Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Perjuangan Karina Arisandi Pamungkas, Atlet Kickboxing yang Raih Juara Internasional Taekwondo

Mahmudan • Senin, 4 Agustus 2025 | 17:25 WIB
POIN UNGGUL: Wasit mengangkat tangan Karina Arisandi Pamungkas (kiri) sebagai tanda dia memenangkan kompetisi.
POIN UNGGUL: Wasit mengangkat tangan Karina Arisandi Pamungkas (kiri) sebagai tanda dia memenangkan kompetisi.

Ukir Prestasi Gemilang di Event Internasional Pertama.

Karina Arisandi Pamungkas mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional. Atlet kickboxing asal Kota Malang itu menyabet juara di ajang Perak Tourism International Taekwondo Championship, Malaysia 27 Juli lalu. Dia membawa pulang dua medali. Bagaimana perjuangannya?

MERAH putih berkibar di podium Perak Tourism International Taekwondo Championship, Malaysia 27 Juli lalu. Di bawah bendera Indonesia tersebut, Karina Arisandi Pamungkas berdiri menerima medali. Mahasiswi Universitas Negeri Malang (UM) itu sejatinya atlet kickboxing, tapi meraih juara internasional di kompetisi taekwondo. Di kompetisi internasional tersebut, gadis yang berdomisili di Sawojajar, Kota Malang itu meraih dua medali. Satu medali emas untuk Prime League Sparring Female 2025 kelas 55kg above dan medali perak untuk Female Sparring Black Belts 50,1-55 kg.

Karin sempat nervous sebelum bertanding. Maklum, Perak Tourism International Taekwondo Championship merupakan kejuaraan internasional perdana yang diikutinya. Apalagi dia berangkat dari atlet kickboxing. Namun pengalamannya menjuarai Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) 2023 dan 2025 sekaligus babak kualifikasi PON 2024 membuat semangatnya membara.

Selama berkompetisi, Karin sempat beradaptasi terlebih dahulu. Itu karena dia masih terbiasa dengan cara perolehan poin di kickboxing. Meski begitu, kemampuannya menganalisis kelemahan lawan menjadi modal mendulang medali. Perjuangannya di Premier League berjalan mulus dari babak penyisihan sampai semifinal.

Di partai final, dia bertemu lawan perwakilan Malaysia. Selama dua babak, mereka saling beradu pukul dan tendangan. Karin yang semula unggul perolehan poin, perlahan disusul lawannya sampai imbang. Lantaran tidak ada yang unggul, panitia membuka babak tambahan dengan sistem golden poin. Siapa yang paling cepat mendulang poin, dialah pemenangnya.

Karin sempat mendaratkan tendangan ke tubuh lawan. Dari empat tendangan, hanya dua yang disahkan oleh wasit. ”Tendangan kedua berhasil meraih medali emas. Lega banget, karena (medali emas) ini saya dapatkan dari jauh,” katanya.

Menjelang berlaga di Perak Tourism International Taekwondo Championship, Karin melakukan persiapan cukup panjang. Dia berlatih teknik dan fisik sejak Februari lalu. Di masa persiapan tersebut dia ikut berkompetisi di ajang Porprov IX Jatim 2025. Demi meraih hasil terbaik, Karin juga mengikuti camp ke tempat lain untuk mengasah kemampuannya. “Saya sempat latihan di camp Muay Thai,” katanya.

Keputusan tersebut beralasan. Pelatihnya melihat Karin masih mempunyai kekurangan di aspek pukulan. Oleh karena itu dia membawa mahasiswi semester 7 itu ke olahraga asal Thailand tersebut. Dia berangkat dua hari sebelum pertandingan dimulai. Bersama Camp ITF Malang mewakili Indonesia, dia bertanding bersama lebih 2.500 kontestan lain dari 15 negara. Dia bertanding mengikuti dua nomor yang digelar pada 25 dan 27 Juli.

Bagi Karin, bertanding di olahraga Taekwondo mempunyai tantangan tersendiri. Dia merasa format turnamen yang digelar lebih menguras fisik dibandingkan bermain di kickboxing. “Kalau kickboxing dapat poin berhenti, sementara di ITF (International Taekwondo Federation) berjalan terus sampai dua menit selesai,” katanya.

Terlebih lagi, pertandingan satu nomor harus diselesaikan dalam waktu sehari. Itu berbanding terbalik dengan pertandingan kickboxing yang hanya beberapa pertandingan sebelum melangkah ke partai puncak.

Karin bisa dibilang cukup lama menguasai olahraga taekwondo dan kickboxing. Dia menekuni olahraga tersebut sejak 2019 lalu. Saat itu dia bergabung dengan International Taekwondo Federation ITF Malang. Setelah beberapa bulan berjalan, dia kemudian memberanikan diri mengikuti kompetisi. “Karena saat itu belum banyak lomba dari ITF, jadi saya disarankan mengikuti lomba kickboxing,” katanya.

Mengingat aturan bermain tidak jauh berbeda, dia pun bersedia dan mengikuti pertandingan di nomor point fighting. Pertandingan tersebut digelar di atas matras atau tatami. Event perdana kickboxing yang diikutinya adalah Kejuaraan Kabupaten (Kejurkab) 2019.

Meski baru, kemampuannya berhasil membuahkan medali emas. Dengan bekal tersebut, mahasiswa jurusan akuntansi itu semakin semangat mengikuti berbagai turnamen. Setelah berhasil meraih medali di Porprov 2025 dan Turnamen Internasional di Malaysia, Karin mempunyai target juara PON 2028. “PON 2024 lalu, saya gagal di penyisihan awal,” jelasnya. (*/dan)

Editor : A. Nugroho
#atlet #kick boxing #Kota Malang #Internasional Taekwondo Championship