Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Jejak Penyebaran Islam di Malang Raya (16): Kampung Kauman Jadi Tempat Berbaurnya Komunitas Muslim

Bayu Mulya Putra • Minggu, 16 Maret 2025 | 18:30 WIB

INDAHNYA PERBEDAAN: Jalan Merdeka Barat sudah menjadi simbol toleransi dan kerukunan antar-umat beragama sejak dulu.
INDAHNYA PERBEDAAN: Jalan Merdeka Barat sudah menjadi simbol toleransi dan kerukunan antar-umat beragama sejak dulu.

Undang-Undang Wilayah atau Wijkenstelsel yang diterbitkan Belanda pada 1914 tak banyak mengubah ciri khas Kampung Kauman. Selain menjadi tempat berbaurnya komunitas Muslim dari sejumlah wilayah, kampung itu juga menjadi simbol toleransi antarumat beragama.

NABILA AMELIA

Zaman dulu, Kampung Kauman termasuk dalam Dukuh Talun atau Kampung Talun.

Keterangannya tercantum dalam Prasasti Sengguruh.

Bukti lain diketahui dari penamaan sebagian Kampung Talun yang disebut Talunlor.

Dalam perkembangannya, Kampung Kauman akhirnya menjadi kawasan bukaan baru.

Masyarakatnya berasal dari berbagai latar belakang.

Salah satunya adalah komunitas Muslim.

Meski belum diketahui waktu awal keberadaan komunitas Muslim di Kampung Kauman, toleransi antarumat beragama sudah tercipta sejak lama.

Itu dibuktikan dengan keberadaan gereja yang dikenal dengan nama GPIB Imanuel Malang.

Dikutip dari buku Karakter Kawasan dan Arsitektur Kota Malang, GPIB Imanuel dibangun pada 1861.

Seiring dengan kebutuhan beribadah, komunitas Muslim di Kampung Kauman juga mulai membangun tempat ibadah.

Salah satunya adalah langgar.

Selanjutnya, pada 1890—era pemerintahan Bupati Malang Ketiga, Raden Ario Tumenggung III—dibangun Masjid Agung Jami’.

Masjid itu dibangun di tanah negara atau goepernemen.

Luas tanah yang digunakan untuk masjid yakni 3.000 meter persegi.

Memasuki tahun 1900-an, pola permukiman di Malang mengalami perubahan.

Itu terjadi pascapemberlakuan Undang-Undang Wilayah atau Wijkenstelsel yang diterbitkan Belanda pada 1914.

Sejak adanya Wijkenstelsel, pola permukiman didasarkan pada sebaran etnis.

Ada permukiman yang dihuni orang-orang Eropa seperti di kawasan Ijen, lalu permukiman etnis Tionghoa di Kampung Pecinan, hingga permukiman yang berisi komunitas Muslim.

Permukiman komunitas Muslim tersebar di beberapa kawasan, termasuk di Kampung Kauman.

Mulai dari Embong Arab, Kiduldalem, Gading Pesantren, hingga Gribig.

Meski demikian, Kampung Kauman tetap menjadi permukiman bercorak Islam yang lekat dengan toleransi.

Penamaan Kauman juga diambil dari kondisi di sana.

Menurut tulisan Pola Permukiman Kampung Kauman Kota Malang yang disusun Ekahayu Rakhmawati, Kauman berarti kampung orang beriman.

Makna lainnya, Kauman adalah kampung berisi pemuka agama atau masyarakat yang konsisten menegakkan syiar Islam.

Sebab, di sana juga menjadi tempat tinggal para pengurus masjid.

Dengan keberadaan masjid, penyebaran Islam di Kampung Kauman semakin berkembang kuat.

Aktivitas bernuansa keagamaan kerap dilakukan di sana, seperti tahlil, khataman Al-Qur’an, hingga terbangan.

Pola Kampung Kauman di Kota Malang berbeda dengan Kampung Kauman yang ada di Jawa Tengah.

Di Jawa Tengah, Kampung Kauman bercampur dengan abdi dalem karena posisinya berdekatan dengan kompleks keraton.

Budayawan Malang, Agung Harjaya Buana, menyebut Kampung Kauman di Malang memiliki percampuran budaya antara Muslim lokal dengan Muslim India-Pakistan. “Itu karena politik segregasi atau pemisahan yang diterapkan Belanda,” jelasnya.

Dalam perkembangan Islam, Kampung Kauman tidak hanya dihuni Muslim lokal.

Ada pula komunitas Muslim dari India-Pakistan dan Iran. Komunitas Muslim luar yang datang ke Malang kebanyakan merupakan pedagang.

Mereka datang secara bertahap mulai akhir abad ke-19.

“Karena sama-sama Islam, tentunya mereka memilih permukiman dengan latar belakang yang sama dan dekat masjid,” sebut Agung.

Percampuran antara komunitas Muslim lokal dengan Muslim dari luar terlihat di Kampung Kauman yang berada di belakang Masjid Agung Jami’.

Misalnya saja di wilayah RW 9 dan RW 10.

Sampai sekarang, masih ada sisa-sisa keturunan komunitas Muslim India-Pakistan yang tersisa di sekitar Kampung Kauman hingga Kajoetangan Heritage.

“Kalau saya perkirakan sekarang masih ada sekitar lima keluarga. Kebetulan saya juga mengenal salah satu di antara mereka,” tandas lelaki yang juga menjabat sebagai Kasubid Perencanaan Ekonomi dan Keuangan Bappeda Kota Malang tersebut. (/by)

Editor : Aditya Novrian
#komunitas muslim #Malang Raya #kampung kauman #Penyebaran Islam #jejak