Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Rendyta Witrayani Setyawan, Kepala Desa Perempuan Termuda dengan Berbagai Inovasi

Mahmudan • Kamis, 27 November 2025 | 17:27 WIB
RENDYTA WITRAYANI SETYAWAN
RENDYTA WITRAYANI SETYAWAN

Siapkan Terobosan ”Pecel Tempe Mendoan” untuk Layanan Adminduk

PENCALONAN RendytaWitrayaniSetyawan saat pemilihan kepala desa (pilkades) Senggreng 2022 lalu sempat dipertanyakan sebagian masyarakat. Kala itu usianya masih 27 tahun. Relatif muda untuk ukuran seorang kepala desa (kades). Beberapa orang menganggapnya masih minim pengalaman meskipun usianya sudah memenuhi syarat untuk pencalonan Kades.

“Namun saya tetap maju. Saya terus berusaha meyakinkan masyarakat bahwa saya mampu membawa perubahan ke arah yang lebih baik,” ujar perempuan 31 tahun itu.

Dia mendatangi toko-toko, kelompok ibu-ibu, dan kelompok masyarakat lain untuk mendengar keluh kesah mereka. Dalam kunjungan tersebut, dia memberikan solusi dan harapan.Jika dirinya terpilih, kebutuhan tersebut akan segera dipenuhi.

Hingga akhirnya, dia terpilih dan langsung membuat gebrakan di desa tersebut. Belum setahun menjabat, desanya mendapat predikat sebagai desa mandiri. Yakni desa dengan kemampuan tertinggi dalam mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan untuk menyejahterakan warga.

Hal itu ditandai dengan ketahanan sosial, ekonomi, dan ekologi yang sangat baik. “Saat itu kami menjadi salah satu desa mandiri pertama di Kabupaten Malang,” imbuhnya. Dia tidak puas hanya dengan satu pencapaian. Seiring berjalannya waktu, dia terus menguatkan kerja sama seluruh elemen masyarakat untuk meningkatkan kesejahteraan desanya.

Baik dengan senior, tokoh masyarakat, hingga tokoh pemuda.“Di desa saya, anak-anak harus menyelesaikan pendidikannya, kami upayakan bisa sampai 12 tahun. Jika bisa, harus terus berkelanjutan,” kata Rendyta.

Oleh karena itu, dia juga bekerja sama dengan perguruan tinggi di Malang Raya untuk dapat memberikan kemudahan akses pendidikan.Selain itu, kemiskinan di Desa Senggreng juga terus ditekan. Salah satunya dengan memperhatikan kualitas permukiman.

Kini di Desa Senggreng sudah nihil Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) dan 100 persen Open Defecation Free (ODF) atau bebas dari orang Buang Air Besar Sembarangan (BABS). Hal tersebut juga sebagai upaya dalam peningkatan kesejahteraan.

Di samping itu, dia juga memiliki berbagai inovasi untuk pelayanan masyarakat di Desa Senggreng. Misalnya di bidang kependudukan, terdapat inovasi Pelayanan Cepat Tanpa Meninggalkan Kerjoan (Pecel Tempe Mendoan). Sebab, banyak warganya yang bekerja di luar desa.

Sehingga ketika membutuhkan pelayanan administrasi kependudukan (adminduk), mereka terkendala waktu. Melalui inovasi itu, masyarakat bisa mengurus administrasi kependudukan tanpa meninggalkan pekerjaannya. Sebab, PemdesSenggreng melayani administrasi kependudukan dengan jemput bola.

“Masyarakat tinggal menghubungi contact person, kemudian dari pihak desa akan mengambil berkas-berkas ke rumahnya. Begitu sudah jadi, dokumen juga akan diantarkan,” ucap alumni Magister Manajemen Keuangan Universitas Merdeka Malang (Unmer) itu.

Administrasi kependudukan untuk anak-anak seperti akta kelahiran dan Kartu Identitas Anak (KIA) juga menjadi perhatian. Oleh karena itu, dia menginisiasi untuk jemput bola ke sekolah-sekolah untuk melayani penerbitan dokumen tersebut.

“Begitu terpilih, saya menganggap tugas ini adalah amanah. Saya harus mengabdikan diri untuk masyarakat. Saya yakin, dengan adanya semangat untuk perubahan, kami bisa menjadi lebih baik,” pungkasnya. (yun/dan)

Editor : A. Nugroho
#pilkades #kades #Kabupaten Malang #rtlh