Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Mbah Bener Rajin Lakukan Syiar lewat Kesenian di Kelurahan Temas

Bayu Mulya Putra • Minggu, 9 Maret 2025 | 00:50 WIB
MASIH DIKENANG: Ketua Adat Kelurahan Temas H. Fakih memanjatkan doa di Makam Mbah Bener, Kelurahan Temas, Kecamatan Batu kemarin (7/3). (RORI DINANDA BESTARI/RADAR MALANG)
MASIH DIKENANG: Ketua Adat Kelurahan Temas H. Fakih memanjatkan doa di Makam Mbah Bener, Kelurahan Temas, Kecamatan Batu kemarin (7/3). (RORI DINANDA BESTARI/RADAR MALANG)

Warga Kelurahan Temas menganggap Raden Mas Wiryo Kusumo atau Mbah Bener tak hanya sebagai leluhur. Namun, juga ulama yang berperan menyebarkan Islam di sana. Tiap tahun rutin digelar selamatan desa untuk mengenang perjuangannya.

RORI DINANDA BESTARI

SELAIN di Kecamatan Bumiaji, jejak penyebaran Islam di Kota Batu juga ada di Kecamatan Batu.

Tepatnya di makam Mbah Bener, yang berlokasi di Jalan Wukir Gang VII, Kelurahan Temas.

Untuk sampai di area makam, pengunjung harus melewati gang kecil menanjak selebar dua meter.

Lokasinya persis berada di ujung gang dalam sebuah pendapa kayu.

Makam Mbah Bener berada tepat di tengahnya.

Mbah Bener dimakamkan di samping istrinya.

Bangunan joglo itu baru direhabilitasi ulang dan diresmikan pada bulan Desember 2024 lalu.

”Mbah Bener adalah salah satu santri Pangeran Rojoyo yang disebarkan di seluruh wilayah Malang Raya,” terang Lurah Temas Adi Santoso.

Saat itu, sekitar tahun 1930an, ada 72 santri yang disebar untuk melakukan syiar.

Salah satunya ke Kelurahan Temas.

Di sana, selain Mbah Bener, ada sosok Mbah Syarifuddin atau Syarif Hidayatullah yang juga ditugaskan.

Mbah Bener memiliki nama lain sebagai Raden Mas Wiryo Kusumo atau Raden Singo Joyo.

Serta nama Jawa sebagai Harjo Suwito.

Nama Mbah Bener menjadi populer karena beliau sebagai sosok yang benar.

Mengandung makna benar secara ucapan maupun tindakan.

Di tarik ke belakang, kisah Mbah Bener tidak bisa lepas dari kekalahan perang prajurit dari Pangeran Diponegoro.

Saat itu, banyak yang diutus untuk mengembara ke arah timur Kerajaan Yogyakarta.

Salah satunya ke Kota Batu.

Salah satu sosok yang diutus itu yakni Pangeran Rojoyo, yang kini dimakamkan di Makam Mbah Mbatu.

Beliau memiliki beberapa pengikut, salah satunya Mbah Bener yang ikut menyebarkan agama Islam di wilayah Temas.

Di sana, Mbah Bener memilih hutan di dekat sungai Brantas yang berada di timur untuk dibuka menjadi desa.

Saat memasuki hutan yang menyerupai gunung kecil, Mbah Bener menemukan tanaman temu.

Sejenis lengkuas dan jahe yang mengeluarkan cahaya seperti emas.

Mbah Bener menyebutnya sebagai temu emas.

Selanjutnya, wilayah itu dikenal dengan nama Temas.

Wilayah Temas dulunya dikenal sebagai krajan yang berarti kerajaan.

Sebab, ada kerajaan kecil yang diduga berasal dari agama Hindu dan Buddha di sana.

Sehingga, banyak didapati beberapa situs purbakala atau cagar budaya.

Seperti Watu Arca Banteng, Watu Linggayoni dan Batu Lepek berukuran besar.

”Watu Linggayoni itu masih ada sekitar empat buah di Situs Mbah Bawuk,” cerita Adi.

Mulanya, ada banyak arca yang tersebar di wilayah Temas.

Namun, dihancurkan warga setempat karena dianggap berhala.

Sehingga, hanya beberapa saja yang selamat dan dirawat dalam Situs Mbah Bawuk itu.

”Kami juga meyakini bahwa Mbah Bener ini menyebarkan agama Islam di wilayah selatan Brantas. Sementara wilayah utara Brantas disebarkan oleh Pangeran Rojoyo,” tutur pria kelahiran 1984 itu.

Mbah Bener dianggap masyarakat Temas sebagai leluhur atau ulama yang berjasa besar membuka Kelurahan Temas.

Dalam menyebarkan agama Islam, Mbah Bener banyak menggunakan metode kesenian dan budaya.

Seperti menggunakan wayang atau gamelan.

Karena itu, sebagai rasa syukur kepada Allah SWT, setiap tahun masyarakat Temas selalu memperingati perjuangan Mbah Bener dengan cara melakukan selamatan desa.

”Termasuk kami juga rutin menggelar wayang kulit yang disisipi syiar agama Islam,” kata Adi.

Pagelaran wayang yang digelar juga tak biasa.

Sindennya wajib mengenakan kerudung.

Selain itu, biasanya juga digelar manakib, istighotsah, dan khataman Alquran.

Dalam selamatan desa juga wajib menyembelih kerbau.

Sebab, sebelum agama Islam masuk, dulunya di sana banyak terpengaruh agama Hindu.

Dalam agama Hindu, hewan sapi merupakan simbol keluhuran.

Kemudian diadaptasi menjadi kerbau. Kerbau yang disembelih kemudian dagingnya dibuat sate gapit kerbau.

Yang memiliki makna sesama manusia harus bergandengan erat menjadi satu kesatuan.

”Kemudian kepalanya kami tanam untuk menunjukkan filosofi memupuk bumi agar terlindung dari bahaya,” tegas dia.

Untuk mengenang perjuangan Mbah Bener dalam menyebarkan agama Islam di Kelurahan Temas, dibangunlah punden atau pendopo Makam Mbah Bener.

Warga setempat membangun punden tersebut dari dana swadaya. (*/by)

Editor : A. Nugroho
#kelurahan temas #Malang Raya #syiar islam #Sosok #Tokoh