Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Perjuangan Mohammad Mirza Nuryady, Dosen UMM yang Raih Beasiswa Pemerintah Austria

Fajar Andre Setiawan • Selasa, 17 Juni 2025 | 16:58 WIB
KONSISTEN: Mohammad Mirza Nuryady mempresentasikan hasil penelitiannya di salah satu kelas di Veterinary Medicine University of Vienna.
KONSISTEN: Mohammad Mirza Nuryady mempresentasikan hasil penelitiannya di salah satu kelas di Veterinary Medicine University of Vienna.

Konsisten teliti nyamuk sejak S1. Pernah bergabung kelompok riset vaksin untuk penyakit yang ditimbulkan dari nyamuk dan magang di Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Vektor dan Reservoir Penyakit, Salatiga. Kini mendapat beasiswa program doktor dari pemerintah Austria.

NYAMUK membawa Mohammad Mirza Nuryady terbang ke Eropa. Tentu saja bukan dengan menaikinya. Melainkan berkat konsistensi dalam melakukan penelitian terhadap serangga kecil tersebut. Pria kelahiran Sumenep itu berhasil meraih beasiswa Program Ernst-Mach Grants ASEA UNINET tahun 2024 lalu.

Beasiswa pendidikan tinggi itu diselenggarakan pemerintah Austria melalui Kementerian Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Penelitian Federal Austria. Mirza mengikuti seleksi bersama 11 kandidat lainnya pada awal tahun lalu. Dia menjadi salah satu dari empat kandidat lain yang dinyatakan lolos beasiswa tersebut pada Juni 2024.

Veterinary Medicine University of Vienna menjadi kampusnya saat ini. Pria kelahiran 1992 itu menjadi satu-satunya penerima beasiswa tersebut dari Malang. Capaian itu seolah membayar kegigihannya. Seperti apa yang dia yakini selama ini. Beasiswa bukan milik orang yang pintar. Namun, milik mereka yang gigih.

Menempuh pendidikan di Eropa bukan sesuatu yang tidak pernah dia bayangkan sebelumnya. Sebab, itu telah menjadi keinginan dosen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) sejak dirinya menempuh program sarjana pada 2010 silam. Sekali lagi dia menegaskan bila keinginan itu baru muncul sejak S1.

Sebelumnya, Mirza hanya ingin mengikuti jejak Ibunya. Yakni berkuliah di luar tanah kelahirannya. Keinginan itu terwujud dengan diterimanya Mirza di Prodi Biologi Molekuler Universitas Jember (Unej). Seiring perjalanan proses pendidikannya di sana, Mirza mulai tertarik meneliti tentang nyamuk dan memiliki cita-cita kuliah di Eropa.

Keinginan itu muncul berkat ketertarikannya pada salah seorang dosennya yang merupakan lulusan Jerman. Namanya, Profesor Kartika, dosen favorit pria berusia 33 tahun itu saat S1. Bagi Mirza, cara mengajar dosen matakuliah biomolekulernya itu berbeda dengan dosen lainnya.

“Sekali menjelaskan kami para mahasiswanya bisa langsung paham,” ucap Mirza. Belakangan ini dia baru tahu jika profesornya itu mengadopsi model mengajar dari kampus di Jerman. Dari situlah cita-cita studi di Eropa muncul.

Tidak hanya itu, dari Profesor Kartika pula Mirza tertarik meneliti nyamuk. Sama seperti konsentrasi dosennya itu. Ketertarikan itu dia wujudkan dengan bergabung kelompok riset vaksin untuk penyakit yang ditimbulkan dari nyamuk. Ia bertugas mengumpulkan nyamuk di lapangan, mengisolasi, dan meneliti kelenjar ludah pada nyamuk.

Dari situ dia akan mengidentifikasi penyakit yang ditimbulkan nyamuk. Mirza kemudian melanjutkan magang di Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Vektor dan Reservoir Penyakit di Salatiga. Tugasnya pun mirip-mirip. Yakni meneliti penyakit-penyakit akibat serangan nyamuk.

Sampai skripsinya juga mengangkat penelitian tentang nyamuk. Cita-citanya kuliah ke Eropa sebenarnya sudah ingin dia wujudkan di program magister. Sayangnya, beberapa kali percobaan melamar beasiswa tak kunjung ada hasilnya.

Akhirnya Mirza memutuskan lanjut di Prodi Parasitologi di Universitas Gadjah Mada (UGM). “Setelah itu saya diterima menjadi dosen di Prodi Pendidikan Biologi UMM pada 2019 lalu,” ujarnya. Gagal melanjutkan program magister di Eropa tak membuatnya patah arang.

Dia terus konsisten melakukan penelitian. Khususnya yang berkaitan dengan nyamuk. Sampai akhirnya kesempatan kembali terbuka dan dia siap berjuang mendapatkannya. Sebelum itu, Mirza tidak hanya melamar di kampus Austria saja. Dia menyebar CV dan proposal penelitian di beberapa kampus di negara Eropa.

Itu dilakukan untuk mendapatkan Letter of Acceptance (LoA). Sayangnya tak semua berbalas. Meski Veterinary Medicine University of Vienna juga bukan kampus satu-satunya yang menerimanya. Namun, kampus itulah yang paling relevan dengan bidang keilmuan yang ingin ia dalami.

Apalagi sejak 2012, Austria sedang menghadapi penyakit akibat nyamuk. Kini Mirza sudah aktif menempuh program doktornya di Vienna. Dia sedang meneliti genetik nyamuk yang berasal dari benua Asia tapi berkembang pula di Eropa Tengah.

“Khususnya nyamuk Aedes Albopictus,” jelasnya saat wawancara melalui google meet Minggu lalu (15/6). Kendati nyamuk lebih banyak berkembang di negara tropis. Namun perkembangan nyamuk dan penyakitnya juga menyebar di negara-negara Eropa Tengah.

Seperti DBD, Chikungunya, dan Zika Virus. Penelitiannya menganalisis sumber atau genetik nyamuk-nyamuk di Austria dan asalnya dari mana saja. Menurutnya genetik nyamuk di Austria kebanyakan berasal dari Korea dan Jepang. Itu bisa karena terbawa oleh barang-barang kargo atau bahkan manusia itu sendiri.

Mirza berharap hasil penelitiannya nanti bisa diterapkan di Indonesia. Khususnya, untuk penanganan penyakit akibat nyamuk. Sehingga, itu bukan hanya menjadi penelitian laboratorium saja. (dre)

Editor : A. Nugroho
#Austria #beasiswa #penelitian #nyamuk #Vaksin