Tiap Rabu Selalu Tampung Berbagai Unek-Unek
JARUM jam hampir menunjuk pukul 12 siang ketika Enny Umronah bergegas menutup map pekerjaannya di kantor Balai Pemasyarakatan Kelas I Malang. Waktu istirahat baginya bukan sekadar jeda makan siang. Ada tempat lain yang selalu memanggil langkahnya.
Sebuah rumah tiga lantai di Perumahan Bumi Mondoroko, Singosari, yang kini dikenal sebagai Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak Robbani. Perjalanan sekitar 8 kilometer ia tempuh hampir setiap hari. Dalam kondisi jalan lengang, mobilnya bisa sampai dalam 20 menit.
Jika macet, lebih lama lagi. Namun Enny tak pernah mengeluh. Menengok anak-anak binaan sudah menjadi rutinitas yang tak tergantikan. Jika tak sempat siang hari, ia datang selepas jam kerja, bahkan tak jarang saat malam mulai tiba.
Begitu tiba, pemandangan yang sama selalu menyambutnya. Beberapa anak berlarian kecil, sebagian mendekat lalu mencium tangannya. Enny membalas dengan usapan lembut di kepala mereka. ”Mereka ini anak-anak saya juga, selain empat anak biologis saya di rumah,” ucapnya pelan.
Perjalanan Enny bersama LKSA Robbani bukan kisah yang mulus sejak awal. Saat pertama kali menerima anak-anak binaan, ia berhadapan dengan beragam perilaku. Ada yang terbiasa berkata kasar, ada yang gemar mengambil barang tanpa izin, ada pula yang sulit diatur.
Tantangan tak hanya datang dari anak-anak, tetapi juga dari orang tua dan lingkungan yang membentuk mereka. Semua itu bermula jauh sebelum Robbani berdiri. Saat masih tinggal di Singosari, Enny mulai mengumpulkan anak-anak di sekitar rumahnya sepulang sekolah.
Ia mengajak mereka melakukan kegiatan sederhana, belajar, mengaji, dan bermain dengan aturan. Dorongan itu muncul dari kegelisahannya melihat perilaku anak-anak masa kini yang kerap ia jumpai. Mudah marah, kehilangan sopan santun, dan jauh dari nilai-nilai positif.
Perempuan kelahiran Jepara itu juga tengah mengisi ruang kosong dalam dirinya. Sebelum pindah ke Malang, Enny bekerja di Panti Sosial Bina Netra di Padang. Di sana, ia bersentuhan langsung dengan klien dan kegiatan sosial.
Namun di Malang, penugasannya di bagian tata usaha membuatnya lebih banyak berkutat dengan berkas. Ada rindu yang tak terucap untuk kembali menyentuh kehidupan orang-orang yang membutuhkan.
Keinginan itu ia sampaikan kepada sang suami, Prayitno. Dengan latar belakang sosial yang sama, Prayitno justru menjadi pendukung terdepan. Ia memberi izin, masukan, dan turut terlibat dalam setiap keputusan penting.
Gerakan kecil di rumah Enny perlahan membesar. Bersama rekan-rekan dan mahasiswa yang ikut secara sukarela, kegiatan itu semakin terstruktur. Hingga akhirnya pada 2011, LKSA Robbani resmi disahkan oleh Kementerian Sosial. Modal awalnya jauh dari kata besar. Dana yang terkumpul hanya Rp 1,8 juta.
Bahkan bangunan awal lembaga itu berasal dari wakaf seorang warga. Seiring waktu, bangunan itu berkembang menjadi tiga lantai. Jumlah anak binaan pun bertambah. Dari tujuh anak pertama, kini lebih dari 250 anak telah merasakan pembinaan Robbani, baik yang menetap maupun nonresiden.
Latar belakang mereka beragam. Ada yang menjadi korban kekerasan, ada yang terpisah dari keluarga, ada pula yang berasal dari keluarga yang tak mampu memberikan pengasuhan optimal.
Salah satu kisah yang membekas bagi Enny adalah kakak-beradik yang kerap melanggar aturan. Masalah mereka bahkan merembet ke sekolah. Setelah berbagai upaya, Enny sempat memutuskan mengembalikan keduanya kepada orang tua.
Namun sang ibu memohon agar anak-anak itu tetap dibina di Robbani mengingat kondisi keluarga yang tidak kondusif. Setelah diskusi panjang, Enny membuka pintu itu kembali.
Pembinaan di Robbani berlangsung disiplin namun hangat. Setiap hari anak-anak mendapat pembinaan akhlak. Rabu menjadi hari istimewa saat mereka bebas berbicara, menyampaikan unek-unek kepada pendamping.
Rumah itu tak hanya menjadi tempat tinggal, tetapi ruang aman untuk belajar tumbuh. Untuk bertahan, Robbani tak sepenuhnya bergantung pada donasi. Enny dan tim mengelola kantin sekolah, membuka day care, dan usaha kecil lain. ”Kami ingin berdiri dengan kaki sendiri. Alhamdulillah, selalu dicukupkan,” katanya.
Kini, hasilnya mulai terlihat. Beberapa anak meraih prestasi akademik, mengikuti lomba sains tingkat provinsi, bahkan ada yang mampu membuat gim daring. Setiap capaian itu menjadi pengingat bagi Enny bahwa perjalanan panjangnya tak sia-sia. Di tengah kesibukan dan keterbatasan, ia memilih tetap berjalan, menuntun anak-anak menemukan arah hidupnya. (*/adn)
Editor : A. Nugroho