MALANG, RADAR MALANG – Perbedaan keyakinan tak menjadi penghalang bagi Rocky Marcelino George Wonda untuk menimba ilmu di lingkungan kampus Islam. Mahasiswa asal Kabupaten Nabire, Papua Tengah itu justru aktif mengikuti kajian di Mahad UIN Maulana Malik Ibrahim Malang tanpa paksaan.
Setiap malam, Rocky kerap terlihat duduk bersama mahasiswa lain di ruang kajian. Di tengah suasana temaram, ia menyimak materi dengan tenang, membuka buku, dan mengikuti alur pembelajaran layaknya mahasiswa lainnya.
Mahasiswa Program Studi Farmasi Fakultas Kedokteran dan Ilmu Sains itu mengaku rutin mengikuti kajian atau ta’lim dua hingga tiga kali dalam sepekan. Kegiatan tersebut berlangsung mulai pukul 19.30 hingga 21.00 WIB.
Menariknya, keikutsertaan Rocky murni atas keinginan pribadi. Tidak ada kewajiban maupun dorongan dari pihak mana pun. Rasa ingin tahu menjadi awal, yang kemudian berubah menjadi kebiasaan.
Bagi Rocky, kajian bukan sekadar belajar agama. Ia melihatnya sebagai ruang belajar kehidupan. Banyak nilai sederhana yang ia ambil, salah satunya tentang pentingnya menjaga kebersihan saat materi wudhu dibahas.
“Banyak yang bisa saya ambil,” ujarnya.
Meski begitu, Rocky tetap menjalankan keyakinannya. Ia rutin membaca kitab agamanya sebelum tidur dan beribadah ke gereja di wilayah Sengkaling, Kabupaten Malang, setiap Rabu dan Minggu.
Selama tinggal di mahad, ia mengaku tidak pernah mengalami hambatan. Pengurus maupun teman-temannya memberikan ruang yang sama tanpa membedakan latar belakang keyakinan.
Dukungan juga datang dari keluarga di Papua. Orang tuanya tidak mempermasalahkan pilihannya kuliah di kampus berbasis Islam sekaligus tinggal di mahad.
Ayahnya, Nelson Wonda, bahkan berpesan bahwa setiap orang memiliki keyakinan masing-masing, namun tujuan hidup tetap sama, yakni belajar dan menjadi pribadi yang bermanfaat.
Perjalanan Rocky ke Malang bermula dari saran guru BK di sekolah. Ia kemudian mendaftar melalui jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) dan diterima sebagai mahasiswa angkatan 2025.
Sejak kecil, Rocky telah memiliki cita-cita menjadi apoteker. Ia ingin kembali ke daerah asalnya untuk membantu masyarakat yang masih memiliki keterbatasan akses obat-obatan.
Kini, hampir dua semester tinggal di mahad, Rocky mulai merasa tempat itu sebagai rumah kedua. Ia menemukan keluarga baru dari berbagai daerah dan latar belakang.
Kebersamaan lintas keyakinan pun terasa hangat. Ia ikut merasakan suasana hari besar teman-temannya, begitu pula sebaliknya saat ia merayakan hari besar keagamaannya.
Namun, memasuki semester tiga nanti, Rocky harus meninggalkan mahad dan pindah ke kos. Ia mengaku akan merindukan suasana kebersamaan yang selama ini ia rasakan.
“Pasti akan kangen,” ucapnya.
Bagi Rocky, hidup di tengah perbedaan justru menghadirkan pelajaran paling berharga. Tentang toleransi yang nyata dan persaudaraan yang tumbuh dari kebersamaan.
Editor : Aditya Novrian