Hasil Inovasi Pernah Ditolak Tujuh Perusahaan
DUA pekan lalu, langkah dr Domy Pradana Putra SpOT terasa lebih ringan ketika meninggalkan sebuah auditorium megah di Rio de Janeiro, Brasil. Di kota yang terkenal dengan pantainya yang hangat dan gedung-gedung berarsitektur kolonial itu, namanya baru saja dipanggil di panggung internasional.
Ia menerima penghargaan 2nd Winner of Most Innovative Project-Private Sector dari ajang Global Innovation Management Institute (GIMI) Innovation Award 2025. Namun di balik senyum yang tersungging, Domy seperti kembali dihadapkan pada perjalanan panjang yang membawanya sampai ke panggung tersebut.
Perjalanan yang dimulai hampir satu dekade lalu. Di sebuah ruang operasi rumah sakit tempat ia dulu berstatus sebagai dokter residen. Waktu itu, tahun 2016, Domy sering berjam-jam berada dalam ruang operasi.
Sebagai residen ortopedi, ia banyak terlibat dalam tindakan pembersihan luka dan pengangkatan jaringan mati atau terinfeksi yang dalam dunia medis disebut debridement. Di balik fokus dan ritme operasi yang cepat, ada masalah kecil yang berulang-ulang muncul. Sumbatan pada selang penghisap luka.
Bagi residen, kejadian itu bukan sekadar gangguan kecil. Setiap sumbatan berarti operasi harus berhenti sejenak, alat dibersihkan, dan prosedur berikutnya tertunda. Waktu operasi bisa molor 5 hingga 10 menit.
”Secara konsep, alat penghisap itu kan punya tiga komponen. Ujung, selang, dan mesin. Yang saya modifikasi adalah bagian ujung,” kenang Domy.
Ujung alat itu biasanya terbuat dari plastik atau metal. Yang metal bisa dibersihkan, tapi tidak semua rumah sakit punya. Yang plastik harus dipotong jika tersumbat dan itu jelas
memakan waktu. Penyumbatnya pun beragam. Darah kental, jaringan mati, kerikil, bahkan serpihan kayu pada pasien kecelakaan.
Semua itu membuatnya berpikir bahwa ada yang harus diperbaiki dari alat yang selama ini dianggap standar. Dari kegelisahan itulah muncul ide awal Domy Brush Suction.
Ia menghabiskan hampir dua tahun melakukan kajian kecil-kecilan sembari menyelesaikan masa residennya. Di akhir masa pendidikan, ia mulai merancang prototipe menggunakan teknologi 3D printing.
Saat itu, ia merasa butuh momentum untuk menunjukkan gagasannya. Kebetulan ada lomba inovasi Indonesia Health Care Forum. Sehingga prototipe itu benar-benar ia kebut.
Inovasi yang ia buat tampil berbeda dibandingkan suction konvensional.
Ujungnya tumpul, non-traumatic, sehingga lebih aman digunakan pada area sensitif seperti pembuluh darah atau medula spinalis. Pada bagian permukaan, ia menambahkan lubang berukuran 0,2 sentimeter dengan prinsip enam selang kecil sebagai jalur masuk cairan dan kotoran.
Dengan desain tersebut, risiko sumbatan bisa ditekan karena aliran lebih terdistribusi. Setelah prototipe jadi, Domy memasuki babak yang lebih sulit. Mengonversi ide menjadi produk medis sesungguhnya.
Ia mulai mencari perusahaan manufaktur alat kesehatan yang mau mengembangkan gagasannya. Tidak mudah. Ia sempat ditolak tujuh perusahaan. Bukan karena idenya jelek, tetapi karena perusahaan-perusahaan itu tidak memiliki fasilitas produksi yang cocok untuk membuat desainnya.
Namun ia tidak berhenti. Seorang kenalan mempertemukannya dengan OneMed, produsen alat kesehatan besar di Indonesia. ”Saya harus presentasi. Rasanya lebih menegangkan dibanding sidang akhir,” cerita Domy sambil tertawa.
Tantangan makin besar ketika ia harus mempelajari konsep pemasaran dan pembagian royalti. Hal yang sama sekali tidak ada dalam kurikulum kedokteran. Ia baru tahu bahwa besaran royalti tidak pernah baku. Setiap perusahaan memiliki standar dan setiap inovator harus bisa bernegosiasi.
Setelah kesepakatan tercapai, proses pengembangan produk akhirnya dimulai. Perjalanan dari prototipe menuju produk final tidak sesederhana mencetak ulang alat. Dari segi bentuk, kemiripannya hanya 60 persen.
Jika seluruh detail prototipe dipertahankan, produk bisa dijual seharga sekitar Rp 40 ribu. Setelah disesuaikan, harga jualnya menjadi Rp 18 ribu, jauh lebih terjangkau.
Setelah melalui proses panjang, Domy Brush Suction akhirnya resmi diluncurkan pada Januari 2024 di hadapan Kementerian Kesehatan RI dan jajaran OneMed.
”Klien pertama saya tentu RSSA,” ujarnya. Dalam sebulan, rumah sakit itu membutuhkan sekitar sepuluh boks, masing-masing berisi 20 pieces. Produk tersebut kemudian merambah rumah sakit jejaring, bahkan hingga Sulawesi, Sumatera, dan Papua. (*/adn)
Editor : A. Nugroho