Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Daniel Azmi Muhammad, Atlet Memanah Berkuda Asal Kota Malang Torehkan Prestasi di Kejuaraan Internasional

Aditya Novrian • Rabu, 3 September 2025 | 16:36 WIB
UNJUK GIGI: Daniel Azmi Muhammad memanah dengan menunggangi kuda di IHAA Nation Cup 2025, Rusia, Agustus lalu.
UNJUK GIGI: Daniel Azmi Muhammad memanah dengan menunggangi kuda di IHAA Nation Cup 2025, Rusia, Agustus lalu.

Sempat Vakum Setahun untuk Matangkan Skill.

Di atas punggung kuda, Daniel Azmi Muhammad menembus batas kemampuan diri. Remaja 15 tahun asal Kota Malang itu sukses meraih dua medali emas di IHAA Asian Nations Cup 2025. Sekaligus mengharumkan nama Indonesia. 

GUYURAN hujan pagi itu turun deras di Pegas Equestrian Club, Kota Serpukhov, Rusia. Bulir-bulir air menimpa rerumputan yang sudah basah. Udara begitu menusuk tulang, meski kalender menunjukkan musim panas.

Termometer hanya menunjuk angka 15 derajat Celsius. Namun di tengah dinginnya cuaca, seorang remaja Indonesia berdiri tegap di atas punggung kuda. Namanya Daniel Azmi Muhammad.

Dengan konsentrasi penuh, pemuda berusia 15 tahun itu menggenggam busur. Tangan kirinya menuntun kuda bernama Tamplier yang berlari kencang, sementara tangan kanannya menarik anak panah. Sejurus kemudian, anak panah dilepaskan.

Suaranya melesat, membelah udara basah, dan menancap tepat di papan sasaran. Seakan seisi arena terdiam sejenak, lalu riuh tepuk tangan menyusul. Itulah momen ketika Daniel memastikan diri meraih medali emas pertamanya di ajang IHAA Asian Nations Cup 2025.

JATUH BANGUN: Daniel Azmi Muhammad (tiga dari kanan) meraih medali emas kategori Hunt Track IHAA Nation Cup 2025 di Pegas Equestrian Club, Serpukhov, Rusia pada 18-20 Agustus lalu.
JATUH BANGUN: Daniel Azmi Muhammad (tiga dari kanan) meraih medali emas kategori Hunt Track IHAA Nation Cup 2025 di Pegas Equestrian Club, Serpukhov, Rusia pada 18-20 Agustus lalu.

Bagi remaja asal Malang itu, kemenangan itu bukan hanya soal medali. Itu adalah pembuktian setelah dua kali gagal naik podium tertinggi di ajang internasional. Debutnya dimulai pada 2023, ketika mengikuti Liga Memanah Berkuda Malaysia di Cape Cavallho, Negeri Sembilan. Semua terasa asing.

Cuaca yang berbeda dengan Indonesia membuat tubuhnya kaku, panggung megah menimbulkan demam panggung, sementara beban membawa nama Indonesia menekan pundaknya. Hasilnya, ia hanya mampu menembus 10 besar kategori keseluruhan. Rasa kecewa jelas terasa, tetapi dari situlah semangatnya tumbuh.

Setahun kemudian, Juni 2024, Daniel kembali mencoba peruntungan di First International Horseback Archery Masters Tournament di Inner Mongolia, Tiongkok. Dari 60 peserta yang datang dari tujuh negara, ia berhasil masuk 10 besar untuk kategori Chinese Imperial Martial Exam Target. Namun lagi-lagi, alam seolah menguji mentalnya. Suhu kala itu hanya delapan derajat Celsius.

Semua catatan pahit itu ia jadikan bahan belajar untuk menatap Rusia. Sejak awal keberangkatan, ia sudah menentukan nomor andalan, Raid 233 dan Tower 90. Sayangnya, di nomor pertama yang digelar, ia harus puas di posisi keenam. Seusai bertanding sebuah panggilan telepon dari ayahnya membuatnya kembali membakar semangat.

Sang ayah yang juga pelatih HBA Kota Malang berpesan agar Daniel membuktikan bahwa gaya memanah Slavic yang ia kuasai bisa bersaing di level internasional. Kata-kata itu menempel erat di pikirannya.

Namun kisahnya belum selesai. Masih ada satu nomor lagi, Hunt Track, yang justru paling ia ragukan. Ia bahkan sempat meminta maaf lebih dulu kepada rekan setim, karena merasa nomor itu bukan keahliannya.

”Tipis sekali waktu itu perolehan nilainya 130 tetapi saya lebih tinggi angka komanya,” kenang dia.

Keajaiban kembali berpihak padanya. Dengan strategi memacu kuda lebih cepat sambil menembakkan anak panah ke target-target yang muncul, Daniel berhasil melampaui perolehan nilai pesaing teratas. Ia unggul tipis, hanya karena nilai komanya lebih tinggi. Ketika papan skor diumumkan, Daniel tidak percaya ia kembali berdiri di podium teratas.

Dua emas sekaligus resmi ia rebut dari tanah Rusia. Kebahagiaan itu makin lengkap ketika tim Indonesia juga mengamankan medali perak kategori keseluruhan.

Perjalanan gemilang itu tidak bisa dilepaskan dari kisah panjangnya bersama kuda dan panah. Daniel mulai mengenal dunia berkuda sejak usia delapan tahun, mengikuti jejak ayahnya yang memang hobi menunggang kuda sekaligus memanah.

Rasa penasaran membuatnya mencoba keduanya secara terpisah. Hingga suatu hari ia tahu ada olahraga gabungan yang disebut horseback archery. Pada usia 10 tahun ia memberanikan diri ikut lomba HBA, namun berkali-kali jatuh dari kuda. Ayahnya menilai fisiknya belum cukup kuat.

Daniel pun vakum setahun, hanya fokus belajar dasar-dasar equestrian. Dari menjaga keseimbangan, melatih kekuatan kaki, hingga merawat kuda sehari-hari. Semua proses itu membentuk bonding yang kuat antara dirinya dengan kuda.

Setelah kembali, perlahan prestasi demi prestasi mulai diraih. Pada Porprov Jember 2021, ketika HBA masih berstatus eksibisi, ia berhasil membawa pulang perunggu di nomor Fast Shooting. Sejak itu namanya mulai diperhitungkan.

Tahun-tahun berikutnya, ia konsisten merebut medali dari Piala Wali Kota Probolinggo, Porprov 2023 Sidoarjo, hingga Grand Prix Stage 2 dan Stage 3 2024. Meski sempat gagal lolos seleksi PON Aceh karena hanya berada di peringkat keempat, semangatnya tak surut. Bahkan tahun ini di Porprov Jatim ia sukses dengan raihan emas di nomor Kara Persada Nusa dan perak di nomor Double Shoot.

Kini setelah pulang membawa dua emas dari Rusia, Daniel belum puas. Mimpinya justru makin besar. Ia menargetkan tampil di Kejuaraan Dunia HBA di Hungaria tahun depan. Lebih jauh lagi, ia juga membidik PON 2028 sebagai panggung besar berikutnya. ”Saya ingin bisa tembus PON, sekaligus membawa nama Indonesia lebih sering bergaung di ajang dunia,” tegasnya. (*/adn)

Editor : A. Nugroho
#atlet #memanah #Kota Malang #berkuda