Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Dhian Zhafarina sebagai Penulis Buku Anak : Sering Mengangkat Cerita Sedih, Selektif Pilih Diksi

Bayu Mulya Putra • Senin, 28 April 2025 | 20:40 WIB

PANTANG BERDIAM DIRI: Dhian Zhafarina menunjukkan buku karyanya yang berjudul ”Ke Mana Rambut Ibu?” (Dhian Zhafarina for Radar Malang).
PANTANG BERDIAM DIRI: Dhian Zhafarina menunjukkan buku karyanya yang berjudul ”Ke Mana Rambut Ibu?” (Dhian Zhafarina for Radar Malang).

"Menjadi ibu rumah tangga tidak menjadi penghalang bagi Dhian Zhafarina untuk terus berkarya. Dia banyak dikenal sebagai reviewer dan penulis buku anak. Dhian juga aktif menebar kemanfaatan lewat aksi sosialnya dalam literasi anak." - DUROTUL KARIMAH

RADAR MALANG - Belum banyak buku anak yang membawa tema kesedihan, kehilangan, atau tentang anak yang dibesarkan oleh orang tua tunggal.

Celah itu mendorong Dhian Zhafarina menulis buku berjudul ”Ke mana Rambut Ibu?”.

Buku yang memiliki 36 halaman tersebut diterbitkan penerbit Dar! Mizan.

Buku itu lahir dari pengalaman Dhian sendiri.

Pada suatu malam, saat susah tidur karena rasa rindu kepada ibunya yang telah meninggal saat dia masih SMP, Dhian membuka laptop dan mulai menulis.

Baca Juga: Merayakan Hari Buku Sedunia, Ini 5 Novel Karya Anak Bangsa yang Mendunia

”Akhirnya saya mencoba menulis apa yang saya rasakan,” tutur wanita kelahiran 1993 tersebut.

Dhian menulis naskah ”Ke mana Rambut Ibu?” dalam dua pekan.

Dia mengemas cerita rasa rindu kepada ibunya tanpa menyebutkan penyakit apa dan kata-kata seperti ’meninggal’.

Itu agar menjaga narasi tetap halus dan tidak menimbulkan trauma bagi anak-anak.

Dhian menceritakan, ibunya yang sakit dan harus menjalani pengobatan dengan risiko rambut yang rontok hingga habis.

Setelah merasa yakin dengan naskahnya, Dhian mengirimkan karya tersebut ke Dar! Mizan melalui e-mail.

Tak butuh waktu lama, dalam waktu sekitar dua bulan, editor memberikan kabar baik bahwa bukunya diterima tanpa banyak revisi.

”Sedikit saja yang diubah. Tidak ada revisi besar, sampai akhirnya masuk proses ilustrasi dan siap launching,” kata dia.

Melalui buku itu, Dhian ingin menyampaikan bahwa keluarga tidak selalu sempurna seperti sebuah dongeng.

Kehilangan, kesedihan, dan rasa rindu adalah bagian dari kehidupan yang sebaiknya dikenalkan sejak dini.

Namun, tetap harus menggunakan bahasa yang aman dan mendukung.

”Buku ini bertujuan untuk membangun empati anak-anak. Mereka perlu tahu bahwa tidak apa-apa merasa sedih,” ungkap lulusan Sastra Inggris Universitas Brawijaya (UB) tersebut.

Ketika dibacakan kepada anak-anak, reaksi yang muncul sangat beragam.

Baca Juga: Serunya Bedah Buku dan Diaspora Mitrekasatata dalam HUT Ke-75 SMAN 1 Malang

Ada yang menangis, ada pula yang bertanya polos.

Dari situ, muncul ruang diskusi antara anak dan orang tua tentang perasaan kehilangan, dan cinta.

”Banyak orang tua yang memberi testimoni, bahwa mereka merasa nostalgia membaca buku ini,” kata Dhian.

Tak berhenti di satu karya, pada awal 2025 buku kedua Dhian terbit.

Dia masih mengangkat tema emosi yang jarang disentuh dalam buku anak.

Buku tersebut berjudul ’10 Cerita Seru Mengenal Emosi’ yang diterbitkan Bentang Pustaka.

Sebelum menjadi penulis buku anak, Dhian aktif di dunia literasi melalui akun Instagram @alicialibrary.

Di sana dia rutin mengulas buku anak sejak 2022.

Awalnya, dia hanya ingin mendokumentasikan bacaan untuk anaknya.

Itu dilakukan setelah resign dari pekerjaannya sebagai pengajar Bahasa Inggris di sebuah lembaga kursus di Surabaya.

”Saya lihat di rumah banyak sekali buku anak. Kenapa tidak sekalian saya review saja?,” kata perempuan yang saat ini tinggal di Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang tersebut.

Seiring waktu, akun @alicialibrary mulai berkembang.

Dhian mulai diajak bekerja sama berbagai penerbit dan membuat konten literasi anak.

Baca Juga: Ini Kafe Khusus Buat yang Hobi Baca Buku! 5 Spot Kafe Super Cozy di Kota Malang yang Punya Banyak Stok Buku

Hingga kini, sudah ada sekitar 152 buku anak yang dia ulas.

Awalnya, konten di akunnya masih bercampur dengan tema keluarga.

Namun akhirnya dia fokus penuh pada ulasan buku anak.

Sebagai ibu rumah tangga, Dhian tidak memiliki jadwal khusus untuk menulis atau membuat konten.

Dia memanfaatkan waktu luang setelah mengurus rumah dan anak.

Kadang, dia mengajak anak dan suaminya ke kafe untuk sekadar mencari suasana baru.

”Biasanya malam setelah anak tidur atau Subuh sebelum anak bangun, saya mengerjakan konten atau menulis,” kata dia.

Sudah ada sekitar 4.000 lebih follower di akun Instagram tersebut.

Pengikutnya tidak hanya orang Indonesia.

Beberapa juga dari luar negeri karena Dhian juga mengulas buku anak berbahasa Inggris.

Selain memudahkannya dalam menulis buku anak, ketekunan Dhian dalam mengulas buku anak membuat dia beberapa kali diundang sebagai pemateri.

Terakhir, dia menjadi pemateri di sebuah sekolah dasar di Kalimantan.

Tujuannya untuk membahas tentang bagaimana mengulas buku anak dengan tepat.

Menurut Dhian, kunci dalam mengulas buku adalah keaslian dan kejujuran.

”Autentisitas itu penting. Pembukaan ulasan juga harus diperhatikan, jangan hanya sekadar mengambil sinopsis lalu menambahkan klaim seperti ’buku ini enak dibaca’,” jelasnya.

Dalam setiap ulasan, dia menekankan pentingnya membuat pembuka yang kuat.

Baca Juga: Dr dr Syifa Mustika SpPD KGEH FINASIM Luncurkan Buku 172 Halaman Rangkum Tips Puasa Sehat

Bisa berupa pertanyaan menarik atau potongan cerita.

Dia juga tidak ragu menyampaikan kekurangan sebuah buku.

”Tujuannya bukan ajakan membeli buku. Tapi mengajak anak-anak dan orang tua lebih suka membaca,” kata dia.

Selain mengulas, Dhian juga aktif mengikuti lomba-lomba review buku, yang membantunya terus mengasah kemampuan menulis secara otodidak.

Kini, Dhian sudah bekerja sama dengan lebih dari 10 penerbit.

Baik penerbit indie maupun penerbit besar untuk menjadi pembaca pertama atau me-review buku-buku baru.

Saat ini dia masih belum memiliki rencana menulis buku lagi.

Dhian masih fokus menjalankan proyek sosial yang dibentuk sejak 2020.

Yaitu bagi buku anak.

Program itu fokus menyalurkan buku anak secara gratis ke sekolah-sekolah.

Sumbernya dari dana pribadi atau donasi teman-temannya.

Tak hanya itu, Dhian juga membentuk Story Time Beauty.

Sebuah book club online berbahasa Inggris khusus ibu-ibu pencinta literasi dari berbagai kota di Indonesia.

Baca Juga: Perpusda Punya Banyak Koleksi Buku Fiksi

Setiap dua kali dalam satu bulan, mereka bertemu secara online untuk berbagi cerita dan meningkatkan rasa percaya diri dalam berbahasa Inggris.

Komunitas tersebut sudah memiliki 29 anggota aktif.

Bagi Dhian, menjadi ibu rumah tangga bukan alasan untuk berhenti berkarya.

Dia berpesan agar para ibu berani fokus pada minat, proaktif mencari komunitas, dan tidak hanya berpikir tanpa bertindak.

”Kalau tidak ada komunitas, buatlah sendiri. Punya minat dan bakat, untuk sosial atau untuk mendapatkan penghasilan dari rumah, semua harus dikerahkan. Tidak cukup hanya diam di rumah, harus aktif dan berdaya,” papar dia. (*/by)

 

 

Editor : A. Nugroho
#penulis buku #buku anak #emosi anak #Karya #literasi anak #ibu rumah tangga (IRT)