Rela Habiskan Puluhan Juta demi Suara Sempurna.
Setiap kabel dan alat di meja kerja Pradono Gunawan punya cerita. Dari luar, tampak rumit dan mahal, tapi bagi dia itu cara untuk mendengar kejujuran dari setiap nada. Di dunia kecilnya, musik jadi bahasa yang paling tulus.
MEJA kerja Pradono Gunawan tak pernah benar-benar sepi. Ada deretan perangkat audio tertata rapi. Mulai In-Ear Monitor (IEM) dengan kabel berlapis silver plate, amplifier mungil berdesain minimalis, digital audio player (DAP), hingga digital to analog converter (DAC). Semua saling terhubung lewat kabel tebal yang bergulung di sisi meja.
Saat perangkat itu dinyalakan, lampu indikator kecil berpendar lembut. Sebuah ritual pun dimulai. Bagi sebagian orang, tampilan meja itu mungkin terkesan rumit dan berlebihan. Tapi bagi Pradono, inilah caranya menikmati hidup.
Dengan perangkat itu, setiap lagu berubah menjadi pengalaman utuh. Vokal yang hangat, petikan gitar kedua yang jelas, dan hentakan drum yang terasa nyata di telinga.
”Kalau sudah pas, rasanya seperti duduk di tengah konser, tapi konsernya di kepala sendiri,” ujarnya sambil tersenyum kecil.
Genre favoritnya adalah alternatif dan rock klasik. Ia menyebut dua jenis musik itu menuntut kejelasan detail suara yang tidak bisa disajikan oleh earphone biasa. Karena itu, ia mulai mengoleksi perangkat satu per satu, mencari kombinasi paling sempurna untuk telinganya. Prosesnya tidak sebentar dan sering kali melelahkan.
”Saya jarang beli di marketplace, Sebagian besar alat saya harus impor langsung dari luar negeri,” katanya.
Salah satu kebanggaannya adalah IEM Hi-Fi SeeAudio Kaguya, earphone langka yang hanya dimiliki segelintir orang di Indonesia. Produk itu dijual eksklusif di situs resmi pabrikan dan dihargai sekitar Rp 20 juta per set. Jumlah yang bagi banyak orang mungkin terlalu tinggi hanya untuk sepasang earphone.
”Kalau dipikir logika, uang segitu bisa buat beli motor,” ungkapnya. Kegemarannya berburu alat audio membuatnya sering berhubungan langsung dengan pihak pabrikan. Salah satunya saat ia ingin memiliki amplifier dan DAC Quloos QA390 keluaran 2020, produk yang kini sudah tidak dijual di pasaran.
”Saya sampai pesan lewat karyawan pabriknya langsung,” katanya. Harganya mencapai Rp 26 juta dan kini perangkat itu makin langka karena pabrik pembuatnya sempat terbakar dan berhenti produksi.
Di balik semua peralatan mahal itu, ada filosofi sederhana yang dipegang Pradono. Setiap alat punya karakter dan fungsi sendiri. Ada IEM yang cocok untuk musik rock, ada yang lebih pas untuk instrumental, dan ada pula yang dibuat khusus bagi para gamer.
Ia mencontohkan CVJ Assassin, earphone berharga sekitar Rp 1 juta yang ia gunakan saat bermain gim online. ”Suara langkah lawan kedengaran jelas banget. Mikrofonnya juga bersih,” ujarnya.
Perjalanan Pradono di dunia audio sebenarnya sudah dimulai sejak lama. Ia masih ingat masa-masa di era 1990-an ketika harus memutar kaset di walkman atau radio tape. Bunyi kresek pita yang terjepit jadi hal biasa, tapi justru di situlah kenikmatan muncul.
”Dulu, bisa dengar musik di mana saja itu sudah ajaib. Sekarang keajaibannya ada di detail dan kejernihan suara,” katanya.
Namun menjadi audiophile bukan berarti tanpa risiko. Ia mengaku beberapa kali apes karena barang yang datang tidak sesuai harapan.
”Pernah beli earphone jutaan tapi hasilnya kayak yang dua ratus ribuan. Pernah juga baru seminggu dipakai, mati sebelah,” ujarnya. Tapi baginya, itulah bagian dari perjalanan mencari suara terbaik. Tidak semua yang mahal pasti bagus dan tidak semua yang murah bisa diremehkan.
Kini lebih dari empat puluh item audio tersimpan di rumahnya. Dari earphone, amplifier, kabel, hingga DAC berbagai merek dan generasi. Semuanya punya kisah sendiri. Ada yang dibeli dari luar negeri, ada yang didapat dari barter sesama kolektor, dan ada pula yang sudah tak tergantikan nilainya.
Sore itu, di ruang kerjanya yang sunyi, Pradono kembali duduk di depan meja. Ia menyalakan DAP, mengenakan IEM, lalu memutar lagu ”1979” dari The Smashing Pumpkins. Alunan suara memenuhi ruangan dengan lembut. Matanya terpejam, jemarinya mengetuk meja mengikuti irama.
Di tengah hiruk pikuk dunia, Pradono menemukan ketenangan lewat suara. ”Kalau orang lain cari damai lewat kopi, saya cukup lewat musik,” ujarnya lirih, sebelum tenggelam lagi dalam simfoni yang hanya bisa ia dengar seutuhnya. (*/adn)
Editor : A. Nugroho