Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Sisi Lain Ira Puspadewi Asal Pakis yang Terjerat Dugaan Korupsi, Empat Tahun Lulus meski Kuliah Sambil Urus Anak

Mahmudan • Senin, 24 November 2025 | 16:00 WIB

 

DIKENAL CERDAS: Ira Puspadewi beraktivitas selama mengemban amanah sebagai direktur utama PT ASDP Ferry beberapa waktu lalu. (istimewa)
DIKENAL CERDAS: Ira Puspadewi beraktivitas selama mengemban amanah sebagai direktur utama PT ASDP Ferry beberapa waktu lalu. (istimewa)

Kamis lalu (20/11) menjadi akhir perjalanan karier Ira Puspadewi. Perempuan asal Pakis, Kabupaten Malang divonis 4 tahun 6 bulan penjara atas kasus dugaan korupsi. Alumnus Universitas Brawijaya (UB) yang dikenal cerdas itu pernah mengemban amanah sebagai direktur PT ASDP Ferry.

NAHDIATUL AFFANDIAH

 

HIDUP Ira Puspadewi dimulai pada 1967 di rumah dinas ayahnya, prajurit TNI AU di Pakis, Kabupaten Malang. Si bungsu dari 11 bersaudara itu menjalani hidup sederhana, lazimnya anak prajurit. Memasuki kelas II SD, ayah Ira wafat sehingga ibunya menjadi tulang punggung keluarga. Membesarkan 11 anak seorang diri.

Banyak kenangan masa kecil Ira di Malang. Salah satunya, Ira kecil sering berbagai handuk dengan 10 saudaranya. Maklum, mereka hanya punya satu handuk. Sebagai anak bungsu, Ira sering mendapat bagian mandi terakhir, sehingga handuk yang dipakai sudah hampir basah, sisa kakak-kakaknya. Suatu ketika saudara Ira berkunjung dan mendapati jemuran handuk di depan rumah. Kerabat Ira sempat menyangka handuk tersebut adalah kain lap, karena kondisi kumal dan lepek.

Hingga dua tahun setelah kepergian ayahnya, Ira masih tinggal di Malang. Mereka hidup sederhana dengan rumah 3 kamar dibagi untuk 11 orang. Setelah itu Ira sekeluarga pindah ke Surabaya. Di kota pahlawan, Ira dan saudaranya tinggal di rumah lebih sederhana lagi dengan beberapa atap bocor.

Ira yang cerdas dan disiplin sejak kecil berhasil menembus Universitas Brawijaya untuk jenjang sarjana pada 1986. Dengan keuangan pas-pasan, dia memilih masuk fakultas peternakan. Biaya kuliah dibantu Zaim Uchrowi yang kelak menjadi suaminya. Mereka memutuskan menikah sejak Ira semester dua. “Kami mengontrak di depan kampus UB, tepatnya di Tlogomas,” kenang Zaim Uchrowi, suami Ira saat dihubungi via telepon kemarin.

Setahun pernikahan, mereka dikaruniai buah hati. Ira berhasil menamatkan gelar sarjana pada 1990 dalam waktu empat tahun sembari mengurus keluarga kecilnya. Selang tiga tahun kemudian, Ira bersama suami melanjutkan pendidikan magister di Asian Institute of Management, Filipina. Program itu mengharuskan keduanya lulus dalam setahun dan berhasil meraih gelar master Development Management. Lalu pada 2011, Ira melanjutkan pendidikan doctoral di Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Indonesia (UI).

Karier Ira cukup mentereng pasca-program magister di Filipina itu. Dia pernah menduduki Director Global Initiative Regional Asia di perusahaan global GAP dan Banana Republic. Ira aktif mengelola operasi di tujuh negara sejak 2006.

Melihat etos kerjanya yang bagus, Dahlan Iskan yang kala itu menjabat Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) meminta Ira kembali ke Indonesia. Dahlan mengenal Ira sejak dijenguk ketika menjalani operasi hati di Tiongkok. Pada tahun yang sama, 2014, Ira diangkat menjadi Direktur Utama PT Sarinah. Berlanjut menjadi Direktur Ritel, Jaringan, dan SDM di PT Pos Indonesia. Lalu pada 2017 dipercaya memimpin PT Angkutan Sungai, Danau, dan Penyeberangan (ASDP) Ferry (Persero) hingga 2024. “Kondisi ASDP saat itu dipandang sebagai layanan feri tradisional dan kurang profesional,” lanjut Zaim.

Hal pertama yang dilakukan Ira adalah menata kembali manajemen ASDP. Mulai membangun nilai profesional, meningkatkan layanan, serta mengubah sistem pelabuhan menjadi lebih modern. Ira terinspirasi dari transformasi kereta api (KA) era Ignasius Jonan. Namun perlu banyak penyesuaian karena mengelola pelabuhan jauh lebih kompleks dibanding stasiun atau kereta api. Dengan kegigihannya, laba ASDP bisa naik hingga 100 persen.

Versi Zaim, ASDP menjadi satu-satunya BUMN di bidang transportasi yang tetap mendapat laba saat Covid-19. Banyak profesional di bidang pelabuhan memilih bekerja di ASDP karena reputasi kepemimpinan Ira. Pada 2022, Ira meraih penghargaan The Best Industry Marketing Champion kategori Transportation dalam ajang Marketeer of The Year (MOTY) 2022.

Kasus hukum yang menjerat Ira bermula laporan terkait pembelian PT Jembatan Nusantara (JN). Pembelian perusahaan yang menaungi kapal-kapal disebut-sebut dianggap tak sesuai spesifikasi pengadaan, sehingga dinilai merugikan negara hingga Rp 1,25 triliun.

Saat itu ASDP menguasai 100 persen saham PT Jembatan Nusantara. Total ada 53 kapal yang dikelola total bobot 99 ribu Gross Register Tonnage (GRT) mencapai Rp 2,2 triliun. Setelah mengakuisisi, ASDP meraih laba tertinggi sepanjang sejarah. PT JN dibeli seharga Rp 1,27 triliun dan berhasil memberi laba Rp 1,8 triliun dalam waktu tiga tahun.

Saat itu ASDP juga berhasil menjadi BUMN non-publik penyumbang dividen terbesar ke-7. “Saat putusan 20 November lalu, Ketua Majelis Hakim Sunoto mengatakan bahwa istri saya (Ira Puspadewi) terbukti tidak menerima aliran dana sepeser pun dari akuisisi tersebut,” lanjut Zaim.

Namun, dua hakim lainnya bersikeras bahwa keputusan Ira mengakuisisi PT JN adalah kelalaian yang mengakibatkan merugikan negara. Ira dijatuhi hukuman 4 tahun 6 bulan penjara oleh majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta Pusat, 20 November lalu. Atas vonis tersebut, keluarga akan mengajukan banding.(*/dan)

Editor : Aditya Novrian
#Vonis #korupsi #Pakis #ira puspadewi