Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Jejak Penyebaran Islam di Malang Raya (6): Mbah Bergas Tinggalkan Jejak Kewalian di Bululawang

Bayu Mulya Putra • Kamis, 6 Maret 2025 | 18:30 WIB

DIRAWAT TURUN-TEMURUN: Rozikin, keturunan kedelapan salah satu abdi dalem Mbah Bergas berziarah ke makam Mbah Bergas, kemarin (5/3).
DIRAWAT TURUN-TEMURUN: Rozikin, keturunan kedelapan salah satu abdi dalem Mbah Bergas berziarah ke makam Mbah Bergas, kemarin (5/3).

Belum ada yang tahu nama asli Mbah Bergas yang dimakamkan di Desa Lumbungsari, Kecamatan Bululawang. Yang pasti beliau adalah orang dari Kerajaan Mataram. Jejak kewaliannya banyak diakui sejumlah pihak. Juga warga yang tinggal di sekitar makamnya.

NAHDIATUL AFFANDIAH

JEJAK tempat persembunyian Mbah Bergas dan istrinya di Desa Lumbungsari, Kecamatan Bululawang kini menjadi area makam keduanya.

Di samping ke dua makam tersebut juga terdapat kompleks makam kedua abdi dalemnya.

Kisah tentang sosok Mbah Bergas diceritakan langsung oleh Rozikin, keturunan kedelapan salah satu abdi dalem Mbah Bergas.

Menurut pria berusia 75 tahun itu, awal mula Mbah Bergas datang ke Desa Lumbungsari terjadi pada 1700an.

Saat itu, Mbah Bergas bersama istri dan dua abdi dalemnya menghindari dari konflik antara Kerajaan Mataram dengan Verenigde Oostindische Compagnie (VOC).

Karena Mbah Bergas merupakan petinggi di Kerajaan Mataram, kisah pelarian dan identitasnya pun dirahasiakan.

Saat tiba di Desa Lumbungsari, kondisinya sangat sepi dan dipenuhi hutan belan tara.

Area tempat persembunyian Mbah Bergas merupakan sungai dan tebing.

Masyarakat di sana hidup akur, terbukti dengan beberapa tradisi yang bercampur antara Islam dan Hindu.

”Seperti pengucapan mantra untuk ritual pernikahan diawali bismillah, tapi ada kembang mayang dan ja nurnya,” ujar Rozikin saat ditemui di area makam Mbah Bergas, kemarin.

Kewalian Mbah Bergas tidak disadari masyarakat sekitar.

Hanya diketahui orang-orang luar daerah yang kasyaf (terbuka mata batinnya).

Rozikin sendiri bahkan tidak tahu siapa nama asli Mbah Bergas hingga saat ini.

Yang diketahui hanyalah nama panggilan bergas itu yang berarti segar bugar.

Sebab semasa hidupnya, Mbah Bergas selalu terlihat bugar dan bersemangat meskipun sudah tua.

Menurut pendahulu Rozikin, semasa hidup Mbah Bergas sering mengajar mengaji anak-anak di sekitar tempat persembunyiannya.

Berlanjut meng ajarkan ilmu kanuragan pada anak-anak muda.

Mayoritas muridnya adalah orang-orang Mataram yang menyusul ke persembunyiannya.

”Tidak banyak cerita tentang Mbah Bergas dari pendahulu saya, sejak dulu saya selalu dilarang untuk banyak tanya,” lanjut Rozikin.

Pesan pendahulu Rozikin hanyalah fokus merawat makam Mbah Bergas dan mengabdi padanya.

Perkiraan tahun wafatnya Mbah Bergas antara tahun 1725 hingga 1735.

Makam Mbah Bergas saat itu hanya ditandai dengan batu nisan dan pohon jenar di bagian atas.

Di area kaki terdapat pohon jambu.

Begitu juga dengan makam istrinya, terdapat kayu jambu di bagian atas dan kayu lamtoro di bagian kaki.

Saat ini kayu tersebut masih tertancap di kedua makamnya.

Untuk menandai adanya makam orang mulia, keduanya hanya dinaungi dengan gubuk kecil.

Wafat nya Mbah Bergas hanya menyisakan abdi dalemnya yang setia merawat kedua makam hingga akhir hayat mereka.

Wasiat merawat ma kam dan mengabdi kepada Mbah Bergas itu menurun kepada anak cucu abdi dalem tanpa penjelasan yang jelas terkait sosok Mbah Bergas.

Sekitar tahun 1946, atau satu tahun pasca kemerdekaan, masyarakat secara swadaya merawat area makam Mbah Bergas.

Satu tahun kemudian, agresi militer Belanda terjadi.

”Saat itu sisi utara sungai sudah dikuasai Belanda. Sementara sisi selatan adalah perkampungan warga pribumi,” papar Rozikin. Setiap hari, setidaknya ada 40 mortir yang ditembakkan ke arah perkampungan warga.

Namun satu pun peluru tidak ada yang merusak rumah warga.

Salah satu tentara Indonesia bernama Mustakim merasa ganjil dengan peristiwa tersebut.

Dia berpikir seperti ada kekuatan gaib yang mel indungi warga.

Baru pada 1973 ketika dia dilantik menjadi Lurah, Mustakim mencari tahu dan menyadari kemungkinan besar penangkal gaib itu berasal dari makam Mbah Bergas yang berada di tepi sungai sisi selatan.

Baru pada tahun 1991, seorang pemuka agama asal Kepanjen bernama Muslimin datang ke makam Mbah Bergas.

Tokoh agama yang akrab disapa Mbah Mus itu membawa ribuan jamaah.

Para jamaahnya meyakini Mbah Mus adalah orang kasyaf yang mampu merasakan kewalian seseorang meskipun sudah meninggal.

Kata Rozikin, Mbah Mus sangat yakin bahwa Mbah Bergas adalah seorang wali.

Pada tahun itu juga pembangunan makam Mbah Bergas dilakukan secara besar-besaran dan permanen.

Modalnya dari dana swadaya masyarakat serta sumbangan dari Mbah Mus.

”Tapi ada beberapa masyarakat yang menolak juga karena menganggap Mbah Bergas adalah orang biasa,” lanjut Rozikin.

Banyak kyai didatangkan untuk mentasbihkan kesalehan Mbah Bergas.

Terutama pemuka agama yang dikenal mursyid (pembimbing spiritual dalam tarekat).

Saking banyaknya, Rozikin hanya mengingat satu di antaranya yaitu Kyai Wahab Waluyo, Kediri.

”Dengar-dengar Mbah Mus juga berasal dari keturunan Mataram, maka dari itu nyambung dengan Mbah Bergas,” tutur Rozikin. Mbah Mus wafat tiga tahun lalu. (*/by)

Editor : A. Nugroho
#jejak penyebaran ajaran Islam #Malang Raya #Bululawang #mbah bergas