Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Jejak Penyebaran Islam di Malang Raya (13) : Syiar Kyai Radiman Terhenti Racun dari Pasukan Belanda

Bayu Mulya Putra • Jumat, 14 Maret 2025 | 00:50 WIB

JUJUKAN PEZIARAH: Suratin menjadi juru kunci di area makam Kyai Radiman. Pria berusia 85 tahun itu adalah cucu dari Ki Banturono, salah satu putra Kyai Radiman (BIYAN MUDZAKY HANINDITO/RADAR MALANG).
JUJUKAN PEZIARAH: Suratin menjadi juru kunci di area makam Kyai Radiman. Pria berusia 85 tahun itu adalah cucu dari Ki Banturono, salah satu putra Kyai Radiman (BIYAN MUDZAKY HANINDITO/RADAR MALANG).

Ada peran Kyai Radiman dalam persebaran Islam di Malang Selatan. Lewat padepokannya, beliau mengajarkan ilmu-ilmu yang diturunkan dari Syekh Subakir. Salah satunya putranya yang bernama Ki Banturono menjadi inspirasi nama Kecamatan Bantur. - BIYAN MUDZAKY HANINDITO

RADAR MALANG - Kyai Radiman diabadikan sebagai salah satu nama jalan di Dusun Krajan, Desa Bantur, Kecamatan Bantur, Kabupaten Malang.

Letaknya berada di sisi barat Jalan Raya Gondanglegi-Balekambang.

Di jalan itu pula letak makam Kyai Radiman berada.

Posisi makamnya sedikit masuk ke dalam.

Setelah menemukan tanda bertuliskan makam Kyai Radiman, pengunjung harus masuk ke utara sejauh 150 meter.

Baca Juga: Jejak Penyebaran Islam di Malang Raya (2): Bangsawan Gowa Punya Kontribusi Besar di Ngantang

Makamnya berupa bangunan seperti langgar atau musala.

Kondisinya lebih sering sepi dan selalu terkunci.

Seperti saat disambangi Jawa Pos Radar Malang 5 Maret lalu.

Tidak ada aktivitas berarti di sana.

Untuk bisa masuk, harus menemui juru kunci makam bernama Suratin, 85.

Rumahnya berjarak sekitar 200 meter ke arah selatan makam.

”Biasanya saya ke sini kalau ada yang mau nyekar atau hanya menghidupkan lampu,” kata Suratin.

Di dalam bangunan itu ada dua makam.

Makam Kyai Radiman bersama istrinya, Nyai Nira. 

Sebelum masuk area makam, ada papan berisikan informasi terkait silsilah Kyai Radiman, atau yang memiliki nama asli Raden Radiman Mangkurat.

Beliau lahir di Mataram atau kini masuk di wilayah Kota Surakarta, Jawa Tengah pada 1627.

Dia adalah putra kedua dari pasangan Pangeran Yamatohir Mangkurat Raga Jatingarang Ngyogyakarto dan Siti Mutma’inah.

Dari pasangan tersebut, lahir pula Ki Ageng Gribig yang merupakan kakak Kyai Radiman.

Baca Juga: Jejak Penyebaran Islam di Malang Raya (3): Mbah Honggo Jadi Pengajar Ngaji Bupati Malang Pertama

Juga Raden Puspoyudo Mangkurat, adik Kyai Radiman.

”Kyai Radiman ini turunan kelima dari Prabu Brawijaya dari (Kerajaan) Majapahit,” imbuh Suratin.

Dari Kyai Radiman dan Nyai Nira, lahir 10 anak.

Salah satunya Ki Banturono, anak keempatnya yang kemudian dijadikan nama desa dan Kecamatan Bantur.

Sebelum berkelana ke Malang Selatan, pada 1720 Kyai Radiman menjadi lurah di Desa Sribit yang kini masuk dalam Kabupaten Sleman.

Sekaligus menjadi anggota prajurit Pangeran Diponegoro.

Meletusnya Perang Diponegoro pada 1825-1830 menjadi alasan Kyai Radiman berkelana ke tempat lain.

Beliau sempat menuju ke Gunung Geger, Kecamatan Pagak.

Dulu, gunung tersebut disebut Gunung Gendero.

Baru setelah itu melanjutkan ke Gunung Timbang, di dekat Pantai Nganteb, Kecamatan Bantur.

”Di sana itu beliau bersama anak buahnya mempertimbangkan bahwa di wilayah sekitar sana, di barisan pegunungan Kendeng Selatan, adalah tempat yang aman sampai beberapa tahun ke depan,” kata lansia yang merupakan cucu dari Ki Banturono tersebut.

Setelah memastikan aman, Radiman kembali ke Sribit untuk menjemput Nyai Nira dan dua anaknya.

Di tengah perjalanan, beliau ditangkap Belanda dan dipenjarakan di Kota Malang.

Namun itu tidak berlangsung lama.

Baca Juga: Jejak Penyebaran Islam di Malang Raya (4): Dibangun pada 1768, Ponpes Gading Ikut Melawan Belanda

Konon, karena kesaktian Kyai Radiman berupa menggandakan badan, beliau bisa keluar dari penjara.

Setelah itu, Kyai Radiman bersama keluarga dan anak buahnya berkelana ke arah timur Kota Malang.

Sempat singgah di Tajinan, lalu Duwet (Kecamatan Tumpang), lalu ke Bululawang.

Dari sana, melanjutkan perjalanan lagi ke selatan, sampai ke tepi Sungai Lesti di tempat yang kini menjadi wilayah Desa Wonokerto, Kecamatan Bantur.

Di sanalah, Kyai Radiman mulai membabat alas wilayah Kecamatan Bantur.

Dimulai dengan membabat hutan kelapa yang tumbuh lebat di sana.

Selama beberapa tahun, upaya tersebut gagal.

Sampai akhirnya Kyai Radiman bertapa di pulau Wisanggeni di Pantai Balekambang.

Barulah di sana mendapat wangsit berupa menumbalkan seekor kerbau albino atau kebo bule.

Setelah tersembelih, bagianbagian tubuhnya disebar ke berbagai tempat.

Khusus dagingnya, di Wonokerto.

Barulah pembabatan hutan kelapa berhasil.

Melanjutkan perjalanan, sekaligus menghindar dari pasukan Belanda, beliau mengarah ke selatan.

Sampai pada 1830 lahirlah Ki Banturono yang kemudian dijadikan nama desa di sana pada 1832.

Baca Juga: Jejak penyebaran Islam di Malang Raya (5): Hijrah dari Banten, Pangeran Fadluddin Menetap di Kasin

Di Bantur, beliau membangun rumah sekaligus padepokannya.

Berjarak sekitar 500 meter ke selatan makamnya.

Kisah Radiman berakhir sekitar tahun 1840.

Ketika itu, Belanda menangkap lagi Kyai Radiman dan membawanya ke sekitar Pantai Wonogoro.

”Di sana, beliau diberi makan buah semangka yang telah dibelah, satu sisi diracun satunya tidak. Yang diracun diberikan kepada beliau,” ujar Suratin.

Kyai Radiman tidak langsung wafat.

Dalam keadaan lemas, beliau sempat dibawa muridmuridnya ke rumahnya.

Di saat yang sama, ada seorang warga yang tengah menggali kubur.

Diduga itu dilakukan atas perintah prajurit Belanda. Lokasi itulah yang kini menjadi makam Kyai Radiman.

”Begitu lubang selesai digali, beliau langsung meninggal,” imbuh dia.

Suratin menyebut, pada masa itu Islam sudah berkembang.

Termasuk di wilayah Bantur yang saat itu masih sedikit penduduknya.

Namun, waktu itu lebih banyak warga yang beragama Hindu.

Kyai Radiman berkontribusi dalam mengenalkan Islam melalui kegiatan di padepokannya.

Baca Juga: Jejak Penyebaran Islam di Malang Raya (12) : Butuh Dua Hari Perjalanan untuk Makamkan Eyang Djoego

”Di padepokannya saat itu seperti pondok pesantren zaman dulu. Mengajarkan ilmu syariat, hakikat, dan ma’rifat. Menurunkan ilmunya yang berasal dari Syekh Subakir di Jawa Tengah,” imbuh dia.

Kepala Desa (Kades) Bantur Nanang Kosim menyebut bahwa warga di wilayahnya selalu mengenang peran beliau.

Setiap ada kegiatan bersih desa dan acara keagamaan lain, perangkat dan warga bakal berziarah ke makam Kyai Radiman.

”Termasuk selamatan warga, pasti kirim doa atau nyekar ke makam Kyai Radiman,” tandas dia. (*by)

Editor : A. Nugroho
#Sejarah Malang #sejarah islam #syiar islam #Jejak Sejarah #perjuangan ulama