Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Moch. Zamroni Ubah Hobi Mengaji Jadi Rekaman Digital yang Menarik 144 Ribu Pendengar

Zanadia Manik Fatimah • Selasa, 24 Maret 2026 | 16:02 WIB
JADI HOBI: Moch. Zamroni merekam bacaan Alquran di kamar rumah pribadinya beberapa waktu lalu. Foto kiri, Tangkapan layer Spotify yang menunjukkan album mengaji yang direkam Moch. Zamroni. (Dokumen Moch. Zamroni)
JADI HOBI: Moch. Zamroni merekam bacaan Alquran di kamar rumah pribadinya beberapa waktu lalu. Foto kiri, Tangkapan layer Spotify yang menunjukkan album mengaji yang direkam Moch. Zamroni. (Dokumen Moch. Zamroni)

Pendengar Tembus Singapura hingga Amerika Serikat

Moch. Zamroni memanfaatkan platform digital untuk menyebarkan tartil Alquran. Rekaman yang dibuat secara mandiri dari rumahnya kini memiliki pendengar dari berbagai negara.

ZANADIA MANIK FATIMAH

LAMPU di sudut kamar itu menyala temaram. Di ruangan yang tak terlalu luas, hanya ada meja kerja, mikrofon sederhana, laptop, dan beberapa peredam suara seadanya yang menempel di dinding.

Dari tempat itulah lantunan ayat suci Alquran direkam. Suaranya kemudian melintasi ruang digital, didengar ribuan orang dari berbagai negara. Di sanalah Moch. Zamroni menghabiskan banyak malam untuk merekam tartil Alquran yang kemudian ia unggah ke berbagai platform digital seperti Spotify, YouTube, hingga Instagram.

Bagi pria asal Kecmatan Pakis, Kabupaten Malang itu, semuanya berawal dari dua kegemaran sederhana. Mengaji dan menyusun playlist musik di Spotify. Pada masa pandemi Covid-19, ketika banyak aktivitas dilakukan dari rumah, ia mulai memikirkan sesuatu yang bisa dikerjakan sebagai hobi sekaligus memberi manfaat bagi orang lain.

“Waktu itu saya berpikir, kira-kira hobi apa yang bisa saya lakukan tapi juga bermanfaat. Karena semua orang juga sibuk dengan hobinya masing-masing,” tuturnya.

Ide itu semakin menguat ketika seorang kenalan dari Malaysia meminta izin memasukkan rekaman tartil miliknya ke dalam playlist mengaji yang ia buat. Permintaan itu membuka pintu baru bagi Zamroni untuk memahami cara kerja distribusi konten di platform digital.

Ia mulai banyak bertanya kepada rekannya tersebut. Mulai dari cara mengunggah karya, proses distribusi ke berbagai platform streaming, hingga biaya yang harus disiapkan. Dari situ ia perlahan memahami bahwa bacaan Alquran pun bisa disebarkan melalui jalur digital dengan jangkauan yang jauh lebih luas.

“Dari situ saya jadi belajar banyak. Ternyata ada jalurnya untuk mengunggah karya ke platform streaming,” ujarnya.

Setelah memahami prosesnya, Zamroni memutuskan untuk membuat album pertamanya. Rekaman perdana dilakukan dengan bantuan rekannya di AA Studio. Sementara proses pengolahan suara dibantu Gege Praseta. Pada album pertama itu, ia merekam bacaan Juz 30.

Namun sebagaimana banyak proses merintis, langkah awalnya tidak langsung membuahkan hasil besar. Album pertama itu bahkan belum mencapai seribu pendengar.

Meski demikian, Zamroni tidak berhenti. Ia tetap melanjutkan proses rekaman dan merilis karya berikutnya. Perlahan, jumlah pendengar mulai bertambah, terutama setelah album kedua dirilis.

Sebenarnya, perjalanan Zamroni dengan rekaman bacaan Alquran sudah dimulai jauh sebelum itu. Ia mengingat dengan jelas tanggal 15 Mei 2013. Hari itu menjadi kali pertama ia mengunggah rekaman bacaannya di internet.

Saat itu ia baru membuat akun SoundCloud. Namun ia sempat kebingungan menentukan konten apa yang akan diunggah. Hingga suatu hari muncul ide sederhana merekam bacaan Alquran di rumah lalu mengunggahnya.

“Awalnya cuma untuk dokumentasi saja. Sekalian publikasi juga,” katanya.

Tahun-tahun berlalu, hingga akhirnya ia kembali serius menggarap rekaman pada 2021. Salah satu bacaan yang kemudian banyak didengar di Spotify adalah potongan ayat yang dikenal sebagai Ayat Seribu Dinar, yakni ayat 2 dan 3 Surah At-Talaq.

Sejak saat itu grafik pendengarnya meningkat cukup signifikan. Untuk dapat mendistribusikan satu album ke platform digital, Zamroni harus mengeluarkan biaya sekitar 14,9 dolar Amerika Serikat. Meski tidak terlalu besar, ia tetap menganggapnya sebagai investasi untuk syiar.

Menurutnya, biaya tersebut sebanding dengan kesempatan menyebarkan bacaan Alquran kepada pendengar yang jauh lebih luas.

Seiring waktu, dukungan pun mulai berdatangan. Beberapa pihak membantu proses rekaman maupun penyediaan studio. Namun kini sebagian besar proses produksi ia tangani sendiri.

Pada malam hari, ketika suasana rumah mulai tenang, Zamroni biasanya mulai merekam. Mikrofon dinyalakan, laptop dibuka, lalu ia mulai melantunkan ayat demi ayat.

“Biasanya take rekaman malam hari. Suasananya lebih kondusif,” ujarnya.

Di luar aktivitas tersebut, Zamroni sehari-hari bekerja sebagai web developer. Di sela pekerjaan dan aktivitas keluarga, ia menyempatkan waktu untuk melanjutkan rekaman.

Dari sisi pendapatan, ia mengakui jumlahnya tidak menentu. Sistem monetisasi dari platform streaming bergantung pada jumlah pendengar. Pencairan biasanya dilakukan setelah akumulasi pendapatan mencapai 100 dolar.

Namun bagi Zamroni, angka itu bukan tujuan utama. Baginya, yang terpenting adalah bacaan Alquran yang ia rekam dapat didengar oleh lebih banyak orang.

Teman asal Malaysia yang dulu mengajarinya mengunggah karya kini juga memiliki jumlah pendengar yang hampir setara. Pendengar rekannya tersebut saat ini mencapai sekitar 119 ribu orang.

Sementara itu, pendengar bacaan Zamroni sendiri tidak hanya berasal dari Indonesia. Data platform streaming menunjukkan pendengar datang dari berbagai negara seperti Malaysia, Singapura, hingga Amerika Serikat.

Meski begitu, dua negara yang paling banyak menyumbang pendengar tetap Indonesia dan Malaysia. Dalam melantunkan ayat suci Alquran, Zamroni tidak secara khusus menentukan pola irama tertentu. Namun ia menyadari gaya bacaannya banyak dipengaruhi oleh nada tarkhim yang biasa dilantunkan menjelang waktu subuh.

“Kalau nadanya kemungkinan mendekati rost,” katanya.

Kini perjalanan itu terus berlanjut. Hingga saat ini Zamroni telah menyiapkan album ke-12 yang dijadwalkan rilis pada 2026. Album tersebut akan bertajuk Kabar Gembira.

Dalam proses produksinya, sejumlah pihak ikut terlibat. Artwork album dikerjakan oleh Ona240 dengan konsep Stay Sumringah.

Peralatan rekaman dibantu M. Bachtiar Fachrurozi, sementara proses sound engineering ditangani sendiri oleh Zamroni. Album ini juga mendapat dukungan dari Faiz Al Qurni serta Illiyin Studio yang berbasis di Malang. (*/adn)

 

Editor : Bayu Mulya Putra
#tartil alquran #tartilquran #Ngaji #Spotify #Kota Malang