Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Raisa Matahati Menjadikan Keramik sebagai Ruang Belajar Banyak Orang

Aditya Novrian • Rabu, 26 November 2025 | 17:25 WIB

 

BUKA RUANG KREATIF: Raisa Matahati menunjukkan salah satu karyanya di Studio Matahati Ceramics pada Minggu lalu (23/11).
BUKA RUANG KREATIF: Raisa Matahati menunjukkan salah satu karyanya di Studio Matahati Ceramics pada Minggu lalu (23/11).

Raisa Matahati menghidupkan kembali studio keramik peninggalan ayahnya setelah bertahun-tahun vakum dan menjadikannya ruang belajar yang terbuka untuk banyak orang. Studio itu berkembang bukan hanya sebagai usaha kreatif. Tetapi tempat di mana Raisa terhubung dengan banyak cerita dan perjalanan hidup orang lain. 

MEMASUKI Studio Matahati Ceramics di sebuah sudut Jalan Wastu Asri, Junrejo, Kota Batu, rasanya seperti menjejakkan kaki ke ruang yang membuat waktu berjalan lebih lambat. Aroma tanah basah menyeruak pelan bercampur wangi cat yang baru mengering. Ruangan itu tidak luas, tetapi setiap sudut seolah hidup oleh ratusan karya.

Vas-vas ramping berdiri berdempetan seperti barisan model di belakang panggung. Cangkir, mangkuk, asbak, dan pajangan kecil bertebaran rapi. Sebagian memantulkan cahaya lampu dari permukaannya yang sudah mengilap, sebagian lain masih kusam menunggu giliran untuk dipoles.

Di tengah ruangan, seorang perempuan muda berkacamata duduk di hadapan electric wheel. Tangan Raisa Matahati bergerak pelan seperti penari. Jemarinya menekan, mengangkat, lalu membentuk putaran tanah liat yang terus bergerak mengikuti irama mesin.

Dalam hitungan menit, gumpalan itu berdiri tegak menjadi sebuah vas bunga yang proporsional dan anggun. Di sebelahnya, seorang tamu mencoba menirukan gerakannya. Kaku, ragu, tetapi tersenyum lebar ketika bentuk keramiknya mulai muncul meski tidak sempurna.

Raisa hanya tertawa kecil sambil membenarkan lekukan yang miring. ”Saya banyak belajar keramik dari ayah,” katanya tanpa menghentikan putaran roda.

Sang ayah, seorang pengajar keramik di Universitas Negeri Surabaya (Unesa) membuka studio sekitar tahun 1994. Namun, kesibukan mengajar membuatnya tak sempat mengelola tempat itu secara penuh. Studio lama itu akhirnya tertidur, dibiarkan sunyi bertahun-tahun.

Bagi Raisa, dunia seni bukan hal baru. Masa kecilnya diisi dengan warna, tekstur, dan cerita dari tangan ayahnya. Tidak heran ketika menginjak bangku kuliah, dia memilih Pendidikan Seni Rupa di Universitas Negeri Malang (UM). Lulus kuliah justru membuat sebuah pertanyaan lama kembali menghampir. Haruskah studio keluarga itu dihidupkan kembali.

Keraguan sempat mengendap. Sebab keramik bukan seni yang akrab untuk semua orang. Tetapi justru di titik itulah dia merasa tantangan itu menarik.

Dia mulai merombak konsep studio, mencari cara agar keramik tidak hanya dipandang sebagai benda pajangan, tetapi pengalaman. Dari situ lahirlah layanan pottery class yang kemudian menjadi ruh utama Matahati Ceramics.

”Titik naiknya ya sejak aktif bikin konten di media sosial,” ujarnya. Video-video singkat tentang kelas, proses membuat keramik, hingga reaksi orang-orang yang pertama kali menyentuhkan tangan ke tanah liat mulai ramai ditonton.

Dari sana, peminat berdatangan. Bukan hanya warga Malang Raya, tetapi dari berbagai kota, bahkan mancanegara. Turis Australia, rombongan Eropa, hingga pelancong dari kawasan Asia pernah duduk di kursi kayu studio kecil itu.

Mereka datang dengan penasaran dan pulang membawa cerita. Raisa mengaku bertemu banyak karakter. Ada keluarga-keluarga kecil yang sehari-hari jarang duduk bersama, lalu datang ke kelas keramik untuk sekadar berbagi waktu. Ada pula pasangan muda yang menghabiskan akhir pekan dengan membuat cangkir berpasangan.

Bahkan, public figure Eca Japasal memilih merayakan ulang tahun dengan keluarga di sana. ”Keramik yang mereka buat itu nanti jadi kenangan. Saat mereka kembali ke aktivitas masing-masing, benda itu seperti mengikat momen yang tak sempat diceritakan,” ujar alumnus SMAN 1 Batu itu.

Studio itu pelan-pelan menarik perhatian para seniman. Nama besar seperti Asmudjo Jono Irianto, Direktur Artistik Artsub, pernah singgah. Mahasiswa Institut Seni Indonesia Yogyakarta juga beberapa kali belajar di sana. Jaringan itu tumbuh organik, seiring reputasi Matahati Ceramics yang makin dikenal.

Tidak berhenti di sana, beberapa kedai kopi di Malang mulai memajang karya studionya sebagai wadah minuman. Perusahaan-perusahaan besar seperti Pertamina, Pelindo, Kemenkeu, Unilever, dan Wilmar kerap mengundang Raisa untuk mengisi company training bertema keramik.

Namun di balik geliat bisnisnya, Raisa masih menyisakan tempat untuk hal yang lebih hangat. Dia secara rutin bekerja sama dengan kitabisa.com untuk mengadakan kelas keramik gratis bagi anak-anak disabilitas dan yatim. ”Mereka justru terlihat lebih nyaman dan tenang selama kelas,” ujarnya.

Semakin lama, Raisa menyadari bahwa studio kecil itu bukan hanya usaha yang ia rintis ulang. Ada banyak cerita orang lain yang turut hidup di dalamnya. Ruang itu seperti menampung fragmen-fragmen kehidupan.

Tawa, jeda, kehilangan, dan pemulihan. Setiap karya yang keluar dari electric wheel adalah semacam metafora.

Dan sejak itu, studio sederhana di Junrejo itu tidak lagi sekadar ruang kerja. Ia menjadi tempat di mana seni dan manusia saling membentuk. Sebagaimana tanah liat, cerita pun perlahan terukir, lalu mengeras menjadi kenangan yang tak mudah pecah. (*/adn)

Editor : Aditya Novrian
#vas bunga #Dunia Seni #Kota Batu #cangkir #tanah liat #keramik #Pottery Class