Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Perusahaan Karoseri di Malang Raya, Sejarah dan Perkembangannya (4), Teruji Banyak Cobaan, Tatang Sukses Kembangkan Tentrem

Fathoni Prakarsa Nanda • Sabtu, 25 Januari 2025 | 18:25 WIB
TANGGUH: Tatang Wahyudi (kanan) ditemani anaknya, Yohan Wahyudi, yang kini dipercaya menjadi managing director Karoseri Tentrem. DARMONO/RADAR MALANG
TANGGUH: Tatang Wahyudi (kanan) ditemani anaknya, Yohan Wahyudi, yang kini dipercaya menjadi managing director Karoseri Tentrem. DARMONO/RADAR MALANG

Tentrem tidak hanya memiliki karoseri, tapi juga Perusahaan Otobus (PO). 

Itu karena pemiliknya, Tatang Wahyudi, terlebih dulu membuka trayek pada 1978. 

Dalam perjalanannya mengelola trayek sekaligus PO, Tatang menghadapi banyak tantangan.
NABILA AMELIA

TATANG Wahyudi bisa dibilang satu-satunya pelaku usaha karoseri generasi pertama dari Malang yang masih hidup. 

Saat ini usianya sudah menginjak 72 tahun. 

Namun, ingatannya tentang perjalanan mengelola PT Tentrem Sejahtera selama 47 tahun masih segar. 

Sebelum mendirikan PT Tentrem Sejahtera, Tatang bekerja di sebuah bengkel. 

Dia sangat rajin berguru kepada rekan-rekan sesama mekanik yang sudah memiliki jam terbang tinggi. 

Pada 1974, Tatang mencoba peruntungan lain dengan menjadi mekanik panggilan. 

Sambil melayani panggilan bongkar pasang kendaraan, Tatang terus belajar tentang industri otomotif. 

Salah satu yang menarik perhatiannya adalah pendapatan perusahaan otobus (PO) karena sangat menggiurkan. 

Lelaki kelahiran Jember itu pun berusaha keras mengejar mimpinya memiliki bus sendiri.

”Puji Tuhan, kok mimpinya tidak waktu tidur. Kalau saya tidur, mungkin saat bangun mimpinya hilang,” kelakar Tatang saat berbincang dengan wartawan Jawa Pos Radar Malang. 

Meski kondisi ekonominya masih pas-pasan, Tatang mencari cara untuk bisa membeli bus. 

Dia mengincar bus Mercedes Benz OF 1113 yang memang sudah beredar di Indonesia bersama dua jenis bus lain. 

Kapasitas bus dengan posisi mesin di depan itu 49 kursi. 

Harga bus baru yang ingin dibeli Tatang saat itu sekitar Rp 10,7 juta. 

Dia kemudian mengajak temannya yang seorang pedagang untuk bekerja sama menjalankan trayek bus. 

Sang teman tertarik setelah mendengar kan penjelasan tentang potensi keuntungan menjalankan angkutan bus dari Tatang. 

Kerja sama itu dimulai pada 1978. 

Tatang bertugas mengelola operasional bus. 

Sementara temannya mencari pinjaman di bank. 

Keduanya kemudian melakukan pembagian saham masing-masing 50 persen. 

Untuk operasional pertama kali, Tatang membuka trayek Malang – Jember. 

Sebab, trayek lain seperti Malang – Surabaya sudah diisi pemain-pemain besar. 

Pada saat yang sama, Tatang juga masih menjalankan pekerjaan sebagai mekanik panggilan. 

Sementara operasional bus dijalankan rekan-rekannya yang lain. 

”Waktu itu laju bus tidak sekencang sekarang. Tapi perjalanan Malang-Jember bisa ditempuh dalam waktu lima jam. Sebab jalanan juga belum padat kendaraan,” kenangnya. 

Belum lama menjalankan PO Tentrem, teman Tatang yang pedagang itu memutuskan untuk mengakhiri kerja sama. 

Secara terang-terangan, sang teman itu menyatakan keinginan untuk membuka perusahaan bus sendiri. 

Bahkan sudah membeli tujuh bus lain. 

Gara-gara pecah kongsi, Tatang harus melunasi pembagian saham dan menjalankan perusahaan sendiri. 

Pada 1980, Tatang mengembangkan perusahaan dengan menambah armada bus menjadi lima unit. 

Sayangnya, setahun kemudian dus bus miliknya mengalami kecelakaan. 

Dua kecelakaan itu terjadi hanya dalam kurun waktu sepekan. 

Bus yang beroperasi pun tinggal tiga unit. 

Sejak dua busnya rusak, Tatang ibarat orang gila kerja. 

Siang hari melayani panggilan dari pelanggan di luar, malamnya memperbaiki bus milik sendiri. 

Jika dirasa belum pas, Tatang tidak akan pulang dari bengkel meski jarum jam sudah menunjuk ke angka 03.00. 

Perlahan bisnisnya kembali tumbuh. 

Tatang mempekerjakan sekitar 40 orang untuk pengelolaan perusahaan transportasi. 

Sementara untuk bengkel reparasi bus, dia dibantu sembilan teknisi. 

Pada 1983, armada bus milik Tatang bertambah menjadi tujuh unit. 

Usaha bengkel juga berkembang. 

Tak lagi merawat bus sendiri, tapi juga melayani perbaikan bus milik PO lain. 

”Pembayaran utang saya kebut. Tidak boleh molor demi menjaga kepercayaan,” tegasnya. 

Tepat pada 1986, Tatang memutuskan untuk membangun karoseri. 

Awalnya hanya membuat konstruksi bus economy class

Karena masih tergolong perusahaan baru, desain bus dibikin sendiri. 

Bentuknya tidak aneh-aneh. 

Yang penting sesuai dengan kondisi saat itu. 

Sebelum krisis moneter 1998, PO Tentrem memiliki 230 armada bus. 

Ditambah perusahaan karoseri yang terus berkembang, kondisi cash flow perusahaan pun terbilang bagus. 

Saat krisis moneter mencapai puncaknya pada Juli 1998, industri jasa transportasi dan karoseri yang dijalankan Tatang juga terpukul. 

Apalagi ada sebagian hartanya yang disimpan di salah satu bank yang terkena likuidasi. 

Masalah makin berat karena beberapa PO bus yang dilayani bengkel dan karoseri Tentrem gulung tikar. 

Perusahaan milik Tatang itu pun ikut merasakan kerugian. 

Sebab, beberapa PO yang bangkrut tidak bisa melakukan pembayaran. 

Pengalaman lolos dari cobaan ditinggal teman kongsi dan dua bus kecelakaan di awal mengembangkan bisnis menjadikan Tatang pribadi yang tangguh. 

Begitu juga saat dihantam badai krisis moneter. 

Dia tetap mampu mempertahankan PO bus serta karoseri di bawah bendera PT Tentrem Sejahtera. 

Enam tahun berjuang keras setelah krisis, karoseri Tentrem mampu memproduksi 15 bus dalam satu bulan. 

Mereka juga menambah alat-alat produksi modern berteknologi hidrolis. 

”Untuk pemasarannya saat itu masih di sekitar Pulau Jawa. Terutama Provinsi Jawa Timur,” sebut Tatang. 

Namun, lagi-lagi cobaan datang. 

Pada 2006 lalu, terjadi luapan lumpur dari pengeboran gas PT Lapindo di Sidoarjo. 

Musibah itu sangat mengganggu bisnis transportasi yang menjadi lahan usaha Tentrem. 

Sebab, jalur transportasi angkutan umum Surabaya-Malang terputus. 

Operasional bus dengan trayek yang sangat menjanjikan itu pun menjadi kembang kempis. 

Padahal, jalur transportasi bus Surabaya-Malang sudah menjadi andalan PO Tentrem. 

Masyarakat banyak yang beralih menggunakan motor. 

Seperti saat melewati tantangan sebelumnya, Tatang selalu bisa lolos. 

Bahkan, pada 2020, Tentrem memberanikan diri menjajal peluang ekspor bus. 

Saat itu ada perwakilan dari negara Kenya yang tertarik membeli bus produksi Tentrem setelah datang ke sebuah pameran otomotif. 

”Kami sempat mengirim 15 bus ke pemesan di Kenya. Termasuk pengiriman spare part juga,” terangnya. 

Setahun setelahnya, Tentrem harus menghadapi pukulan berat bernama pandemi Covid-19. 

Tatang berusaha tidak melakukan efisiensi karyawan dengan berbagai cara. 

Salah satunya dengan mengurangi jam kerja dan gaji menjadi 70 persen sampai kondisi pulih. 

Saat ini, Karoseri Tentrem yang berada di Jalan Perusahaan Raya Barat, Plambesan, Tanjungtirto, Kecamatan Singosari, mempekerjakan sekitar 650 karyawan. 

Setiap hari ada dua unit bus yang selesai diproduksi di karoseri tersebut. 

Beberapa model bus yang dikembangkan antara lain Galaxy, Actor, Inspiro, Jupiter, Scorpion King, Scorpion X, Max HDD, Max Facelift, New Venom, hingga Avante. 

Perusahaan tersebut juga menjadi salah satu karoseri yang mendapat sertifikasi dari Mercedes Benz. (*/fat)

Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana
#PT Tentrem Sejahtera #Malang Raya #Bus #karoseri #perusahaan