Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Panji Andika Saputra Wijaya, Siswa Jurusan IPA Peraih Juara Olimpiade Ekonomi Internasional

Mahmudan • Senin, 11 Agustus 2025 | 18:03 WIB
HARUMKAN NAMA INDONESIA: Panji Andika Saputra Wijaya membentangkan bendera merah putih setelah meraih medali perak di ajang International Economics Olympiad (IEO) 2025 di Azerbaijan, 30 Juli lalu.
HARUMKAN NAMA INDONESIA: Panji Andika Saputra Wijaya membentangkan bendera merah putih setelah meraih medali perak di ajang International Economics Olympiad (IEO) 2025 di Azerbaijan, 30 Juli lalu.

Belajar 17 Jam Sehari, Baru Tidur Pukul Empat Pagi

Kisah yang dialami Panji Andika Saputra Wijaya tergolong tidak biasa. Berasal dari jurusan IPA, pelajar SMA Katolik St Albertus (Dempo) itu meraih juara Olimpiade Ekonomi Internasional. Panji juga dianugerahi gelar Best In Finance.

PADA 2023 lalu, Panji yang tercatat sebagai siswa kelas X jurusan IPA tiba-tiba tertarik mempelajari ekonomi. Remaja yang kala itu masih berusia 17 tahun penasaran dengan hal-hal baru, termasuk mata pelajaran (mapel) ekonomi. Bagi dia, belajar IPA sudah biasa, meskipun banyak pelajar yang menganggap IPA sebagai momok.

Untuk mendapatkan pelajaran ekonomi, dia bergaul dengan teman-temannya di jurusan IPS. Tentu tidak di bangku kelas, karena mapel ekonomi hanya diberikan kepada siswa jurusan IPS. Agar kemampuannya dapat mengimbangi teman-temannya dari jurusan ekonomi, dia menambah waktu untuk belajar. ”Sepulang sekolah, saya masih belajar mandiri,” tutur pria yang kini berusia 19 tahun itu.

Kala itu, tidak ada pikiran mengikuti kompetisi di bidang ekonomi. Semua dilakukan karena dia merasa tertantang dengan hal-hal baru. Dia ingin menguji kemampuannya, apakah siswa jurusan IPA juga mampu menguasai ekonomi.

Selain itu, ada faktor lain yang membuat dia tertarik bidang ekonomi. ”Dalam kehidupan, kita juga menerapkan konsep ekonomi, akuntansi, keuangan, dan bisnis. Itu yang membuat saya ingin mendalami bidang ini,” jelas pemuda kelahiran Kota Batu, 15 November 2006 itu.

Masih di tahun yang sama, dia mendapat informasi lomba ekonomi di Jombang. Sebagai pelajar yang suka tantangan, Panji merasa tertantang. Oleh karena itu dia mengikuti seleksi yang digelar SMA Dempo. Seleksi bertujuan untuk menjaring siswa, kemudian pemenangnya diutus mewakili sekolah untuk mengikuti lomba.

Panji tertarik mengikuti seleksi. Dia bersaing dengan pelajar lain dari jurusan ekonomi. Hasilnya, ada dua siswa yang dipercaya mewakili sekolah. Salah satunya Panji, sedangkan siswa lain dari jurusan ekonomi. “Itu awal saya menang lomba dan merasa yakin bisa lebih dari ini,” ujar Panji.

Dari sana Panji terus berusaha, hingga akhirnya mendapatkan kesempatan seleksi Olimpiade Sains Nasional (OSN) 2023. Ia lolos dalam tingkat kota, namun gagal menembus provinsi. Meskipun begitu, keinginannya besar untuk melangkah kembali.

Menjadi peraih medali OSN memang impian besarnya. Pada Januari 2024, ia menyiapkan diri dan berjuang mengerjakan soal ekonomi, bisnis, akuntansi setiap hari. Persiapan juga ia lakukan dengan mengikuti lomba-lomba ekonomi yang diadakan oleh kampus negeri.

Rupanya usaha tidak mengkhianati hasil. Dia berhasil lolos di peringkat 2 OSN tingkat kota. Tidak mau mengulang kesalahan yang sama, ia mati-matian belajar. “Apalagi jeda OSN tingkat kota ke provinsi hanya dua minggu,” kata Panji.

Betul saja, Panji lolos ke tingkat Nasional. Ada 10 siswa dari Jatim yang berhak maju tingkat nasional. Dia mempersiapkan secara matang. Ketika sebagian besar temannya menikmati liburan kenaikan kelas, Panji memilih belajar. Di tingkat nasional, Panji mendapatkan medali perak dan penghargaan best in business case.

Alasan Panji ngebut belajar untuk mendulang medali OSN adalah strategi masuk universitas top. Panji ingin masuk Universitas Indonesia (UI) tanpa harus test. “Saya ingin masuk lewat jalur prestasi, tanpa test lagi,” beber pria yang beberapa bulan lalu lulus dari SMA Dempo itu.

Pertengahan Oktober 2024 lalu, seluruh peraih medali OSN dipanggil untuk mengikuti Pelatihan Nasional (Pelatnas) tahap pertama di Jakarta. Total ada 30 pelajar dari berbagai daerah di Indonesia, termasuk Panji. Kini, Panji tidak lagi mewakili sekolah, melainkan membawa nama besar, yakni Indonesia.

Mereka digembleng untuk mengikuti International Economics Olympiad (IEO) 2025 di Azerbaijan. “Kami benar-benar belajar. Mengerjakan soal dari jam 8 pagi sampai jam 9-10 malam,” jelas Panji.

Dalam sehari, sekitar 14 jam waktu yang dihabiskan untuk belajar. Praktis, dia hanya mempunyai waktu beberapa jam untuk istirahat. Itu pun harus dimanfaatkan untuk tidur dan keperluan lain. Panji sempat tidak nyaman untuk tidur, terlebih karena menuju tahap 2 akan ada yang gugur. Panji tidak ingin gagal.

Meski harus memeras pikiran dan mental, Panji selalu mengambil sisi positifnya. Ia yakin bakal mendapatkan sesuatu yang tidak semua orang bisa dapatkan. Sejak Pelatnas pertama hingga Februari 2025 lalu, Panji belum mendapatkan kabar apakah lolos seleksi atau tidak. Ia fokus menyelesaikan masa studinya, terlebih saat itu sudah di kelas XII dan akan menghadapi ujian akhir kelulusan. Pada 13 April 2025, Panji mendapatkan kabar bahagia. Namanya masuk 10 besar yang lolos Pelatnas tahap 2.

Pada 15 April Panji kembali berangkat ke Jakarta. Pelatnas tahap dua lebih menantang. Ia kembali diajari oleh praktisi ekonomi, dosen-dosen UI, Universitas Gajah Mada (UGM), dan universitas ternama lainnya di Indonesia . “Tahap satu, kami masih bisa tidur jam 11 atau 12 malam. Tahap dua baru bisa tidur jam 4 pagi,” kenang Panji sambil tertawa.

Pelatnas kedua hanya berjalan 10 hari. Pelaksanaannya lebih singkat dari pelatnas sebelumnya yang berlangsung selama dua minggu. Nama Panji berada di antara lima orang yang lolos menuju Pelatnas tahap 3. Panji dan 4 orang lainnya yang akan mewakili Indonesia ke IEO 2025 Azerbaijan.

Awal Juli 2025 Panji berangkat mewakili Indonesia di kompetisi ekonomi internasional itu. Lomba tersebut berlangsung pada 20-30 Juli 2025. “Itu benar-benar minggu yang sangat menguras tenaga, dan pikiran,” terang Panji.

Bagi Panji, yang paling menantang saat ronde Business Case. Dimana ia berkelompok dengan warga negara lain untuk mencari jalan keluar dalam sebuah bisnis perusahaan. Mereka harus bekerja tim untuk memecahkan masalah tersebut.

Soal Business Case dibagikan pukul 12 Malam. Setiap tim diberi waktu 24 jam untuk mengerjakan soal tersebut. “Itu aku sampai berusaha bangun terus, sampai minum 3 kaleng redbull (minuman berenergi) dan beberapa cup kopi,” kenang Panji.

Kini, jerih payahnya terbayar. Panji membawa pulang medali perak dan mendapatkan gelar Best in Finance. Itu jadi sesuatu yang tidak bisa dilupakan. Prestasi internasional pertamanya dari sesuatu pelajaran yang ia baru ditekuni dua tahun silam.

Pulang dari Azerbaijan, Panji hanya memiliki waktu yang sedikit di Indonesia. Sebab pada 1 Agustus lalu ia terbang ke Singapore. Melanjutkan masa studinya di Nanyang Technological University dengan program Bachelor of Accountancy. Saat ini ia fokus menata kariernya di masa depan.(*/dan)

Editor : A. Nugroho
#Wijaya #jurusan ipa #Andika #Olimpiade Ekonomi Internasional (IEO) #saputra #Juara #panji