Dua Kali Dapat Pendanaan dari Pemerintah Pusat
AROMA jerami basah bercampur udara pagi menyelimuti Embik Farm Integrated Farming yang terletak di Desa Jambangan, Kecamatan Dampit, Kabupaten Malang. Dari kejauhan terdengar suara kambing mengembik bersahutan seolah memanggil sang tuan muda yang tengah menakar pakan di tangannya.
Di tempat sederhana yang berdiri di antara ladang dan perbukitan itu, Lukman Hakim Arifin menata langkah baru dalam hidupnya. Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) itu kini menjadi satu-satunya penerus usaha peternakan yang diwariskan mendiang ayahnya.
Dulu, aroma kambing saja membuatnya berpaling. Tapi hidup tak selalu berjalan sesuai rencana. Ketika sang ayah wafat pada 2023, tanggung jawab besar itu jatuh ke pundaknya yang baru berusia 20 tahun. ”Awalnya saya nggak suka sama sekali,” tutur Lukman.
Awalnya, Embik Farm hanya memiliki beberapa kambing pedaging yang dikelola secara konvensional. Kini, lebih dari 33 ekor kambing menempati kandang berukuran sedang di lahan miliknya. Dari jumlah itu, tiga di antaranya adalah kambing perah yang setiap hari menghasilkan susu segar.
Jenis kambing yang ia pilih bukan sembarangan. Sapera, hasil persilangan antara Saanen asal Swiss dan Etawa dari Indonesia. Jenis ini terkenal dengan produktivitas susu yang stabil, meski tak sebanyak sapi perah.
Dalam sehari, seekor Sapera mampu menghasilkan 2–3 liter susu. Tak besar, tapi cukup menjanjikan. Bagi Lukman, langkah itu menjadi awal perjalanan baru.
Ia banyak belajar dari video YouTube, diskusi dengan peternak senior, dan mengikuti berbagai pelatihan agribisnis. Ia sadar menjual daging kambing saja tak cukup untuk membuat usaha bertahan.
”Saya mulai berpikir bagaimana supaya kambing ini bisa menghasilkan produk setiap hari. Dari situ saya fokus ke susu kambing,” ujarnya.
Susu kambing, lanjutnya, punya kandungan gizi yang tak kalah dibandingkan susu sapi. Struktur lemaknya lebih kecil sehingga mudah dicerna, dan kadar laktosanya rendah, cocok untuk mereka yang intoleran terhadap laktosa. Kandungannya kaya protein, kalsium, magnesium, dan vitamin yang baik bagi tubuh.
Tak heran, banyak dokter yang menyarankan susu kambing sebagai terapi tambahan bagi pasien dengan penyakit kronis. Lukman bercerita tentang salah satu pelanggannya seorang bapak yang rutin membeli susu kambing untuk anaknya yang sakit paru-paru.
”Setelah beberapa waktu, katanya anaknya membaik. Saya ikut senang dengarnya,” ucapnya dengan mata berbinar.
Tantangan besar datang dari stigma masyarakat yang menganggap susu kambing amis dan berbau tajam. Padahal, Lukman menemukan cara sederhana untuk mengatasinya dengan menambahkan daun pandan saat proses pengolahan. Aroma khas kambing pun tersamarkan. Menghasilkan rasa lembut dan harum alami.
Inovasi itu bahkan mengantarkannya meraih Program Pembinaan Mahasiswa Wirausaha (P2MW) tahun 2024 dengan ide ”Susu Kambing Tinggi Omega 3”. Ia mendapatkan pendanaan sebesar Rp 20 juta untuk mengembangkan usahanya.
Dengan dana itu, Lukman memperluas jangkauan pasar lewat enam reseller yang tersebar di Kota Malang, Dampit, Singosari, Dau, Tumpang, dan Gondanglegi. Ia juga membantu para reseller dengan fasilitas freezer agar penyimpanan susu lebih terjamin.
Setiap pekan, ia mengirim antara 10 hingga 30 liter susu ke tiap titik. Dalam waktu singkat, susu kambing Embik Farm mulai dikenal sebagai produk lokal dengan cita rasa dan manfaat kesehatan yang istimewa.
Namun, jiwa muda Lukman tak berhenti di situ. Ia ingin terus berinovasi, menciptakan produk turunan yang bisa menambah nilai jual. Ia mencoba membuat yoghurt meski hasilnya sempat gagal karena tekstur yang menggumpal seperti tahu. Alih-alih menyerah, ia mencoba mengolah susu kambing menjadi es krim.
Hasilnya? Sejak Agustus lalu, produk es krim susu kambing buatannya mulai diperkenalkan ke masyarakat. ”Es krim ini masih baru, kami juga masih ikut kelas supaya rasanya bisa seperti es krim pada umumnya,” ujarnya. Ia memasarkan produknya lewat media sosial, mengunggah stok 30 cup per hari dan selalu habis dalam sehari.
Es krim itu hadir dalam tiga varian rasa. Original, stroberi, dan cokelat. Meski masih tahap pengenalan, respons pasar cukup menggembirakan. Banyak yang penasaran mencoba sensasi baru dari susu kambing yang diolah jadi camilan manis.
Selain fokus pada produk pangan, Lukman juga menaruh perhatian pada limbah peternakannya. Ia tak ingin kotoran kambing terbuang percuma. Dari situ lahirlah pupuk organik buatan Embik Farm, hasil campuran kotoran kambing dengan dolomit dan serabut kelapa.
Pupuk itu mengandung nutrisi tinggi dan mampu memperbaiki struktur tanah. Dengan langkah ini, peternakan Lukman benar-benar bertransformasi menjadi sistem pertanian terpadu yang ramah lingkungan.
Berkat konsistensinya, pada 2025 ia kembali terpilih menerima pendanaan P2MW untuk kedua kalinya. Tak hanya itu, Pemkab Malang juga memberikan penghargaan sebagai Pemuda Inovatif di bidang wirausaha sosial.
Bagi Lukman, penghargaan itu bukan akhir, melainkan awal dari perjalanan panjangnya menjaga warisan sang ayah sambil membawa napas baru ke dunia peternakan modern. ”Saya ingin membuktikan bahwa peternakan bukan pekerjaan kotor,” katanya. (*/adn)
Editor : A. Nugroho