RADAR MALANG - Perjalanan Abdullah Nashiruddin Al Hilali untuk mengenyam pendidikan hadapi jalan terjal. Dia sempat terpaksa putus sekolah akibat problem ekonomi. Kini di usia 19 tahun, Hilal kembali merajut mimpi.
Awalnya harus bersekolah dengan usia teman-temannya yang terpaut jauh terasa janggal untuk Hilal. Apalagi, dia sudah lama meninggalkan dunia pendidikan. Tapi dengan semangat merajut mimpi dan kehidupan lebih baik kelak, Hilal menepis semua keraguan itu.
Kesehariannya sekarang berkumpul dengan teman-teman yang enam tahun lebih muda darinya. Hampir 24 jam dalam sehari, Hilal berbaur bersama mereka di asrama SRMP 16 Kota Malang. Tiap hari kegiatan pemuda asal Jalan Candi, Kecamatan Lowokwaru itu dipenuhi belajar dan belajar.
Baca Juga: Moch. Zamroni Ubah Hobi Mengaji Jadi Rekaman Digital yang Menarik 144 Ribu Pendengar
Setahun lalu, belum ada dalam benaknya melanjutkan sekolah. Aktivitas Hilal saat itu, masih berpindah dari satu garasi tetangga ke garasi lain. Dia menjadi pencuci mobil yang siap dipanggil ke rumah.
Hilal yang saat itu masih berumur 18 tahun sudah empat tahun putus sekolah. Hidupnya dipenuhi bekerja serabutan dengan membuka jasa cuci mobil keliling dan bersih-bersih rumah. ”Bahkan pernah saya mencuci 11 mobil, membersihkan tiga rumah, dan mencuci satu kendaraan truk dalam sehari,” cerita Hilal saat ditemui di asrama.
Dia mulai bekerja pada pukul 05.30 dan rampung 01.00 dini hari. Meski begitu, semangatnya tidak pernah surut. Itu karena, pekerjaan tersebut menjadi penghidupannya. Dia harus memenuhi kebutuhan sendiri dengan mandiri setelah orang tuanya wafat, Hilal yang tinggal bersama kakaknya juga enggan merepotkan orang lain.
Hilal memahami beban finansial saudaranya yang sudah cukup berat dengan menanggung istri dan anak kakaknya. Dia cukup tau diri dan memilih bekerja, alih-alih melanjutkan sekolah. Tapi, dalam hati terdalam keinginannya mengenyam pendidikan lagi selalu ada.
Baca Juga: Cerita di Balik Bandeng Juwana Elrina, Oleh oleh KhasSemarang yang Maju Berkat Pemberdayaan BRI
Sering Hilal berangan-angan ingin kembali sekolah saat melihat keponakannya berangkat ke SD. Namun penghasilan Hilal yang hanya Rp 50 ribu sehari dari mencuci mobil-mobil tetangga jauh dari kata cukup untuk membiayai pendidikannya.
”Harapan saya kembali menyala setelah ditawari kakak untuk masuk sekolah rakyat yang gratis dengan sistem asrama, saat itu langsung saya iyakan,” terang Hilal.
Pertama masuk asrama, Hilal masih sering canggung saat berkumpul bersama teman-temannya. Penyesuaian Hilal butuh waktu hampir enam bulan sampai dia memahami lelucon dan kebiasaan temannya yang lebih muda. Selain itu, masih ada pelajaran-pelajaran di SRMP yang harus dipahaminya lagi setelah empat tahun tak lagi memegang buku.
Saat pertama kali masuk SRMP, Hilal merasa tidak percaya diri karena menjadi murid paling tua. Namun perasaan itu dikalahkan oleh kegembiraannya bisa kembali bersekolah. Hingga kini dia masing sering merasa seperti itu, namun baginya mengejar cita-cita adalah hal paling penting sehingga dia memilih menikmati kehidupannya.
Baca Juga: Mengenal Sosok Mojtaba Khamenei, Penjaga Gerbang Ayahnya yang Kini Jadi Pemimpin Baru Tertinggi Iran
Di SRMP, Hilal seperti menemukan kehidupan baru yang lebih disukainya. Kesehariannya kini lebih teratur, hanya perlu belajar dan belajar karena semua fasilitas sudah disediakan. Terutama saat bulan puasa, biasanya tak ada yang membangunkan di rumah, namun saat ini bahkan dia bisa rutin salah Tahajud.
Dua pelajaran yang sangat disukai Hilal adalah bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Dia baru menemukan keseruan mempelajari dua bahasa itu saat di SRMP. Ada rasa tertantang dalam dirinya saat mempelajari bahasa itu. Khususnya, untuk mengungkapkan dengan tepat apa yang ada di pikirannya.
Selain menekuni bahasa Indonesia dan bahasa Inggris, Hilal juga mulai serius terjun ke ranah teater dan eksplorasi karakter.
”Sejak awal di sini langsung ikut ekstrakurikuler teater dan semakin tertarik di sana,” lanjut Hilal.
Hilal punya pengalaman diundang Kementerian Sosial untuk tampil langsung di Jakarta. Dengan latihan hanya dua hari, ternyata Hilal bisa tampil maksimal dan menikmati dunia peran. Pengalaman itu sangat penting baginya, menginspirasi dan memberikan arah cita-cita masa depan.
Kini Hilal punya beberapa rencana, mewujudkan impiannya tersebut. Setelah lulus dari SRMP, akan melanjutkan studi di SRMA. Baru mencari kampus terbaik yang bisa mendukung kegemarannya di dunia peran.
Hilal sudah berani bercita-cita menjadi aktor saat ini. Setelah masa sekolahnya selesai, dia bertekad mencari beasiswa untuk kuliah di jurusan Sastra Indonesia. Bahkan Hilal sudah meminta rekomendasi dari para guru dan disarankan mengejar program studi Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Negeri Malang (UM) kelak. (*/gp)
Editor : Aditya Novrian