Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Kisah Bening Pambayun Lituhayu yang Dinobatkan Menjadi Juara Catur Internasional

Mahmudan • Senin, 8 September 2025 | 18:51 WIB

 

MEMBANGGAKAN: Bening Pambayun Lituhayu menggemgang piala dan medali yang diraih dalam turnamen catur regional sampai internasional kemarin (7/9).
MEMBANGGAKAN: Bening Pambayun Lituhayu menggemgang piala dan medali yang diraih dalam turnamen catur regional sampai internasional kemarin (7/9).

Habiskan Waktu Empat Jam Per Hari untuk Mengasah Strategi

Usianya masih 7 tahun, tapi Bening Pambayun Lituhayu sudah mengoleksi segudang prestasi. Terbaru, siswi kelas II SDI Baitul Makmur Kota Malang itu meraih medali perunggu untuk kompetisi catur internasional.

SENYUM Bening Pambayun Lituhayu terus mengembang. Tangan kanan memegang piala, sementara tangan kiri menggenggam segebok medali. Semuanya hasil kemenangan atas kejuaraan catur, baik level regional, nasional, bahkan internasional.

Didampingi kedua orang tuanya, bocah berusia 7 tahun itu menceritakan kisahnya bisa menjadi pemain catur andal. Sebelum menekuni dunia catur, ayah dan ibunya, pasangan Imam Faqih dan Fera Nur Aini sempat mengenalkan sejumlah permainan. Tujuan awal bukan membentuk Bening menjadi atlet profesional, melainkan sekadar menghindari gadget. Keluarganya memahami betul bahwa layar smartphone tidak baik untuk anak-anak. Misalnya mudah marah, tantrum dan efek negatif lainnya.

Mainan pertama yang mengisi keseharian Bening kecil adalah puzzle, misalnya menyusun balok agar presisi. Seiring berjalannya waktu, permainan dan aktivitas Bening ditingkatkan. Dari menyusun balok ditingkatkan menjadi menyusun potongan gambar. Mulai dari 9 pcs hingga terakhir mampu menyelesaikan 500 pcs hanya beberapa hari.

Dari puzzle, Bening kemudian dikenalkan dengan dakon. “Semakin lama ia sudah bisa dan semakin tertantang juga kami untuk mencari suatu yang bisa meningkatkan minatnya,” kata sang ibu, Fera yang duduk di samping Bening.

Suatu hari, Fera menemukan ide untuk membelikan papan catur untuk Bening. Dipilih catur karena Bening terbiasa bermain yang orientasinya mengasah otak. Awalnya Fera sempat ragu karena Bening masih berusia 5 tahun. Namun ia menepis keraguan dan yakin papan catur efektif untuk tumbuh kembang otak buah hatinya. Mengejutkan, Bening malah menunjukkan ketertarikan besar terhadap permainan catur. Hal itu dimulai karena Bening suka dengan bentuk pion, menteri, peluncur dan kuda.

Perlahan, kedua orang tuanya mengajari Bening mengenai cara bermain catur. Kedua orang tuanya bukan atlet catur, bukan tidak punya darah juara catur. Baru belajar, Bening berhasil mengalahkan orang tuanya.

Dari sana orang tua menyadari bahwa Bening mempunyai bakat di dunia catur. ”Ketika saya tanya apakah suka bermain catur? Dia (Bening) menjawab iya,” tutur Fera menceritakan percakapan dengan anaknya.

Fera dan suaminya lantas memanggil guru privat untuk mengajari anaknya bermain catur. Pelatihnya adalah Agus Suboro, salah satu pelatih catur di Malang. Bersama Agus, Bening diajari konsep dasar turnamen catur, baik dari sikap duduk, pakaian ketika bertanding, peraturan turnamen catur, hingga cara opening.

Setelah delapan bulan berlatih, Bening menjalani turnamen perdana pada 2024. Kala itu dia masih kelas I SD. ”Turnamen perdana belum membuahkan hasil, tapi anaknya semakin termotivasi,” cerita Fera.

 

Bening kemudian meminta untuk menambah jam latihan. Jika sebelumnya hanya dua kali dalam seminggu, kali ini hampir setiap hari, kecuali hari Minggu. Dalam sehari dia menghabiskan waktu 2-4 jam untuk bermain catur. Pelatihnya pun ganti. Tidak lagi bersama Agus, melainkan Iqra Moesa Putra, salah satu pelatih catur nasional.

Ketika latihan, Bening diminta menguasai 1 opening atau langkah pertama dari ratusan opening yang ada di dunia catur. Juga diajari menguasai langkah selanjutnya dengan beribu kemungkinan.

Setelah gagal meraih juara di Singosari, Bening mencoba kembali di turnamen yang diselenggarakan di Surabaya. Kali ini masuk kategori U-7, sesuai usianya. Bening bertanding dengan 7 round. Dalam kompetisi tersebut, dia berhasil naik podium juara satu. Itu adalah medali emas pertamanya.

Kemudian Bening ikut beberapa turnamen di Kota Malang. Tidak hanya lomba dengan kategori umur yang ia ikuti tetapi juga lomba dengan segala kategori umur. Untuk mengasah kemampuannya, dia rutin mengikuti turnamen warung kopi (warkop) dan melawan semuanya. “Lawan yang paling dekat umurnya adalah anak SMA kelas 11, sisanya Lawan akung-akung (kakek-kakek),” timpal Faqih diikuti tawa ketiganya. ”Memang tidak menang (di turnamen warkop), tapi tujuannya untuk mengasah mental dan jam terbang saja,” tambahnya.

Selama mengikuti turnamen warkop, kedua orang tua juga terus memotivasi Bening. ”Saya sering berpesan, pion itu kecil tapi tidak pernah mundur,” terang Fera ketika memotivasi anaknya melawan pecatur yang lebih dewasa, bahkan tua.

Mei 2025, Bening mengikuti Kejuaraan Catur tingkat kota yang diselenggarakan Wali Kota Malang. Bening masuk kategori U-7 dengan memainkan 7 round. Bening berhasil melibas seluruh lawannya dan meraih podium juara satu.

Keluar sebagai juara bukan berarti berpuas diri. Bening kemudian mewakili Kota Malang bertanding di kejuaraan catur tingkat provinsi. Lokasinya di Tulungagung, akhir Juni lalu. Namun hasilnya tidak sebaik sebelumnya. Bening kalah pada round terakhir ketika melawan pecatur asal Mojokerto. Bening sempat menangis saat keluar arena tanding.

Setelah itu Bening istirahat turnamen. Dia hanya berlatih reguler. Kemudian awal Agustus lalu Bening ditawari ikut lomba catur tingkat pelajar nasional di sekolah BPK Penabur Jakarta. “Semangat ikut karena bisa jalan-jalan dan bisa naik kereta,” tutur Bening.

Setelah diajak jalan-jalan, Bening tampil cemerlang. Ia keluar sebagai juara pertama di kategori Puteri U-7. Tanpa ragu, penyelenggara menawari Bening untuk kembali bertanding di tingkat lanjutan, yaitu Asian Zone 3.3 School Chess 2025 pada akhir Agustus lalu.

Bening mempunyai waktu tiga minggu untuk persiapan menghadapi kompetisi internasional tersebut. Mulai mengasah strategi, hingga melakukan riset terhadap calon lawannya. Bening sempat terkejut karena lawan pertamanya adalah perwakilan Malaysia yang juga malang melintang di turnamen catur. “Deg-degan, takut, karena lawan dari luar negeri dan saya belum tahu taktiknya yang dipakai,” kenang Bening.

Dari 7 babak, Bening mampu mengalahkan 5 kontingen lainnya namun tumbang ketika melawan pecatur Malaysia. Kekalahan itu membuat Bening harus puas membawa pulang medali perunggu.

Kini, dia mengoleksi 10 medali dari 13 turnamen. Kepiawaian di dunia catur membuat Bening populer di sekolahnya. Banyak di antara kakak kelasnya yang mengenal Bening sebagai ”Grand Master Catur Irine Kharisma Sukandar”. Ke depan, dia ingin fokus memantapkan strategi-strategi bermain catur.(*/dan)

Editor : A. Nugroho
#sdi #Internasional #Baitul Makmur #siswi #Kota Malang #kompetisi catur