Ada yang meyakini bahwa makam Syekh Abdul Jalil di dekat pertigaan Balekambang sebenarnya hanya petilasan. Ada pula yang meyakini bahwa Syekh Abdul Jalil adalah Syekh Siti Jenar. Yang pasti, beliau lah yang melakukan babat alas sekaligus menyebarkan Islam di wilayah Balekambang. - BIYAN MUDZAKY HANINDITO
RADAR MALANG - MAKAM Syekh Abdul Jalil berada di tepi Jalur Lintas Selatan (JLS) Kabupaten Malang.
Lokasinya hanya berjarak sekitar satu kilometer dari pertigaan Balekambang.
Ada papan penunjuk bertuliskan Makam Syeh Abdul Jalil dan Masjid Syeh Abdul Jalil.
Masjid di sana tergolong kecil, lebih mirip langgar di perkampungan.
Atapnya terdiri dari tiga tingkat, dengan kubah baja di puncaknya.
Makam Syekh Abdul Jalil berada di pojok sebelah selatan.
Baca Juga: Jejak Penyebaran Islam di Malang Raya (13) : Syiar Kyai Radiman Terhenti Racun dari Pasukan Belanda
Kawasan makam tersebut dikelilingi hutan kayu jati.
Area tersebut dijaga dan dipelihara oleh Sholeh, 80, sebagai juru kunci makam.
Dia tinggal di belakang masjid.
Meski kesehariannya menjaga dan membersihkan area keramat, Sholeh tidak banyak tahu tentang sosok Syekh Abdul Jalil.
Dalam beberapa referensi, Syekh Abdul Jalil selalu bersandingan dengan nama Syekh Abdul Jalal, yang makamnya ada di seberang sungai.
Masuk Desa Tumpakrejo, Kecamatan Gedangan.
”Beliau datang ke sini sekitar tahun 1800-an,” kata dia.
Kabarnya, Syekh Abdul Jalil merupakan salah satu pasukan Pangeran Diponegoro.
Beliau ke Malang untuk menghindari sergapan dari Belanda pada masa perang Jawa.
Sosok Syekh Abdul Jalil dikenal sebagai pasukan perang yang hebat, sekaligus taat beragama dan berkharisma.
Tidak disebut secara rinci tahun berapa Syekh Abdul Jalil datang ke kawasan Balekambang.
Yang pasti, banyak warga di sekitar sana yang meyakini bahwa beliau lah yang pertama kali membuka hutan di Balekambang.
Baca Juga: Jejak Penyebaran Islam di Malang Raya (12) : Butuh Dua Hari Perjalanan untuk Makamkan Eyang Djoego
”Dulu di sini hutan yang sangat lebat, beliau bersama banyak anak buahnya yang membuka hutan tersebut,” ucap Sholeh.
Sepengetahuan dia, Syekh Abdul Jalil juga tidak memiliki keluarga yang dibawa ke Balekambang.
”Hanya dia dan pasukannya saja. Tidak ada anak dan istri,” imbuhnya.
Sholeh tidak mengetahui kapan hari lahir dan meninggalnya Syekh Abdul Jalil.
Satu yang dipercaya dia yakni adalah Syekh Abdul Jalil masih dalam satu keluarga besar Walisongo.
Dia juga meyakini bahwa Syekh Abdul Jalil sebenarnya merupakan Syekh Siti Jenar.
Penyebar agama Islam yang kondang dengan ajaran manunggaling kawulo gusti.
Seperti banyak diketahui, Syekh Siti Jenar merupakan tokoh sufi di tanah Jawa pada abad ke-16.
Sosoknya dianggap kontroversial.
Beliau lahir di Cirebon sekitar tahun 1426 dengan nama kecil Sayyid Hasan Ali al-Husain.
Julukan untuk Syekh Siti Jenar memang banyak.
Ada yang menyebut Sunan Jepara, Syekh Lemah Abang, dan Sitibrit.
Saat dewasa, dia memiliki gelar Syekh Abdul Jalil atau Raden Abdul Jalil.
Gelar itu lah yang mungkin membuat Sholeh yakin bahwa Syekh Abdul Jalil adalah orang yang sama dengan Syekh Siti Jenar.
Dia bahkan berspekulasi kalau tempat yang dijadikan makam sekarang sebenarnya bukan tempat Syekh Abdul Jalil disemayamkan.
Baca Juga: Jejak Penyebaran Islam di Malang Raya (11): Tiang Penyangga Langgar Bungkuk Sudah Berusia 190 Tahun
”Ini bisa jadi hanya napak tilas,” ujar dia.
Salah satu sisi kontroversi Syekh Siti Jenar yakni menyamakan dirinya dengan Tuhan.
Itulah yang membuat dia dijatuhi hukuman mati.
Lokasi pasti makamnya memang masih menjadi perdebatan di kalangan sejarawan.
Keyakinan Sholeh bahwa makam Syekh Abdul Jalil hanya sebuah petilasan (tempat yang pernah disinggahi) juga diyakini Kepala Desa (Kades) Srigonco Didit Puji Leksono.
”Nama Syekh Abdul Jalil itu hanya alias saja, nama aslinya belum ada yang mengetahui. Yang di tepi Sungai Barek itu hanya petilasan,” kata dia.
Dia menyebut, bahwa makam tersebut adalah tempat bagi Syekh Abdul Jalil melakukan pertapaan sebelum atau saat melakukan babat alas.
Syekh Abdul Jalil disebut-sebut datang bersamaan dengan sekitar enam anak buah Pangeran Diponegoro lainnya pada 1828.
Tiga di antaranya yakni Kyai Radiman, Kyai Darso, Kyai Kertowito.
Terkait kabar bahwa Syekh Abdul Jalil merupakan nama lain dari Syeikh Siti Jenar, Didit berpendapat bahwa itu pernyataan yang tidak berdasar.
Sebab, masa hidup Syekh Siti Jenar dan tidak pernah lebih dari tahun 1517.
”Bukan beliaunya Syeikh Siti Jenar, tapi lebih ke beliaunya yang membawa ajaran manunggaling kawulo gusti dari Syekh Siti Jenar,” ucap Didit.
Saat berada di sekitar Pantai Balekambang, Syekh Abdul Jalil juga turut menyebarkan agama Islam.
Didit mengatakan, metode yang digunakan adalah pendekatan budaya.
Itu terlihat sampai sekarang di Dusun Sumberjambe, Desa Srigonco.
Termasuk di dalamnya Balekambang.
”Ketika berbicara dengan sesepuh di Sumberjambe, memang pendekatannya lebih ke Islam kejawen seperti Sunan Kalijaga. Pakai tembang, wayang, dan cerita rakyat,” ujar Didit.
Tapi, bukan karya Syekh Abdul Jalil sendiri yang disebar, melainkan hanya meneruskan karya-karya dari Sunan Kalijaga. (*/by)
Editor : A. Nugroho