Dapat Bantuan Pendanaan setelah Karyanya Tampil di Australia
Beberapa film pendek karya Novin Wibowo mendapat ganjaran prestasi di sejumlah ajang. Terbaru, ada film berjudul Mbiyodo yang ditampilkan di Indonesia Western Australia Festival Film (IWAFF). Sejak 30 Juli lalu, karya Novin itu bisa dinikmati lewat Vidio.
ANDIKA SATRIA PERDANA
Tema budaya Jawa mengantarkan Novin ke panggung festival film Australia awal Oktober lalu. Dosen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) itu mengambil cerita yang cukup familiar. Yakni mbiyodo atau membantu orang yang punya hajatan.
Dalam film pendek berdurasi 10 menit itu, Novin menggambarkan fenomena yang biasa terjadi di dalam mbiyodo. Pertama, yang ditampilkan adalah kebiasaan gosip antar-tetangga. Kemudian timbul fitnah dari perbincangan seperti itu. Hingga problem yang sering terjadi saat hajatan adalah bahan berupa daging yang menghilang.
Itu sering dihubungkan dengan hal mistis atau gangguan makhluk halus.
Namun dalam film Mbiyodo itu, terjadi plot twist terkait hilangnya daging. Kesimpulan ceritanya bisa ditonton lewat streaming di Vidio. ”Ada dua film saya, Mbiyodo dan Kepaten Obor yang ditampilkan di IWAFF (Indonesia Western Australia Festival Film). Diambil dari pengalaman pribadi, saya ingin menyampaikan uniknya budaya Jawa kepada masyarakat luar negeri,” ujar Novin.
Sebelum diputar di IWAFF, film Mbiyodo harus melalui beberapa proses penyaringan. Mulanya, film tersebut mengikuti Kompetisi Asli Film Jawa Timur (Komfilasi). Pada event itu, Mbiyodo meraih juara ketiga. Tak berhenti di situ, ada proses screening terakhir yang perlu dijalani.
Penyaringan itu dilakukan Konsulat Jenderal Australia di Perth. Setelah lolos dua tahap itu, kemudian Mbiyodo ditayangkan pada 4 Oktober lalu di Luna SX, Fremantle, Australia. ”Alhamdulillah dalam dua kali penayangan seluruh tiket habis terjual, ada 140 kursi. Yang datang ada warga Indonesia dan warga Australia,” terang dosen jurusan ilmu komunikasi itu.
Dari IWAFF itu, pintu Novin dalam dunia film semakin terbuka. Untuk pertama kalinya, karya garapannya masuk layanan streaming. Bukan kaleng-kaleng, layanan itu yakni Vidio, aplikasi streaming film, serial, dan olahraga terbesar di Indonesia.
Total ada 33 film yang ditayangkan dalam IWAFF. Dari jumlah itu, Vidio melakukan seleksi ulang hingga tersisa 10 film. Mbiyodo menjadi salah satu yang terpilih dan bisa ditonton melalui aplikasi tersebut sejak 30 Juli lalu.
Berkat karyanya ditayangkan di IWAFF, pria kelahiran Kediri tersebut bakal mendapat pendanaan untuk proyek film. Bantuan itu diberikan oleh badan film di Australia, yakni Screenwest.
Saat ini, masih dilakukan beberapa pertemuan dengan pihak Screenwest untuk membahas film yang akan digarap. ”Pendanaan yang akan diberikan bisa mencapai 90 persen (biaya operasional). Saat ini sedang disusun (teknisnya), mudah-mudahan bisa segera diproduksi (film),” ujar produser film Darah Biru Arema (DBA) tersebut.
Penayangan karya di IWAFF hanya sebagian dari prestasi Novin. Sebelumnya, film pendek karyanya yang berjudul Persenan juga ditayangkan di festival film mancanegara. Tepatnya di Dhaka International Film Festival (DIFF), Bangladesh.
Persenan mengambil tema melawan praktik korupsi. Menceritakan tentang dua sahabat yang terlibat konflik praktik korupsi proyek di pemerintahan. ”Selain DIFF, Persenan meraih juara ketiga ide cerita terbaik pada Anti-Corruption Film Festival (ACFFEST) yang dilaksanakan KPK tahun 2021,” beber Novin.
Selanjutnya ada film dokumenter Menjemput Ilmu di Sarang Peluru yang mengambil setting di Aceh. Film itu juga menang di Kemenpora Film Festival. Ada lagi film berjudul Presiden Singkong yang pernah ditayangkan pada Festival Film Nusantara (FFN).
Bukan hanya karya, Novin juga aktif dalam komunitas ekonomi kreatif. Dia merupakan salah satu mentor di Kawasan Ekonomi Kreatif (KEK) Singosari, Kabupaten Malang. Dia turut menginisiasi Ismaya (Insan Sinema Malang Raya). Wadah gabungan untuk pelaku film. Seperti pembuat, pengamat, pemutar, dan distributor.
Bagi Novin, film memberikan ruang untuk berekspresi dan interpretasi yang lebih luas. Sebab di dalamnya turut menggabungkan audio dan visual. Tidak sebatas cara mengambil gambar. Di situ juga diperlukan cara membuat cerita, akting, menata pencahayaan, ilustrasi musik hingga tahap akhir proses editing.
”Sebelumnya saya pelukis, kemudian beralih ke film karena yang dikembangkan lebih luas. Dengan tantangan itu, saya mengambil fokus untuk membuat film,” pungkas dosen yang berdomisili di Kecamatan Karangploso tersebut. (*/by)
Editor : A. Nugroho