Jejak Mahendra Yanto, TNI AL yang Menyabet Juara Internasional Dayung
Termotivasi untuk Mengangkat Ekonomi Keluarga
Pertemuan Sertu Mahendra Yanto dengan Cabor Dayung Rowing terbilang tak biasa. Berawal dari keterpaksaan mengikuti pelatihan atas perintah gurunya, kemudian sukses meraih juara hingga tingkat internasional. Kini berdinas di TNI-AL.
MA. FAUZAN AL RIYADH PANJAITAN
MULANYA, dayung bukan olahraga familiar di telinga Sertu Mahendra Yanto. Semasa kecil, dia mengenalnya sebagai alat transportasi saja. Maklum, di tanah kelahirannya Makassar, olahraga identik dengan sepak bola dan voli.
Namun semua itu berubah saat memasuki bangku SMP. Di SMPN 24 Makassar, Mahendra remaja disuruh mengikuti Pusat Pendidikan dan Latihan Pelajar (PPLP) untuk cabang olahraga (cabor) dayung. Meski berangkat dengan dasar keterpaksaan, usaha Mahendra mengikuti pelatih mendapat perhatian khusus.
Kala itu, kondisi keluarganya hidup serba pas-pasan. Ayahnya merupakan seorang nelayan, sedangkan ibunya menjadi ibu rumah tangga. Tekadnya untuk mengangkat kehidupan keluarga melalui jalur atlet mendorongnya berlatih lebih keras daripada peserta lain.
Pria kelahiran 27 Desember 1994 itu pun terpilih menjadi salah satu atlet yang mewakili Makassar. Dari situ, kiprahnya sebagai atlet dayung mulai naik. Pada 2009, Mahendra muda berhasil membawa pulang medali emas di Kejuaraan Nasional (Kejurnas) PPLP Dayung.
Prestasi itu mengantarkan atlet 30 tahun itu ke Pekan Olahraga Pelajar Nasional (POPNAS) di Jogjakarta pada 2010. “Setelah PON 2010 dan 2012 saya ditarik ke tim Jawa Timur,” ujar alumnus SMAN 11 Makassar itu.
Perpindahan itu rupanya malah membukakan jalannya ke tingkat yang lebih tinggi. Apalagi sejumlah pelatih asal Kabupaten Malang memberikan pelatihan dayung ekstra kepadanya.
Seusai meraih tiga medali di Kejurnas 2014, Mahendra dipanggil Pelatnas Dayung untuk mengikuti pelatihan selama dua bulan. Setahun kemudian, tepatnya pada 2015 dia mengikuti kejuaraan internasional di Singapura.
Itu sekaligus menjadi kejuaraan internasional pertama yang diikuti Mahendra.
Meski sudah berpengalaman menyabet juara nasional, Mahendra merasakan tekanan lebih berat di level internasional.
Apalagi dia tergolong paling junior di antara atlet dari negara lain, yakni 20 tahun. Awalnya sempat tertinggal, namun berjuang sekuat tenaga sehingga bisa mengejar perahu lain.
Hasil itu membuatnya mendapat medali emas pertama di kompetisi internasional pertama.
“Pengalaman pertama (meraih medali di Sea Games) itu benar-benar tidak terlupakan,” kenang ayah satu anak itu.
Dari situ keran medali untuknya di kancah internasional semakin lancar. Tidak hanya satu medali emas yang diraih di ajang Sea Games, melainkan tiga medali. Pada Sea Games 2019, 2021, dan XXXI.
Tidak Cuma itu, diri pria yang kini berdinas di Denpom Lanal Malang ini juga pernah mendulang medali emas di nomor Lightweight Man Four dalam kejuaraan Ghent Spring Rowing Regatta 2022 di Belgia.
Selain itu, Mahendra juga punya rencana lain untuk menjamin masa depannya. Usai meraih SEA Games 2015, dirinya mendaftar di Angkatan Laut melalui jalur reguler pada tahun itu. Upayanya itu membuahkan hasil. Dia diterima menjadi bintara.
Kiprahnya sebagai atlet sempat terhenti 11 bulan.
Baru kemudian pada 2016, dirinya dipanggil Kontingen Jawa Timur untuk menyambut PON 2016.
Meski sudah menjadi tentara Angkatan Laut, Mahendra tetap bisa berlatih dan mewakili kontingen Jawa Timur dan Indonesia apabila sedang mengikuti kejuaraan.
Menjadi Pelatih Dayung untuk Popnas Jawa Timur
Ketika memasuki usia 30 tahun pada akhir 2024 lalu, Mahendra memutuskan pensiun. Keputusannya itu beralasan. Dirinya ingin bisa fokus bersama keluarga.
Mulanya, dirinya tidak ada keinginan untuk menjadi pelatih, sementara vakum dahulu di dunia dayung. Namun karena mendapatkan undangan untuk melatih sekaligus melakukan sertifikasi pelatihan dari Federasi Dayung Jawa Timur, dia pun tak bisa menolak. Setelah itu, Mahendra ditunjuk menjadi pelatih di POPNAS 2025, mewakili Jawa Timur.
“Pengalaman pertama saya sangat berbeda karena dulu sudah disediakan sekarang harus mempersiapkan semuanya,” kata Mahendra yang ini menjadi anggota TNI AL tersebut.
Berbekal pengalamannya sebagai atlet, Mahendra fokus memberikan pelatihan kepada ketiga anak asuhnya itu.
Beruntung, perjalanan perdananya sebagai pelatih membuahkan hasil. Dua anak didiknya meraih dua medali perak. Hasil itu disyukuri oleh pria berpangkat Sertu itu. Ini karena, usaha mempersiapkan atlet dayung dari nol benar-benar tercapai.
Berangkat dari hasil sebelumnya, Mahendra semakin semangat untuk mencari atlet-atlet dayung berbakat dari Jawa Timur. Target selanjutnya POPNAS 2025 di Jakarta sekaligus menjadi juri di cabor Dayung Porprov akhir Juni depan. (*/dan)