Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Jatuh Bangun Prof Herry S. Utomo Temukan Beras Rendah Gula

Aditya Novrian • Kamis, 7 Agustus 2025 | 17:00 WIB

 

VARIETAS UNGGUL: Prof Herry berada di lahan pembibitan Cahokia Rice, Louisiana, Amerika Serikat.
VARIETAS UNGGUL: Prof Herry berada di lahan pembibitan Cahokia Rice, Louisiana, Amerika Serikat.

Butuh Tujuh Tahun untuk Lakukan Eksperimen

Dari balik meja laboratorium di Amerika, Prof Herry S. Utomo membuktikan bahwa mimpi bisa mengubah dunia. Lewat Cahokia Rice, dia memberikan solusi pangan sehat untuk penderita diabetes dan malnutrisi.

 

TAHUN 2007 silam, Prof Herry S. Utomo baru saja lulus program PhD di Louisiana State University (LSU). Tak sekadar lulus, tapi kampus dia menimba ilmu memberinya mandat besar. Yakni menciptakan varietas padi unggul.

Tapi bagi dia tugas itu bukan beban. Melainkan mimpi yang telah lama ditanam sejak menempuh pendidikan jenjang magister di University of Kentucky bidang Breeding and Quantitative Genetic pada 1986.

Herry memang ahli mendalami genetik tumbuh-tumbuhan. Seluruh penelitiannya berbau pada sifat-sifat gen tumbuhan dan fungsi pada tingkat molekuler. Dia juga aktif meneliti tumbuhan di negeri Paman Sam.

Herry punya satu tekad untuk menciptakan beras sehat yang bisa dikonsumsi oleh penderita diabetes tanpa takut lonjakan gula darah. Bukan sekadar beras biasa, tapi varietas yang ramah bagi tubuh. Terutama  untuk penduduk di negara-negara berkembang yang konsumsi nasinya tinggi, tapi kasus diabetesnya juga mengkhawatirkan.

Di hadapannya ada data cukup mengejutkan. Yakni 500 juta orang mengidap diabetes. Kemudian 600 juta lainnya mengalami malnutrisi. Angka-angka itu mengusik nuraninya sebagai ilmuwan. Maka, dimulailah perjalanan panjang di balik meja laboratorium. ”Tentu ada banyak rintangan yang saya hadapi selama di laboratorium,” kenang pria yang saat ini menjabat sebagai Presiden Indonesian Diaspora Network United (IDN-U).

Selama tujuh tahun, alumnus Sarjana Pertanian Universitas Brawijaya (UB) itu berkutat dengan benih-benih padi yang ditanam, diuji, gagal, lalu diulang kembali. Tidak mudah baginya. Apalagi konsumen di Amerika sangat sensitif terhadap produk yang menyandang label rekayasa genetika (GMO).

Herry memilih jalur yang lebih alamiah, yakni mutasi alami. Tantangan datang bukan hanya dari sisi laboratorium. Benih yang berhasil pun harus bisa tumbuh di tanah Amerika. Kadang padi yang ditanam tidak tumbuh, kadang hasilnya tidak sesuai ekspektasi. Ada yang bulirnya pendek, ada pula yang kosong. Tapi dari kegagalan demi kegagalan itu, dia memilih terus melangkah.

Titik balik datang pada 2014. Herry berhasil menciptakan varietas padi yang menjawab semua misinya. Berasnya mengandung 50 persen lebih banyak protein dari beras biasa. Indeks glikemiknya hanya 41 persen, jauh lebih rendah dibandingkan beras pada umumnya yang mencapai 79 persen.

Artinya, beras yang ditanamnya lebih lambat dicerna tubuh. Serta tidak langsung memicu lonjakan gula darah dan energi yang dilepaskan bisa bertahan lebih lama.

Beras itu pun dinamainya Cahokia Rice. Nama itu diambil dari kota kuno dengan basis pertanian kuat di Amerika Utara. Pada 2017, varietas tersebut resmi mendapatkan hak paten. Tahun yang sama, LSU menganugerahi Herry gelar F. Avalon Dagget Endowed Professor, gelar terhormat untuk akademisi dengan kontribusi ilmiah dan sosial luar biasa.

Dari laboratorium, Cahokia Rice perlahan menembus pasar. Herry gencar melakukan promosi, bertemu investor, dan memperluas jangkauan. Dua tahun berselang, beras produksinya mulai dipasarkan secara massal. Kini produk itu telah tersedia di lebih dari 1.500 supermarket di wilayah selatan Amerika Serikat. Konsumennya bervariasi, mulai atlet, mahasiswa, ibu hamil, hingga pasien diabetes.

Herry tak berhenti untuk memasarkan hasil jerih payahnya. Dia kini tengah menjajaki pasar luar Amerika, termasuk Tiongkok, sampai Afrika. Sementara untuk Indonesia sedang dia jajaki. Pria kelahiran 1960 itu berharap Cahokia Rice bisa membantu menurunkan angka diabetes dan malnutrisi di tanah air. ”Kalau bisa menurunkan 5 persen saja itu sudah pencapaian besar,” ujarnya dengan penuh harap.

Lebih dari sekadar produk pangan, beras tersebut adalah buah dari mimpi, kegigihan, dan kreativitas. Baginya, karya ilmiah harus berakar dari masalah nyata dan menjawab kebutuhan masyarakat. Jangan putus asa. Selesaikan masalah dengan kreativitas. Ciptakan hal baru yang bermanfaat. Begitulah mantra hidup yang terus ia bawa ke mana pun. (*/adn)

Editor : A. Nugroho
#LSU #GMO #University of Kentucky #Universitas Brawijaya (UB)