Ungguli 3 Atlet Jepang, Keok di Final dari Breaker Swiss
BAGI para breaker, kejuaraan breakdance dunia Red Bull BC One yang digelar di Tokyo, 9 November lalu, seperti ajang piala dunia. Tahun ini, Hilman Wanandi belum berkesempatan turun di ajang itu. Proses seleksi yang harus dia lakoni di Thailand, Oktober lalu, bentrok dengan event lain yang harus dia ikuti.
Kondisi itu memaksa dia membatalkan salah satu keinginan terbesarnya tersebut. Meski begitu, dia tetap berangkat ke Jepang sebagai penonton. Selama menonton Red Bull BC One di Jepang, dia mendapatkan banyak ilmu dan menambah relasi dari penari breakdance negara lain.
Kesempatan itu juga membawanya tur ke berbagai komunitas breakdance yang tersebar di penjuru distrik Tokyo. Kebetulan, pada 15 November lalu terdapat event battle breakdance yang sering digelar di distrik Toshima, yakni Battle Flag Vol. 21. Mayoritas peserta kejuaraan itu berasal dari Jepang.
Namun, partisipasi di edisi itu membeludak karena breaker juga datang dari Italia, Inggris, Meksiko, dan Swiss. Nandik, sapaan akrabnya, awalnya tak memiliki niat mengikuti kejuaraan itu. Namun sikapnya berubah sebelum deadline pendaftaran. ”Sekalian saja saya mencoba tampil, mumpung lagi di luar negeri,” ujar atlet kelahiran Lamongan itu.
Meski cukup mendadak, dia sudah mempersiapkan gerakan apa saja yang akan dikeluarkan saat battle nanti. Mengingat setiap negara punya karakter menari yang berbeda-beda. Kalau Inggris lebih mengalir, breaker Jepang senior lebih technical dengan gerakan yang sistematis.
Sementara breaker Jepang yang lebih muda mengandalkan gerakan ekstrem dan kontras. Pemuda berusia 25 tahun itu juga punya karakter breakdance yang bisa diandalkan. Banyak kawan-kawannya menyebut dia sebagai breaker all-rounded. Sebab, bisa menunjukkan berbagai gerakan dalam satu penampilan.
Namun, dia mengaku lebih condong gerakan flow atau mengalir. Dalam kejuaraan tersebut, Nandik bertanding sebanyak lima kali. Di babak 32 besar, dia battle dengan breaker asal Inggris. Mempunyai karakter yang tidak berbeda jauh, dia mampu membalas gerakan yang ditampilkan lawan selama dua ronde. Dengan mudah dia melaju ke babak berikutnya.
Tantangan berat harus dihadapinya di tiga babak berikutnya. Dari babak 16 besar, 8 besar, sampai semifinal. Dia harus berhadapan dengan tiga breaker asal Jepang. Saat pertemuan dengan lawan terakhir, dia merasa tidak bisa memenangkan pertandingan.
Sebab, lawan yang dihadapi usianya 15 tahun. Breaker tersebut berhasil menunjukkan gerakan yang lebih mobile dengan atraksi yang bermacam-macam. Seperti backspin dan headspin. Belum lagi, teknik yang dihadirkan sangat akurat.
Namun itu tidak membuat nyalinya menciut. Alumnus Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) itu tidak menyia-nyiakan kesempatan tampil maksimal. Dia lantas mengeluarkan sejumlah signature move-nya agar bisa membuat para juri dari Jepang berdecak kagum.
Upaya tersebut membuahkan hasil. Dia melaju ke partai final menghadapi breaker asal Swiss. Sayangnya, dalam tiga ronde itu, Nandik mengalami berbagai kendala.
Selain gerakannya yang mulai menipis, udara dingin Toshima membuat dia kesulitan tampil all-out. Meski sudah sepekan menetap di Tokyo, cuaca subtropis tetap sulit ditaklukkan. Kondisinya makin berat karena stamina terkuras setelah menjalani empat pertandingan.
Di ronde pertama, penampilan Nandik masih kalah dengan breaker Swiss. Ketertinggalan itu dia kejar di ronde kedua. Begitu ronde ketiga dimulai, lawannya menunjukkan gerakan eksplosif, dan memaksa Nandik puas di posisi kedua.
Meski hanya meraih urutan kedua, dia mendapat pengalaman berkesan selama tampil di Tokyo. Dia bisa mengetahui kemampuannya ketika disandingkan dengan breaker-breaker luar negeri. Selain itu, medali tersebut menjadi yang pertama dari tiga kali dia tampil di ajang internasional.
Sebelumnya, dia sempat mengikuti kejuaraan breakdance one on one dan four on four di Hip Fest South East Asia di Vietnam 2022 lalu. Saat itu dia gagal tampil maksimal akibat mengalami cedera engkel saat bertanding. Nandik juga sempat tampil di kejuaraan breakdance di Singapura 2024 lalu.
Capaian di Tokyo, November lalu, masih belum memuaskannya. Dia bertekad menjadi juara pertama di event internasional mendatang. ”Target terdekat ikut kejuaraan Breakdance di Vietnam 2026 nanti,” ujar pria yang tinggal di Kecamatan Lowokwaru tersebut.
Selain event tersebut, Nandik bakal disibukkan dengan persiapan lain. Dia harus menjaga performa agar bisa masuk seleksi nasional agar kembali dipanggil di ajang Pekan Olahraga Nasional (PON) 2028 mendatang. Dia juga menanti kabar seleksi Red Bull One 2026, mengingat dia pernah menjadi juara tiga saat seleksi regional Indonesia 2024 lalu.(*/by)
Editor : A. Nugroho