Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Jejak penyebaran Islam di Malang Raya (23): KH Masduqi Berperan Mengubah Stigma Negatif Mergosono

Bayu Mulya Putra • Sabtu, 22 Maret 2025 | 19:25 WIB
LANJUTKAN DAKWAH: Pengasuh PPSS Nurul Huda Kyai Syihabuddin menunjukkan akses masuk ke pondok pesantren.  Pembangunan dimulai tahun 1965. (ANDIKA SATRIA PERDANA/RADAR MALANG)
LANJUTKAN DAKWAH: Pengasuh PPSS Nurul Huda Kyai Syihabuddin menunjukkan akses masuk ke pondok pesantren. Pembangunan dimulai tahun 1965. (ANDIKA SATRIA PERDANA/RADAR MALANG)

Dari gang kecil di Mergosono, KH Achmad Masduqi Mahfudz pelan-pelan merubah image kampung tersebut. Upaya beliau dimulai pada 1960-an, hingga akhirnya berdiri pondok pesantren di area permukiman warga.

ANDIKA SATRIA PERDANA

PONDOK Pesantren Salafiyah Syafii’yah (PPSS) Nurul Huda berlokasi di area perkampungan.

Tepatnya di Jalan Kolonel Sugiono, Kelurahan Mergosono, Kedungkandang.

Meski harus melewati gang kecil untuk menjang kaunya, bangunan ponpes itu cukup luas.

Baca Juga: Menelusuri Jejak Reformasi: 4 Rekomendasi Novel yang Mengangkat Peristiwa 1998

Saat ini, luas bangunannya mencapai 1.000 meter persegi.

Pembangunannya bermula pada 1965, saat KH Masduqi mengontrak rumah kecil di Gang III B.

Saat itu, beliau juga menjadi pengajar di Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim (Maliki) Malang, atau yang dulu bernama IAIN Malang.

Baca Juga: Jejak Penyebaran Islam di Malang Raya (21) : KH Moh. Said Ikut Menggembleng Dua Laskar

Selain sebagai dosen, KH Masduqi juga memberikan tambahan pelajaran kepada mahasiswa.

Utamanya terkait kitab kuning.

Dulu di UIN Malang, mahasiswa wajib memahami kitab kuning sebagai salah satu standar kelulusan.

Itu menjadi tantangan tersendiri bagi mahasiswa yang tidak memiliki latar belakang pesantren.

Karena itu, sejumlah mahasiswa dari KH Masduqi memilih mondok di rumah kecil tersebut.

”Santri di sini dulu mahasiswa UIN Malang itu. Karena tempatnya masih terbatas, mereka tidurnya di rumah tetangga,” ujar Pengasuh PPSS Nurul Huda Kyai Syihabuddin.

Baca Juga: Jejak Penyebaran Islam di Malang Raya (20): Embong Arab Jadi Penanda Dakwah Warga Yaman

Pernah pada tahun yang sama, KH Masduqi sempat terancam pindah dari gang kecil itu.

Itu karena pemilik rumah hendak menjual aset bangunannya.

Namun, ada seseorang yang membantu KH Masduqi dengan membeli rumah tersebut.

Baca Juga: Jejak Penyebaran Islam di Malang Raya (19) : Syiar Mbah Mail lewat Lembaga Pendidikan Terus Berjalan

Dan, akhirnya memberikannya kepada penceramah kelahiran Jepara itu secara cuma-cuma.

Itu merupakan awal dari serangkaian tantangan yang dihadapi pendakwah yang wafat pada 2014 lalu.

Pada 1965 juga masih ada isu antara PKI dan kyai.

Baca Juga: JEJAK PENYEBARAN ISLAM DI MALANG RAYA (18) : Masjid Agung An Nuur Diprakarsai Prajurit Diponegoro

Syiha buddin bercerita, KH Masduqi pernah mendapat ancaman pembunuhan oleh warga di sekitar daerah tersebut.

Sebab, dulu wilayah Mergosono bukan daerah yang memiliki tradisi Islam kuat.

”Tahun 1960an musala itu bisa dihitung jari. Pernah saat adzan di masjid kami, ada yang melempari batu,” terang menantu dari anak kedelapan KH Masduqi tersebut.

Cobaan tersebut sempat menggoyahkan hati KH Masduqi.

Beliau sempat berkeinginan pindah ke tempat yang lebih memadai.

Tidak berada di gang sempit.

Baca Juga: Jejak penyebaran Islam di Malang Raya (17): Ganjaran, Desa Santri dengan 22 Pondok Pesantren Aktif

”Kalau orang yang menawarkan di tempat lain dulu ada. Banyak lah yang bisa membantu pindah,” imbuhnya.

Namun, KH Masduqi akhirnya mendapat perintah dari KH Oesman Mansur yang merupakan pendiri Universitas Negeri Malang (Unisma).

KH Masduqi diminta tidak pindah dari Mergosono.

Baca Juga: Jejak Penyebaran Islam di Malang Raya (16): Kampung Kauman Jadi Tempat Berbaurnya Komunitas Muslim

Sebab, jika ulama itu pindah, situasi kampung tersebut tidak akan pernah berubah.

”Kata Kyai Oesman, kalau bukan kamu Masduqi, tidak ada yang kuat dakwah di Mergosono itu,” kata Syiha buddin mengisahkan.

Mergosono dulunya identik dengan kampung kriminal.

Baca Juga: Jejak Penyebaran Islam di Malang Raya (15): Berawal dari Langgar, Masjid Agung Jami Dibangun Dua Tahap

Syihabuddin bercerita, ketika ada kasus kemalingan atau kecopetan, selalu yang dicari di wilayah Mergosono.

Selain itu, pemuda di Mergosono juga sering sekali tawuran dengan daerah yang berdekatan.

Seperti dari Kudusan, Kidul Pasar, Kota Lama.

Medio tahun 1990an akhir, perilaku warga Mergosono mulai berubah ke arah yang lebih positif.

Itu karena ada satu strategi yang dilakukan KH Masduqi.

Yaitu memper banyak Taman Pendidikan Alquran (TPQ).

Baca Juga: JEJAK PENYEBARAN ISLAM DI MALANG RAYA (14) : Makam Syekh Abdul Jalil Diyakini Hanya Sebuah Petilasan

”Ketika anak-anak mereka rajin mengaji. Tentu orang tua malu, akhirnya sedikit demi sedikit dekat dengan agama,” kata pria kelahiran Gresik itu.

KH Masduqi juga pernah diundang ceramah oleh pimpinan gangster di wilayah Mergosono tersebut.

Dengan perubahan itu, kini Mergosono tidak lagi menjadi zona merah.

Baca Juga: Jejak Penyebaran Islam di Malang Raya (13) : Syiar Kyai Radiman Terhenti Racun dari Pasukan Belanda

Selayaknya kampung biasa yang nyaman ditinggali maupun aman untuk siapa saja.

Terkait perkembangan pondok, PPSS Nurul Huda melakukan pembangunan secara bertahap.

Bergantung rumah tetangga yang dijual dan ketersediaan dana dari pengurus pondok.

Baca Juga: Jejak Penyebaran Islam di Malang Raya (12) : Butuh Dua Hari Perjalanan untuk Makamkan Eyang Djoego

Jika digambarkan, bangunan ponpes itu tidak menjadi satu.

Ada yang berjarak tiga sampai empat rumah dari bangunan utama.

”Kami tidak pernah memaksa tetangga menjual rumah mereka. Kalau mau dijual dan harganya cocok baru dibeli,” papar Syihabuddin.

Bahkan ada satu tetangga yang dulunya merupakan warga Tionghoa.

KH Masduqi juga tidak pernah meminta mereka menjual aset nya.

Namun orang itu dengan kesadaran diri akhir nya menjual asetnya.

”Abah selalu berpesan, tetangga itu harus dihormati, meskipun agamanya berbeda. Terbuka orang Tionghoa itu betah meskipun rumahnya berdekatan dengan pondok,” pungkasnya. (*/by)

Editor : A. Nugroho
#jejak penyebaran ajaran Islam #Sosok #mergosono #Kota Malang #ppss