Selain aktif mengajar lewat Pendidikan dan Perguruan Agama Islam (PPAI), KH Mohammad Said juga ikut berperan melawan penjajah. Beliau turut menggembleng Laskar Hizbullah dan Sabilillah. Pondok pesantrennya sempat berpindah-pindah tempat. - INDAH MEI YUNITA
RADAR MALANG - Pondok Pesantren (Ponpes) Pendidikan dan Perguruan Agama Islam (PPAI) Ketapang disebut-sebut menjadi salah satu lembaga pendidikan salafiyah yang besar di Malang selatan.
Letaknya di Desa Sukoraharjo, Kecamatan Kepanjen.
Selain Malang Raya, santri-santri di sana juga berasal dari berbagai macam daerah di Indonesia.
Seperti Riau, Sumatera, Kalimantan, dan lain-lain.
Cikal bakal berdirinya ponpes PPAI Ketapang itu berawal dari KH Mohammad Said yang mendirikan ponpes di Dusun Sonotengah, Desa Kebonagung, Kecamatan Pakisaji pada 1931.
Baca Juga: Jejak Penyebaran Islam di Malang Raya (20): Embong Arab Jadi Penanda Dakwah Warga Yaman
Selain sebagai pengasuh di ponpes, pria kelahiran Jerman itu juga berperan dalam memperjuangkan kemerdekaan.
Sebelum ada ponpes, masyarakat pada masa itu masih awam dengan ajaran Islam.
Terlebih, saat itu Indonesia masih berada pada masa penjajahan.
Begitu ponpes didirikan, masyarakat setempat menyambut baik.
Mereka mulai mempelajari ajaran-ajaran agama Islam.
Selain mempelajari ajaran Islam, KH Mohammad Said juga ikut menggembleng laskar-laskar perjuangan untuk melawan Belanda dan sekutunya.
Seperti Laskar Hizbullah, yang menjadi representasi kekuatan politik Islam perkotaan.
Serta Laskar Sabilillah yang merepresentasikan kekuatan Islam di pedesaan.
”Beliau juga memberikan kekuatan kepada tentara Indonesia, sehingga bisa berani menghadapi penjajah,” terang Pengasuh PPAI Ketapang KH Ahmad Masduki saat ditemui Rabu lalu (19/3).
Pada 1948, serangan dari Belanda kembali dilancarkan.
Peristiwa itu disebut agresi militer II.
PPAI Ketapang sempat berpindah ke wilayah Malang bagian lebih selatan lagi.
”Karena ada gangguan dari penjajah Belanda, mungkin jadinya tidak nyaman. Kemudian, beliau pindah ke Dusun Karangsari, Desa Wonokerto, Kecamatan Bantur,” tambahnya.
Baca Juga: Jejak Penyebaran Islam di Malang Raya (19) : Syiar Mbah Mail lewat Lembaga Pendidikan Terus Berjalan
Tidak lama berdiri di Karangsari, Moh. Said kembali memindahkan ponpesnya ke Kelurahan Panarukan, Kecamatan Kepanjen.
”Mungkin menurut salat istikharah beliau lokasinya tidak cocok, terus pindah lagi ke Ketapang ini. Jadi, berdirinya PPAI Ketapang ini sekitar 1949,” imbuhnya.
Saat itu, bangunannya masih sederhana.
Dindingnya dari anyaman bambu dan kerangkanya masih dari kayu.
Hanya ada beberapa rumah panggung yang dimanfaatkan sebagai penginapan santri.
Untuk belajar ilmu agama, didirikan masjid di lingkungan ponpes tersebut.
Santrinya saat itu tidak banyak.
Hanya puluhan orang.
Namun, nama Moh. Said sebagai pemuka agama cukup dikenal.
Bahkan, saat pengajian, orang dari luar Kepanjen, seperti Ngajum tidak ingin ketinggalan.
”Mbah Kiai Said memang orang salaf (klasik). Jadi beliau kalau mengajar itu tidak mau menggunakan pengeras suara,” ucap menantu cicit Moh. Said itu.
Namun, karena sudah dikenal sebagai pemuka agama yang karismatik, tetap banyak orang yang mengunjungi pengajiannya.
Materi yang diberikan bermacam-macam.
Mulai dari ilmu fikih hingga Alquran.
Durasi pengajiannya umumnya sebentar.
Sekitar 30 menit.
Baca Juga: JEJAK PENYEBARAN ISLAM DI MALANG RAYA (18) : Masjid Agung An Nuur Diprakarsai Prajurit Diponegoro
”Penyampaiannya langsung ke intinya. Namun, setiap dawuh-dawuh-nya itu masuk ke hati pendengarnya. Bahkan bisa selalu diingat. Itu salah satu karomah (kemuliaan) beliau,” kata pria yang juga mengajar di PPAI Ketapang itu.
Ulama yang lahir di Tongan, Kota Malang pada 1901 itu juga pejuang Jam’iyah Nahdlatul Ulama (NU) dan pernah menjabat sebagai Rais Syuriah PCNU Malang.
”Beliau juga pernah dipercaya menjadi delegasi alim ulama Indonesia ke Uni Soviet,” imbuhnya.
Pada era pemerintahan Presiden Soekarno tahun 1956, tim tersebut melakukan safari dakwah dan diplomasi budaya ke berbagai negara.
Termasuk ke Pakistan dan Uni Soviet.
”Mbah Kiai Said memang bukan orang biasa. Beliau lahir dari keluarga kaya, dan juga orang yang cerdas. Saking cerdasnya, beliau bisa menghafal juz amma dalam satu pekan. Beliau juga menguasai sekitar delapan bahasa,” ujar Duki.
Karena kecerdasannya, dia dipercaya banyak orang.
Pengikutnya tidak hanya dari Jawa, tetapi juga berbagai daerah di Indonesia.
Karena itu, banyak orang tua yang menitipkan putraputrinya di PPAI Ketapang.
Sampai saat ini PPAI Ketapang semakin berkembang.
Baca Juga: Jejak penyebaran Islam di Malang Raya (17): Ganjaran, Desa Santri dengan 22 Pondok Pesantren Aktif
Sudah ada sekitar 900 santri yang menuntut ilmu di sana.
Mereka mempelajari berbagai macam bidang ilmu agama Islam.
Meskipun sudah berkembang pesat, metode pengajaran salafiyah masih diterapkan. (*/by)
Editor : A. Nugroho