Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Dua Dokter dari Universitas Brawijaya (UB) Terima Tawaran Berangkat ke Gaza

A. Nugroho • Senin, 7 Juli 2025 | 16:24 WIB
MISI KEMANUSIAAN: Dr dr Ristiawan Muji Laksono SpAnTI Subsp MN (K) FIPP (kiri) dan Dr dr Mohammad Kuntadi Syamsul Hidayat MKes MMR SpOT dijadwalkan berangkat ke Jakarta hari ini (7/7), kemudian bertol
MISI KEMANUSIAAN: Dr dr Ristiawan Muji Laksono SpAnTI Subsp MN (K) FIPP (kiri) dan Dr dr Mohammad Kuntadi Syamsul Hidayat MKes MMR SpOT dijadwalkan berangkat ke Jakarta hari ini (7/7), kemudian bertol

Belum Pernah ke Zona Konflik, Anggap Fardu Kifayah.

Berita tentang Gaza, Palestina, selalu mengundang keprihatinan. Tapi, tak banyak relawan yang punya kesempatan pergi ke sana untuk memberikan bantuan secara langsung. Dua dokter asal Universitas Brawijaya memutuskan bergabung dengan misi kemanusiaan ke Gaza dan dijadwalkan berangkat besok (8/7).

DUA tenaga medis itu adalah Dr dr Ristiawan Muji Laksono SpAnTI Subsp MN (K) FIPP dan Dr dr Mohammad Kuntadi Syamsul Hidayat MKes MMR SpOT. Keduanya belum pernah bergabung dengan misi kemanusiaan yang beroperasi di zona konflik. Meski demikian, mereka tidak menolak saat mendapat tawaran berangkat ke Gaza selama dua pekan.

Misi kemanusiaan yang akan mereka jalani digelar atas kerja sama Fakultas kedokteran UB dengan dua lembaga nirlaba. Yakni Bulan Sabit Merah Indonesia (BSMI) dan Rahmah World Wide. Program itu merupakan pengalaman pertama bagi FK UB untuk mengirimkan relawan ke Gaza.

Meski belum memiliki pengalaman di zona konflik (perang), Kuntadi sudah sering terjun ke daerah bencana. Hal itu bahkan sudah dia lakukan sejak masih menjadi dokter residen ortopedi. Misalnya menjadi relawan bencana gempa di

Yogyakarta selama satu bulan. Dia juga pernah dikirim untuk penanganan korban bencana di Bengkulu, Padang, hingga terakhir ke Lombok pada 2018.

Saat bertugas di Lombok, Kuntadi bersama tim menangani korban gempa yang membutuhkan operasi di rumah sakit terapung KRI (kapal perang Republik Indonesia) dr Soeharso. Selama berada di kapal, ada banyak operasi yang dilakukan. Dalam satu hari, tim dokter bisa melakukan operasi sampai 10 kali.

Kuntadi juga pernah menjadi relawan untuk gempa di ibu kota Nepal, Kathmandu, pada 2015. Dia diberangkatkan oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) RI dan bertugas selama 16 hari. ”Di Nepal, kami membuka pelayanan di rumah sakit lapangan. Saat sedang memberikan pelayanan, gempa terjadi lagi,” kenang lelaki kelahiran 1968 tersebut.

Karena rangkaian pengalaman dan keterampilan yang dimiliki, Kuntadi tidak berpikir dua kali saat ditawari berangkat ke Gaza. Apalagi dia mengaku sudah lama menunggu kesempatan untuk membantu warga Palestina. Khususnya umat muslim yang menjadi korban genosida para tentara Israel.

Kuntadi mendapat tawaran ke Gaza saat rapat bersama BSMI pada Mei lalu. Dalam rapat tersebut diungkapkan bahwa kalau rumah sakit di sana membutuhkan dokter spesialis ortopedi, dokter spesialis bedah vaskuler, dokter spesialis bedah plastik, dokter spesialis anestesi, dan dokter spesialis emergency.

”Sebelum minta izin ke keluarga, tawaran itu sudah langsung saya terima,” ungkap lelaki yang merupakan dokter spesialis ortopedi di RS Prima Husada Malang tersebut.

Istri dan empat anak Kuntadi pun ikut memberikan dukungan. Mereka sangat memahami bahwa tugas kemanusiaan itu sangat penting. Apalagi Kuntadi sudah berpengalaman menangani kasus-kasus gawat darurat.

Tapi, kondisi di Gaza tentu akan memberikan tantangan baru. Berdasar cerita tim medis yang pernah berangkat sebelumnya, di sana banyak korban luka tembak. Jika peluru sampai menyasar tulang, tentu bisa berakibat fatal.

Peluru memiliki gerakan yang memutar, sehingga bisa membuat tulang hancur. Untuk mengembalikan fungsi tulang, dokter harus melakukan penambalan. Prosesnya pun cukup lama. Bahkan diperlukan alat bone graft sebagai prosedur cangkok untuk merangsang pertumbuhan tulang.

Sama seperti Kuntadi, Ristiawan juga belum pernah terlibat sebagai relawan di zona konflik. Dia lebih banyak melakukan penanganan kasus nyeri menggunakan metode blok saraf  pada korban bencana di dalam negeri. Antara lain saat gempa di Nusa Tenggara Timur (NTT) dan tsunami Aceh.

Tawaran dari BSMI itu pun dianggapnya sebagai fardu kifayah. Yakni kewajiban yang dibebankan kepada seluruh umat Islam, tapi kewajiban tersebut gugur jika sudah dilakukan oleh sebagian umat.

Semula ada satu sampai dua dokter anestesi lain dari FK UB yang mendaftar. Tapi Ristiawan mengajukan diri terlebih dulu. Apalagi sejawat dokter anestesi lain yang mengajukan diri belum rampung menjalani sekolah subspesialis seperti dirinya.

Dengan keterampilan tingkat advance yang dimiliki, Ristiawan bisa membantu tindakan bius secara total dan menggunakan metode blok saraf. Hal itu bisa meminimalisir rasa sakit saat menjalani operasi. ”Tindakan operasi tidak mungkin dilakukan kalau pasien masih mengalami kesakitan hebat,” beber lelaki kelahiran Tangerang tanggal 12 Juni 1975 tersebut.

Ristiawan semakin termotivasi untuk mengajukan diri karena mengetahui fasilitas kesehatan di Gaza semakin minim akibat perang. Informasi itu dia dapat dari tim Emergency Medical Team (EMT) yang dibentuk BSMI. Pada keberangkatan EMT jilid satu Februari lalu masih banyak rumah sakit yang beroperasi. Namun saat keberangkatan EMT jilid dua, beberapa rumah sakit mulai tutup.

Pasokan obat juga semakin menipis. Padahal korban perang terus berjatuhan. Berdasar data yang dihimpun Kementerian Kesehatan Iran per 25 Juni 2025, serangan Israel telah menewaskan lebih dari 600 korban jiwa dan sedikitnya ada 4.700 orang yang terluka. Salah satu yang menjadi korban adalah Direktur Rumah Sakit Indonesia di Gaza, yakni dr Marwan al-Sultan. Dia tewas bersama keluarganya.

Karena kondisi yang serba terbatas, FK UB turut menggalang donasi hingga terkumpul dana lebih dari Rp 1 miliar. Hasil donasi tersebut digunakan untuk membeli dua unit alat ulrasonografi (USG), delapan boks jarum anestesi, sekitar 15 unit bone graft, dan sebagian didonasikan kepada BSMI.

Ristiawan dan Kuntadi dijadwalkan bertolak dari Kota Malang pada Senin (7/7). Mereka terlebih dulu menuju Jakarta untuk berkoordinasi. Kemudian bertolak ke Gaza keesokan harinya. Keduanya dijadwalkan masuk Gaza pada 10 Juli dan bertugas sebagai relawan sampai 24 Juli.

Saat tiba di Palestina, mereka tidak bisa langsung masuk. Melainkan harus menunggu izin dari Israel Defense Forces (IDF) atau tentara Israel. Barang bawaan mereka juga akan disortir terlebih dulu. Jika diizinkan masuk, Kuntadi, Ristiawan, maupun empat dokter lain dari Indonesia yang dikirim sebagai relawan akan bertugas di Rumah Sakit An-Nassr di Gaza Selatan.

Jika tidak mendapat izin, mereka bisa saja bertugas di Yordania. Sebab, di sana banyak pengungsian dan korban yang juga membutuhkan penanganan kesehatan. Tapi, keduanya tetap berharap bisa membantu penanganan di Gaza dan selamat saat pulang ke Indonesia pada 26 Juli mendatang. (*/fat)

 

Editor : A. Nugroho
#universita brawijaya #dokter #gaza #Palestina