Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Kisah Aprliano Virgo Manek, Mahasiswa Nonmuslim di Mahad UIN Malang Ikut Sahur hingga Diberi Ruang Ibadah

Nabila Amelia • Rabu, 8 April 2026 | 12:33 WIB
JAGA TOLERANSI: Apriliano Virgo Manek (paling atas, tengah) bersama teman-temannya saat Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan UIN Maliki Malang pada Agustus 2025
JAGA TOLERANSI: Apriliano Virgo Manek (paling atas, tengah) bersama teman-temannya saat Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan UIN Maliki Malang pada Agustus 2025

Terlahir dari keluarga Kristen Katolik di Maranggarai Timur, Aprliano Virgo Manek menemukan suasana tak biasa ketika nyantri di mahad UIN Maliki Malang. Mulai terbiasa ikut sahur hingga mendapat ruang khusus untuk berdoa.

NABILA AMELIA

Sejak duduk di bangku SMP, benih ketertarikan terhadap dunia farmasi tumbuh dalam diri Virgo. Bukan sekadar rasa ingin tahu, melainkan panggilan yang perlahan mengakar. Semuanya bermula dari kehadiran program Nusantara Sehat di Kelurahan Lempang Paji, Kecamatan Elar Selatan, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Kala itu, tenaga kesehatan (nakes) dari berbagai daerah datang menyusuri rumah-rumah warga. Mereka mengetuk pintu, menyapa, memeriksa, sekaligus memastikan kesehatan masyarakat di pelosok yang jauh dari hiruk-pikuk kota. Selama setahun penuh, para nakes itu juga mengabdi di Puskesmas Lempang Paji. Bagi Virgo remaja, pemandangan itu bukan sekadar rutinitas pelayanan, melainkan jendela yang membuka cakrawala baru.

Ia mengamati, mencermati, lalu diam-diam bertanya dalam hati. Mengapa sebagian besar nakes justru datang dari luar daerah, bahkan luar Jawa? Pertanyaan itu berujung pada rasa terenyuh. Di tanah kelahirannya sendiri, peran putra-putri daerah di dunia kesehatan masih minim. Padahal, fasilitas kesehatan di kampungnya terbatas. Hanya sebuah puskesmas dan satu apotek kecil yang melayani kebutuhan warga.

“Jika ingin ke rumah sakit atau mencari obat yang tidak tersedia, warga harus ke Kota Ruteng. Perjalanan darat bisa lima sampai enam jam,” tutur Virgo mengenang. Dari situlah tekadnya perlahan terbentuk. Ia ingin menjadi bagian dari perubahan itu.

Namun, jalan menuju cita-cita tak selalu lurus. Di Elar Selatan, pilihan pendidikan menengah sangat terbatas. SMK Negeri 2 Elar, satu-satunya sekolah yang tersedia tersebut hanya memiliki dua jurusan. Yakni pertanian dan peternakan. Tak ada farmasi. Tak ada laboratorium kimia. Sehingga tak ada jalur yang secara langsung mengarah pada impiannya.

Beruntung, ada guru yang peka membaca kegelisahan Virgo. Saat masa pendaftaran kuliah tiba, Virgo diarahkan untuk mencoba peruntungan di Jurusan Farmasi Universitas Nusa Cendana melalui jalur Seleksi Nasional Berbasis Prestasi (SNBP). Sebagai alternatif, ia juga disarankan memilih Jurusan Farmasi di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.

Pilihan kedua itu sempat membuatnya gamang. Jarak Malang yang begitu jauh dari Manggarai Timur bukan hanya soal kilometer, tetapi juga tentang biaya, adaptasi, dan kehidupan baru yang belum pernah ia bayangkan. Keraguan itu semakin terasa ketika memikirkan kebutuhan hidup sehari-hari di perantauan.

Namun, dukungan justru datang dari rumah. Sang ayah, Antonius Mucek, dan ibunya, Inosensi Talun, tak ragu memberi restu. Kekhawatiran soal biaya langsung mereka tepis.
”Saat saya utarakan kekhawatiran soal biaya, mereka malah bilang itu bukan urusan saya. Yang penting saya mau konsisten menuntut ilmu," kenang dia.

Virgo akhirnya menyerahkan pilihannya pada takdir. Hingga Agustus 2025, kabar itu datang. Ia diterima sebagai mahasiswa Jurusan Farmasi UIN Maulana Malik Ibrahim (Maliki) Malang. Perjalanan panjang pun dimulai. Dari Labuan Bajo menuju Surabaya dengan pesawat selama satu setengah jam, lalu dilanjutkan perjalanan darat menuju Malang. Jarak yang jauh itu seolah menjadi simbol peralihan hidupnya, dari kampung kecil di timur Indonesia menuju kota pelajar di Jawa.

Hari-hari pertama sempat terasa asing. Namun perlahan, rasa canggung itu mencair. Tinggal di mahad selama dua semester justru mempertemukan dia dengan keberagaman yang hangat. Tiga teman sekamarnya, yakni Quba, Fahman, dan Wildan menjadi bagian dari cerita baru yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.

Di tengah perbedaan keyakinan, mereka menemukan ruang kebersamaan. Saat Virgo beribadah, teman-temannya memberi ruang tanpa gangguan. Ia bisa berdoa dengan tenang di sudut kamarnya. Sebaliknya, ketika Ramadan tiba, Virgo ikut merasakan kebersamaan sahur dan berbuka, sekadar untuk bertahan dari keterbatasan akses makanan di pagi hari.

Di luar itu, setiap Minggu ia tetap menjaga imannya. Bersama teman-teman sesama perantau dari Manggarai, Virgo pergi ke gereja di Sukun. Di sana lah ia menemukan kembali rasa “rumah”, meski hanya sejenak.

Meski begitu, rindu tak pernah benar-benar pergi. Kampung halaman dengan segala tradisinya kerap hadir dalam ingatan. Bukan hanya soal ibadah, tetapi juga kebersamaan yang tak tergantikan. Tradisi memasak bersama, doa saat panen, hingga ritual memanggil hujan, semuanya menjadi kenangan yang sesekali terasa menyesakkan.

“Kadang terasa sepi. Biasanya habis gereja langsung kumpul, masak, lalu pesta. Sekarang, pulang gereja ya kembali ke mahad,” ujarnya lirih.

Kesepian itu semakin terasa ketika Lebaran tiba. Saat teman-temannya pulang kampung, Virgo justru memilih bertahan seorang diri di mahad. Sunyi yang berbeda, namun perlahan ia pelajari untuk diterima. Di balik semua itu, pesan orang tua menjadi jangkar yang menahannya tetap kuat. Terus berdoa, terus belajar. Sebagai anak sulung dari tiga bersaudara, Virgo memahami bahwa langkahnya hari ini bukan hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk masa depan kampung halamannya.

Kini, di Kota Malang, ia terus menapaki mimpinya. Dari memahami sejarah peradaban Islam hingga menjalani praktikum di laboratorium, Virgo sedang merangkai jalan pulang, sebagai seseorang yang kelak bisa memberi arti bagi tanah kelahirannya. (*/dan)

Editor : Mahmudan
#nonmuslim #Sosok #UIN Malang