Nahkodai KAN Jabung, Dari Aset Masih Rp 59 Miliar Hingga Berkembang Jadi Rp 300 Miliar
Eva Marliyanti tak pernah menyangka, pilihan sederhana mencari kerja dekat rumah dua dekade silam bisa mengantarkannya ke pucuk pimpinan. Pahit manis memimpin KAN Jabung sudah dirasakannya, mulai dari sulitnya mengembangkan bisnis hingga harus menutup bisnis yang stagnan.
Semangat mengembangkan koperasi itu masih membara, tahun 2028 Eva menarget KAN Jabung miliki omset Rp 2 triliun.
Kala itu tahun 2002. Buah hatinya masih balita. Dengan latar belakang pendidikan D3 Gizi dan, Eva mulai mempertimbangkan ulang arah kariernya. Rumah sakit terlalu jauh, sementara sang anak masih sangat butuh perhatiannya. Maka warga Kecamatan Pakis itu, memilih jalan paling masuk akal, yakni cari kerja yang cukup dekat dengan rumah.
Pilihannya jatuh pada sebuah koperasi susu perah di Desa Kemantren, Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang. Bukan koperasi besar. Hanya koperasi rakyat yang fokus pada sapi perah dan menjual susu ke industri lokal. Pertama kali masuk, Eva ditempatkan di bagian Administrasi Keswan dan Populasi sapi.
Dari sana dia mulai mendapat kepercayaan dan mulai naik level menjadi Kepala Unit Sarana Produksi Peternakan (Sapronak).Yang mengurusi bagian pakan hingga peralatan kandang.
Pelan-pelan ia menyerap semuanya. Dia mulai memahami sistem koperasi dari titik paling bawah, soal kebutuhan peternak, kualitas pakan, hingga hitung-hitungan lainnya.
Kemudian di tahun 2012 dia mulai dipercaya untuk bergabung di manajemen pusat. Dia baru melihat sisi lain koperasi yang tak pernah ia tahu sebelumnya ketika sebagai karyawan biasa.
Salah satu hal yang mengusik hatinya ialah pendapatan peternak dan karyawan masih rendah, “Karena saya suka menghitung, dan setelah saya hitung kesimpulannya harus memperbesar pemasukan atau revenue,” ujar wanita kelahiran 1977 itu.
Eva mulai berpikir, koperasi ini harus dikelola dengan pendekatan yang berbeda. Tidak sekadar berjalan, tapi bertumbuh. Tidak hanya sekadar hidup, tapi berkembang.
Maka ia mulai menyusun skema perubahan. Mulai dari SOP, perencanaan pengembangan struktur organisasi kontemporer, hingga menyusun sistem manajemen yang lebih layak. Satu persatu dia permasalahan dia perbaiki.
Karena core bussines KAN Jabung ialah sapi perah, pertama-tama dia memperbaiki sektor tersebut. Yakni dengan upaya meningkatkan nilai susu, dengan cara memperluas pasar dan meningkatkan membuat produk turunan. “Kita juga sempat membuat kafe, untuk menyerap susu hasil pertenak,” tutur ibu dua anak itu.
Langkahnya tak mulus, Eva mulai mendapatkan kekhawatiran dari internal, karena melakukan hal yang tak biasa. Perlahan-lahan dia terus menyakinkan internal tentang langkah perubahan tersebut. Inovasi terus dilakukan, mereka membuka berbagai unit usaha untuk memperbesar pemasukan.
Tentu perjalanan itu tidak mulus. Ia sempat menutup sejumlah unit usaha yang dianggap tidak efisien—seperti outlet minyak goreng, bengkel, dan toko bangunan. Beberapa eksperimen bisnis seperti kafe juga sempat dicoba, tapi harus dihentikan karena antara pemasukan dan biaya tidak imbang. ”Kita menemukukan berbagai solusi atau ide itu kalau kepepet, karena harus meningkatkan profit,” ujarnya sembari tertawa ketika bercerita di ruang kerjanya beberapa waktu lalu.
Titik baliknya ialah, dia sadar bahwa untuk berkembang bukan hanya memperbanyak lini usaha. Tetapi membuat usaha yang sudah ada lebih profit dan bertumbuh.
Salah satu terobosan KAN Jabung yang cukup menonjol adalah transformasi BMT Al-Hijrah menjadi BPRS AlHijrah Thayibbah hingga JabMart. Jabmart adalah unit warung serba ada koperasi yang awalnya hanya toko kecil. JabMart kini berevolusi jadi ritel modern, mempunyai 33 outlet, dan mulai menggarap pasar lebih luas. Tak sekadar menjual barang kebutuhan, JabMart jadi jembatan penting antara koperasi dan masyarakat luar.
Di sektor hulu, Eva membangun kembali model peternakan rakyat paska ditempa badai wabah PMK. Peternak diberi pelatihan, pendampingan, serapan dan harga susu yang stabil, hingga model kemitraan sapi import dengan investor.
Bahkan koperasi kini memiliki model farm yang menjadi pusat pengembangan ilmu, teknologi dan bisnis sapi perah serta sarana pembibitan sapi perah berkualitas tinggi.
Pada saat awal dia masuk manajemen, aset koperasi masih berkutat di angka Rp 58 miliar. Kini, setelah lebih dari satu dekade dia menjabat, koperasi tumbuh menjadi raksasa dengan aset hampir Rp 300 miliar. Di bawah tangan dingin Eva, Kini KAN Jabung bukan lagi koperasi tingkat kecamatan. Sudah masuk jajaran koperasi besar Indonesia.
Bisnisnya tak hanya menjual susu dan tebu. Koperasi ini kini mengelola 7 rantai usaha dengan konsep bisnis inklusif dari hulu hingga hilir, dari pakan, peternakan, angkutan, olahan susu, perbankan mikro, sampai ritel modern. Koperasi ini jadi contoh nyata bahwa koperasi bisa modern dan relevan di zaman digital.
Semua itu dikerjakan Eva tanpa latar belakang manajemen murni sejak awal. Ia baru menempuh S1 di bidang hasil pertanian di Universitas Widyagama, dan kemudian melanjutkan S2 Manajemen di Universitas Merdeka Malang.
Tapi sejatinya, ilmu terbaik ia dapat dari lapangan, dari berbincang dengan peternak, dari rapat evaluasi bisnis, hingga dari menutup usaha yang rugi. Bagi Eva Marliyanti, koperasi bukan hanya soal bisnis. Tapi soal hidup bersama, tumbuh bersama, dan bertahan bersama.
Editor : A. Nugroho