 Januari 2025, satu sapi milik nya kembali tumbang. 

”Sepertinya matinya mulai sore hari,” tambah pria kelahiran 1961 itu. 

Dia pun terpaksa harus menguburkan sapi sapi itu. 

Lokasi pertama penguburan berada di depan kandang. 

Dia menggali tanah sedalam 2,5 meter. 

Keesokan harinya, sapi ketiga miliknya kembali ambruk dan mati. 

Jumar terpaksa harus melakukan penguburan lagi. 

Sejak kematian sapinya yang pertama, dia sudah berusaha menghubungi teman-teman nya yang juga bekerja sebagai jagal. 

Tujuannya agar bisa dilakukan penyembelihan paksa. 

”Namun saat itu sulit, karena pedagang juga libur, sehingga jagal juga libur,” bebernya. 

Ketika jagal mulai menawar sapinya, dia langsung sigap melakukan penjualan untuk dilakukan potong paksa. 

Saat itu, meski sudah ada tanda tanda terkena PMK, sapi miliknya masih bisa berjalan normal. 

Dalam sehari, empat sapi miliknya langsung dijual. 

Menyisakan satu sapi saja. 

Mengambil opsi menjual dan potong paksa bukanlah pilihan yang menguntungkan bagi Jumar. 

Namun itu adalah opsi terakhir yang harus diambil ketimbang peternak tak dapat uang sama sekali. 

Dia mengalami kerugian sekitar Rp 10 juta dari satu ekor yang dipotong paksa. 

Salah satu sapi yang dia beli seharga Rp 27 juta, hanya terjual Rp 17 juta saja. 

Tepat sebelum merebaknya wabah PMK, dua ekor sapi nya sudah ditawar Rp 70 juta. 

”Padahal belinya sekitar Rp 51 juta,” kata dia. 

Jumar tak bermaksud melepasnya karena ingin membesarkannya lagi. 

Namun harapannya harus sirna, karena sapinya terpaksa harus dipotong paksa.

 Baca Juga: Akademisi Sarankan Proses Vaksinasi PMK di Kota Malang secara Rutin

Dan, dijual dengan harga dibawah itu. 

Kerugian dari sapi mati, dipotong paksa, dan biaya perawatan berkisar di angka Rp 150-an juta. 

”Untuk pakan saja, saya bisa menghabiskan Rp 1 juta setiap pekan. Belum kebutuhan lainnya seperti obat-obatan,” papar dia. 

Meski diterpa musibah dengan kerugian cukup banyak, semangat Jumar untuk memelihara sapi tak pernah goyah. 

Kini, pria berusia 64 tahun itu masih memelihara tiga ekor sapi. 

”Kemarin kan sisa satu, terus nambah lagi dua ekor sapi,” ujar pria yang juga menjadi produsen tempe tersebut. 

Itu dilakukan agar uangnya bisa berputar kembali. 

Juga untuk memanfaatkan limbah pembuatan tempe sebagai pakan sapi. (*/by)

Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana
#Kota Batu #sapi #PMK #peternak #Mati #penyakit mulut dan kaki