Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Omar Putra Alleut, Atlet Horseback Archery Kota Malang Tampil Memukau di IHAA World Championship 2025

Aditya Novrian • Selasa, 30 September 2025 | 18:10 WIB
LAWAN KETAKUTAN: Atlet Horseback Archery Pordasi Kota Malang Omar Putra Alleut menunggangi kuda Blue Horse dalam ajang IHAA World Championship di Lewisburg, Tennessee, Amerika Serikat pada 21 Septembe
LAWAN KETAKUTAN: Atlet Horseback Archery Pordasi Kota Malang Omar Putra Alleut menunggangi kuda Blue Horse dalam ajang IHAA World Championship di Lewisburg, Tennessee, Amerika Serikat pada 21 Septembe

Dua Hari Adaptasi Hafalkan Trek dan Jinakkan Kuda

Tidak mudah tampil perdana di kejuaraan internasional dengan lawan-lawan berkelas. Tapi Omar Putra Alleut membuktikan bahwa tekad bisa menaklukkan keterbatasan. Dari tanah Amerika, ia pulang membawa empat medali untuk Indonesia.

KOTA Lewisburg di negara bagian Tennessee terdengar begitu asing di telinga Omar Putra Alleut. Maklum saja, pemuda 18 tahun itu baru pertama kali menginjakkan kaki di Amerika Serikat. Namun, nuansa asing tak membuatnya ciut nyali.

Justru di kota kecil yang jauh dari tanah kelahirannya itu, Omar menorehkan prestasi membanggakan. Ia tampil memukau di ajang IHAA World Championship 2025, kejuaraan memanah berkuda level dunia.

Kepastian Omar tampil di ajang internasional tersebut bermula dari prestasinya di tanah air. Ia meraih gelar juara dalam kejuaraan Horseback Archery (HBA) di Bali dan Banten. Dari situ, tiket menuju panggung dunia terbuka. Waktu persiapan hanya dua bulan. Tiga nomor dipilihnya, Tower 110, Raid 235, dan Hunt Track.

Untuk Tower 110 dan Raid 235, Omar mengaku cukup percaya diri. Sejak menjadi atlet HBA pada 2020, dua nomor itu sudah akrab baginya. Berbeda halnya dengan Hunt Track. Nomor itu menuntut lintasan panjang berbentuk oval dengan target di berbagai sisi. Tempat latihan semacam itu nyaris tidak ada di Malang.

”Tidak ada tempat yang ideal karena lintasan hunt track panjang dan berbentuk oval,” katanya. Mau tak mau, latihan harus disesuaikan. Manuver berkuda tetap diasah seperti biasa, sementara untuk memanah, Omar memilih berlatih di atas tanah. Dengan cara itu, ia bisa membayangkan visual panah yang dilepaskan ke target depan, samping kiri, kanan, hingga belakang.

Tiba di Lewisburg, Omar hanya punya waktu dua hari untuk benar-benar mengenal trek. Hari pertama ia gunakan dengan berjalan kaki mengitari arena. Baru keesokan harinya ia menjajal lintasan dengan menunggang kuda. Itupun hanya diberi kesempatan 30 menit.

Adaptasi lain juga tak kalah menantang. Makanan di negeri Paman Sam membuatnya harus berkompromi dengan selera. Kesulitan berikutnya adalah menemukan kuda yang cocok ditunggangi saat lomba.

Ia mengaku sempat berganti hingga tiga kali. Omar pun nyaman dengan menunggangi kuda blue horse. Saat lomba, Omar datang lebih awal ke lokasi pada 15 September. Sehingga masih punya waktu cukup untuk beradaptasi.

Hari pertama lomba menjadi ujian mental tersendiri. Degup jantung terasa lebih kencang dari biasanya. Maklum, itu adalah debut internasionalnya. Di hadapannya ada atlet-atlet master dari berbagai negara. Namun kegugupan tak dibiarkan menguasai. Omar fokus menjaga konsentrasi.

Giliran tampil di nomor Raid 235, ia justru mengejutkan diri sendiri. Catatan 144,41 poin mengantarkannya naik podium juara tiga. ”Saya sempat kaget karena berhasil menjadi juara tiga di hari pertama,” kenangnya.

Tower 110 menunggu di hari kedua. Sayangnya, lawan-lawannya kali ini adalah atlet kelas dunia dengan catatan rekor tinggi. Omar mencatatkan 197,785 poin. Ia finis di peringkat lima. Namun ada catatan manis yang membuatnya bangga.

”Tetapi nomor itu membuat saya berhasil memecahkan rekor Indonesia karena berhasil mencapai peringkat enam dunia,” kenang dia.

Hari ketiga menjadi kejutan berikutnya. Nomor Hunt Track sebenarnya baru dipelajarinya di Amerika. Ia tak menaruh ekspektasi besar. Omar justru berhasil meraih podium ketiga dengan 198,464 poin.

Dari total perolehan, ia membawa pulang dua medali perunggu, ditambah dua medali perak dari nilai overall perorangan dan tim Indonesia. Prestasi itu terasa istimewa, sebab perjalanan Omar menuju titik tersebut cukup panjang. Ia mengenal panahan sejak kelas 4 SD. Lapangan panah dekat rumah membuatnya tertarik untuk mencoba. Sejak 2017, ia rutin berlatih dan mengikuti lomba-lomba lokal. Piagam dan medali silih berganti menghiasi kamarnya.

Perjumpaannya dengan Horseback Archery terjadi pada 2019. Kerabat ayahnya mengenalkan olahraga yang memadukan panahan dengan manuver berkuda itu. Bagi Omar, kombinasi tersebut terdengar keren sekaligus menantang. Konsentrasi dan keseimbangan diuji dalam satu waktu.

Mulai saat itu, setiap sore ia menunggang kuda. Sekadar berkeliling rumah atau jalan-jalan terdekat. Dari rutinitas itu, kemampuan riding perlahan terbentuk. Aksinya menunggang kuda dengan kecepatan tinggi bahkan sempat viral di komunitas Equestrian.

Bakat itu membuatnya dilirik Malang Equestrian Club. Sang pengelola, Elmi Kartono, memberi pelatihan khusus. Tiga kali ditempa, Omar pulang dengan kemampuan riding yang lebih matang.

Tahun 2020 menjadi titik balik. Ia memberanikan diri mengikuti kejuaraan terbuka di Bukit Bintang, Kota Batu. Debutnya manis. Medali perak dibawanya pulang. Lalu berturut-turut ia mengumpulkan prestasi lain. Juara di HBA Live Streaming Competition 2020, lolos seleksi Kejurnas 2021 di Jakarta, hingga membawa medali emas di eksibisi Porprov Jatim 2022.

Rangkaian prestasi itu berlanjut di Kejurnas 2023 dan Porprov Jatim 2023. Omar bahkan merasakan atmosfer Pekan Olahraga Nasional meski saat itu masih berstatus eksibisi. Dua medali perak ia persembahkan untuk timnya.

Tahun ini, tren prestasinya tak berhenti. Dua emas dipersembahkan di Porprov IX Jatim 2025. Lalu empat medali di ajang IHAA World Championship 2025.

Kini, setelah pulang dari Amerika, Omar tak ingin berpuas diri. Ia sudah menatap target lebih tinggi. ”Salah satu keinginan saya bisa ikut di Horseback Archery World Cup di Madinah suatu saat nanti,” tandasnya. (*/adn)

Editor : A. Nugroho
#memanah #IHAA World Championship 2025 #level dunia #berkuda