Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

JEJAK PENYEBARAN ISLAM DI MALANG RAYA (18) : Masjid Agung An Nuur Diprakarsai Prajurit Diponegoro

Bayu Mulya Putra • Selasa, 18 Maret 2025 | 20:44 WIB

FAVORIT WISATAWAN: Masjid Agung An Nuur di seberang Alun-Alun Kota Batu dibangun dalam tiga periode sejak 1900-an (MOH. RIZAL / RADAR MALANG).
FAVORIT WISATAWAN: Masjid Agung An Nuur di seberang Alun-Alun Kota Batu dibangun dalam tiga periode sejak 1900-an (MOH. RIZAL / RADAR MALANG).

"Dibangun sebelum tahun 1900-an, Masjid Agung An Nuur terus bertransformasi. Sempat direnovasi besar-besaran pada 2006, kini luas bangunannya mencapai 4.000 meter persegi. Ada rencana pembangunan menara setinggi 99 meter." - MOH. RIZAL

RADAR MALANG - TIAP bulan Ramadan, pengurus Masjid Agung An Nuur di Jalan Gajah Mada, Kelurahan Sisir, Kecamatan Batu, Kota Batu selalu menyediakan menu buka puasa secara gratis.

Pada weekday, ada 500 sampai 600 porsi yang disediakan.

Sementara saat weekend, jumlahnya meningkat jadi 1.000 porsi. 

Agar jamaah tak bosan, menu buka puasa berganti setiap hari.

Kegiatan itu sudah berlangsung sejak 2015 lalu.

”Awalnya kami melihat banyak warga yang membawa bekal untuk berbuka di tempat wisata. Kemudian kami memutuskan mengadakan buka bersama,” kata H Muchlison, Bendahara Masjid Agung An Nuur.

Baca Juga: Jejak penyebaran Islam di Malang Raya (17): Ganjaran, Desa Santri dengan 22 Pondok Pesantren Aktif

Tahun lalu, total biaya yang dikeluarkan untuk menyediakan menu buka bersama itu mencapai Rp 270 juta.

Nominal itu bisa terpenuhi karena ada sumbangan dari masyarakat.

Ketua Takmir Masjid Agung An Nuur Batu H Muhammad Agus Salim menyebut bahwa kegiatan itu menjadi salah satu sarana bersyukur.

Sebab, masjid itu sudah ada sebelum tahun 1900-an.

Konon, setelah selesainya perang Diponegoro, sebagian prajurit bergerak ke arah timur untuk melakukan syiar Islam.

Salah satu wilayah yang menjadi jujukannya yakni Kota Batu.

Sepengetahuan Agus, tokoh yang bernama Zakariya lah yang pertama berinisiatif membangun masjid di Kota Batu.

Konon, Zakariya merupakan prajurit dari Pangeran Diponegoro.

Lokasi pertama yang menjadi jujukannya yakni Jalan Lahor, Dusun Macari, Desa Pesanggrahan Kecamatan Batu.

Di sana, dibangun Masjid Al Mukhlisin.

”Setelah berjalannya waktu, beliau meminta adik iparnya yang dikenal sebagai Mbah Suro untuk membangun masjid di sini. Istilahnya seperti babat alas lah,” ujarnya saat ditemui di Masjid Agung An Nuur.

Pembangunan Masjid Agung An Nuur dibagi menjadi tiga periode.

Baca Juga: Jejak Penyebaran Islam di Malang Raya (16): Kampung Kauman Jadi Tempat Berbaurnya Komunitas Muslim

Pada periode awal sebelum tahun 1942, bentuk fisik masjid masih berupa bangunan wuwung siji atau beratap tunggal tanpa menara.

Dilengkapi dengan tempat wudhu berupa kolam.

Airnya berasal dari sungai yang ada di sebelah masjid.

Area di sekitarnya berupa tanah kosong yang ditanami bunga matahari dan tanaman ubi-ubian.

Lalu ada periode renovasi yang dilakukan antara tahun 1942 sampai 1970.

Salah satu dilakukan dengan menambahkan menara.

Renovasi itu diprakarsai oleh Hj Khadijah yang memberi mandat kepada putranya (H. Abdurrahman).

Hj. Khadijah menghimpun dana dari beberapa dermawan untuk membeli tanah di sekitar masjid.

Itu dilakukan untuk memperluas masjid.

Pada periode ketiga dari tahun 1970 sampai sekarang, tata kelola masjid menjadi lebih rapi.

Pada 1973 mulai dibentuk pengurus takmir masjid.

Seiring berjalannya waktu, jamaah semakin bertambah dan masjid tak mampu menampungnya.

Bangunan masjid kemudian dirombak total pada 2006.

Tepatnya ada masa pemerintahan Imam Kabul, Wali Kota Batu pertama.

Baca Juga: Jejak Penyebaran Islam di Malang Raya (15): Berawal dari Langgar, Masjid Agung Jami Dibangun Dua Tahap

”Arsitekturnya orang yang membangun Masjid Sabilillah, Blimbing. Karena itu desainnya hampir mirip,” jelasnya.

Kini total luas bangunan masjid sekitar 4.000 meter persegi.

Sejak awal berdiri, masjid tersebut terus memberikan dampak sosial.

Ada 150 warga penerima santunan berupa uang dan sembako setiap bulannya.

Penyaluran santunan itu diperoleh dari kotak sedekah para jamaah.

Masjid An Nuur sendiri membuat dua jenis kotak amal.

Satu untuk operasional masjid, sementara satunya untuk infak dan sedekah.

Kehadiran masjid yang berlokasi di seberang Alun-Alun Kota Batu itu juga membawa manfaat bagi wisatawan.

Banyak dari mereka yang juga memilih memarkirkan kendaraannya di halaman masjid.

Lantaran dinilai lebih aman dan lebih dekat untuk menunaikan ibadah salat.

Dengan keberagaman pengunjung di Kota Batu, pihak masjid juga tak terlalu kaku terkait aturan.

Sehingga itu juga membuat wisatawan merasa nyaman.

Baca Juga: JEJAK PENYEBARAN ISLAM DI MALANG RAYA (14) : Makam Syekh Abdul Jalil Diyakini Hanya Sebuah Petilasan

”Yang penting berpakaian sopan saja,” kata Agus.

Pihaknya juga menyediakan kain penutup untuk diberikan kepada wisatawan yang berpakaian terlalu pendek.

Ke depan, takmir ingin membangun sebuah menara masjid, yang bisa menjadi ikon baru dan bisa dinaiki untuk melihat panorama wisata di Kota Batu.

Rencananya, menara itu bakal memiliki ketinggian sekitar 99 meter. (*/by)

Editor : A. Nugroho
#Kota Batu #sejarah islam #wisata religi #Ramadan #Masjid Agung An Nur