Sering Ikuti Lomba Lepasan Jarak Jauh.
Dunia burung dara biasanya lekat dengan bapak-bapak penghobi. Tapi Rindu Indra Prasta membalik pandangan itu. Dia serius menekuni bahkan mengadu burungnya sampai ke luar pulau.
RINDU Indra Prasta masih ingat betul masa pandemi Covid-19 pada 2020 lalu. Kala itu, ruang kelasnya di SD Negeri Lowokwaru 2 sepi. Tidak ada tawa teman-teman. Tidak ada guru yang berdiri di depan papan tulis.
Belajar dipindahkan ke rumah dengan ditemani layar gawai yang tak pernah lepas dari genggaman. Namun dari situlah sebuah hobi yang kemudian mengubah hidupnya justru berawal.
Suatu hari, di sela-sela berselancar di dunia maya, ia membaca artikel tentang burung dara. Seekor burung yang dilepas dari jauh, namun bisa kembali ke sang pemilik. Hal sederhana yang bagi sebagian orang mungkin biasa saja, tetapi bagi Rindu terasa seperti keajaiban kecil.
”Saya langsung tertarik, rasanya ingin sekali punya burung yang bisa pulang sendiri,” kenangnya.
Keinginannya ia sampaikan kepada sang ayah, Bambang Irawan. Namun Bambang dan istrinya sempat ragu. Mereka khawatir anak sulungnya itu hanya ikut-ikutan, apalagi Rindu belum pernah merawat hewan sebelumnya.
Tetapi Rindu tidak mudah menyerah. Dengan wajah penuh harap, ia meyakinkan orang tuanya bahwa kali ini ia sungguh-sungguh ingin belajar.
Akhirnya, Bambang luluh. Ia melihat anaknya lebih sering menatap gawai ketimbang beraktivitas. Mungkin memelihara burung bisa jadi jalan keluar.
Dari pasar hewan Splendid di Jalan Brawijaya, Rindu membawa pulang sepasang burung dara jantan dan betina. Harganya Rp 50 ribu per ekor. Meski masih polos, ia berani memilih berdasarkan insting.Yakni burung dengan mata jernih dan tubuh sehat.
Di rumah, sang ayah membuatkan kandang sederhana agar burung bisa tinggal nyaman. Namun, hari-hari awal justru penuh kebingungan. Rindu memberi pakan ayam karena mengira cocok untuk burung dara.
Ukuran kandang yang sempit membuat burung-burung itu stres. ”Jadi sempat bingung sekali, rasanya kok salah terus,” kata gadis yang kini sudah duduk di kelas X SMAN 8 Malang itu.
Bambang lalu mencari masukan dari rekan-rekannya yang hobi memelihara unggas. Dari situlah Rindu belajar pakan burung dara harus berupa jagung giling. Bisa dipadukan dengan beras merah atau kacang hijau.
Burung diberi makan dua kali sehari. Kandang harus rajin dibersihkan. Bahkan, untuk menjaga stamina, burung diberi suplemen sekali sepekan.
Perawatan itu membuahkan hasil. Burung dara betina bertelur setelah tiga pekan dirawat. Rindu pun makin bersemangat. Ia merasa sudah berhasil melewati ujian pertamanya sebagai pemelihara.
Tak lama kemudian, kesempatan mengikuti lomba burung datang. Meski awalnya grogi, ia memberanikan diri. Dia mengikuti lomba arah barat lepasan di Kota Semarang pada 2021. ”Sempat minder karena burung-burung lain katanya sudah sering juara,” tuturnya.
Namun sayang, ia belum berhasil naik podium. Tetapi pengalaman pertamanya membuatnya ketagihan. Rindu terus berlatih dan mengikuti kompetisi. Puncaknya pada 2022, ia berhasil meraih juara pertama dalam lomba burung di Pulau Sumbawa.
”Waktu itu cuaca agak mengganggu, tapi syukurlah burung saya tetap bisa pulang,” katanya sambil tersenyum.
Sejak saat itu, jejak langkahnya semakin jauh. Burung-burung milik Rindu sudah terbang di langit Bali, Jakarta, Pulau Kangean, hingga berbagai kota di Jawa Timur. Tiap lomba, dia selalu membawa 5-10 ekor burung dara.
Namun perjalanan tak selalu mulus. Tahun 2023, seekor burungnya hilang lebih dari sepekan. Rindu nyaris putus asa. Sampai akhirnya burung itu kembali dengan luka di leher akibat serangan burung liar. Ia sedih, tetapi juga bangga karena burungnya mampu pulang meski dalam keadaan terancam.
Bambang yang merawat luka itu bercerita jagung giling yang diberikan selalu keluar dari leher yang sobek. Dua pekan penuh mereka merawat dengan sabar hingga akhirnya burung itu kembali sehat dan bisa diterbangkan lagi.
Selain tantangan dari serangan burung liar, kondisi geografis Malang raya juga sering menguji ketahanan burung. Gunung Panderman, Bromo, hingga pegunungan lain membuat jalur terbang tidak selalu mudah. Burung-burung harus memutar lebih jauh, energi pun terkuras.
”Itu yang bikin sulit, burung bisa kelelahan,” ujar Rindu. Kini, selain aktif lomba, Rindu juga menjalankan bisnis jual beli burung. Kini sudah ada 50 ekor burung yang dipelihara.
Ia menjual merpati pos racing dengan harga mulai Rp 500 ribu hingga Rp 3 juta. Semua itu bermula ketika Bambang membeli seekor merpati keturunan Jan Arden seharga Rp 10 juta dari rekannya di luar Jawa.
Burung itu kemudian dikawinkan dengan burung lokal menghasilkan anakan yang kuat dan bernilai tinggi. ”Dalam sebulan, Rindu bisa menjual enam sampai delapan ekor. Hasilnya dipakai untuk tambahan uang sekolah,” katanya.
Bagi Rindu, burung dara bukan sekadar hobi. Burung-burung itu telah menemaninya tumbuh, dari seorang siswi SD yang bosan di masa pandemi Covid-19, menjadi remaja SMA yang percaya diri dan berprestasi.
Kini, ia sedang mempersiapkan diri menghadapi kompetisi besar berikutnya. Tanggal 3 Oktober mendatang, ia akan bersaing dengan peserta dari 17 daerah. Burungnya akan dilepas dari Pulau Kangean, menempuh jarak ratusan kilometer untuk kembali pulang.
”Saya ingin terus belajar. Menang atau kalah bukan masalah, yang penting dapat pengalaman baru,” ucapnya pelan.
Perjalanan Rindu adalah kisah tentang keberanian kecil yang tumbuh menjadi keyakinan besar. Dari sebuah artikel singkat di gawai, lahirlah semangat yang membuat seorang gadis belia mampu terbang tinggi bersama burung-burungnya. (*/adn)
Editor : A. Nugroho