Ribuan koleksi arsip dan naskah kuno disimpan Lulut Edi Santoso di lantai dua rumahnya di Perumahan IKIP Tegalgondo Asri Blok 1K Nomor 7, Kecamatan Karangploso, Kabupaten Malang.
Deretan empat rak langsung terlihat ketika menaiki tangga.
Di sana juga terdapat satu ruangan khusus yuntuk menyimpan koleksinya.
Sudah menjadi rahasia umum bahwa koleksinya kerap menjadi rujukan sejumlah pihak.
Sebab, Lulut punya banyak dokumen penting.
Contohnya dokumen peraturan pembangunan makam di Kota Malang yang diterbitkan tahun 1914.
Contoh lainnya ada dokumen Staatsbladvan NederlandschIndie, yang berisi kumpulan undang-undang, peraturan, dan ketetapan dari pemerintah kolonial Belanda.
Selanjutnya ada dokumen perkebunan pada masa Hindia Belanda.
”Itu ada sekitar 350 bendel, atau separonya yang sudah saya berikan ke Pemprov Jatim,” kata Lulut, kemarin.
Selain naskah dan dokumen kuno, dia juga mengoleksi beragam buku. Ada buku cetakan tahun 1800-an dengan beragam bahasa.
Seperti Bahasa Belanda dan Arab.
Bila diestimasi ada lima ribuan buku yang dia koleksi.
Pria berusia 59 tahun itu sudah hobi mengumpulkan naskah dan buku lama sejak dia masih SMA.
Awalnya dia mengumpulkan koran yang yang informasinya cukup berkesan baginya.
Rutinitas itu dilakukan hingga dia melanjutkan studi diploma.
Saat melanjutkan studi strata satu, Lulut mulai mengumpulkan buku-buku seni.
Dia cukup berani dalam berinvestasi buku.
”Saat itu rata rata beli buku impor, meski harus kredit,” tambah pria yang menjadi guru di SMA Negeri 3 Malang sembari tersenyum.
Hasratnya menjadi kolektor kemudian meningkat. Sejak berkuliah, Lulut juga aktif mengumpulkan naskah naskah kuno.
”Saya cari dengan berbagai cara, termasuk tanya ke tukang rongsokan,” cerita dia.
Saat mulai booming media sosial, upayanya mencari lebih mudah.
Yang susah yakni mencari kecocokan harga.
”Sempat ada yang jual satu buku minta seratus juta, ya akhirnya tidak deal,” terang bapak tiga anak itu.
Kecintaannya terhadap dunia literasi menurun dari ibunya.
Ibunya yang lahir pada era kolonial Belanda, tepatnya tahun 1921, berkesempatan menempuh pendidikan cukup tinggi.
Itu membuat Lulut dididik cukup disiplin.
Khususnya dalam hal akademik.
Kini, agar koleksinya tetap abadi dan bisa dipelajari beberapa pihak, dia turut melakukan proses digitalisasi.
Beberapa naskah, dokumen, dan manuskrip kuno di-scan. (wb2/by)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana