Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Terobosan Widjianto, Petani Kota Batu yang Menghasilkan Es Krim Sehat

Rori Dinanda Bestari • Senin, 27 April 2026 | 18:15 WIB
Widjianto menunjukkan es krim sehat berbahan sayur organik
Widjianto menunjukkan es krim sehat berbahan sayur organik

 

 

Dari kegelisahan melihat anak-anak menolak sayur, Widjianto berinovasi menghasilkan es krim sayur yang menyimpan nutrisi tersembunyi. Rasanya manis dan lembut, sekaligus tetap menyehatkan. 

 

RORI DINANDA BESTARI

SUASANA pagi di balik rangka greenhouse Dusun Jurangkuwung, Desa Giripurno, Kota Batu sangat sejuk. Barisan tanaman hijau tertata rapi di atas tanah yang subur. Di sanalah, Widjianto merawat denyut kehidupan sayuran organik dengan penuh ketelatenan.

Langkah kakinya membelah keheningan di antara barisan selada keriting dan pakcoy. Tangannya sibuk menyiram satu per satu barisan sayuran tersebut. Memastikan seluruhnya terguyur air dengan sempurna.

Hijau sayuran milik Widjianto tak sekadar warna sayur biasa. Namun hijau yang tumbuh dari sebuah ketelatenan dan membawa kesehatan. Sebab, tanaman tersebut dirawat dan dipupuk secara organik.

“Saya mulai bertani organik sekitar 2012 lalu,” bebernya mengawali pembicaraan ditemui Jawa Pos Radar Malang kemarin.

Kala itu, ia tergerak oleh rasa sayang terhadap kondisi tanah yang kian jenuh akibat pupuk kimia. Sebelum berteman akrab dengan pupuk kompos, ia adalah petani konvensional yang kenyang pengalaman menanam padi, bawang merah, hingga tomat.

"Saya ingin meminati tanah kita untuk lahan-lahan yang bisa membuat sayur sehat," ungkapnya.

Dari kebun yang sehat itulah, Widjianto melahirkan inovasi berupa es krim sehat. Bahannya sayur organik. Inovasi menghasilkan es krim sehat berawal dari kegelisahan melihat banyak anak kecil yang enggan menyentuh sayuran. Ia mencoba menyiasati kebutuhan nutrisi tersebut melalui camilan favorit mereka. Yakni es krim.

Inovasi tersebut juga lahir karena tuntutan ingin memenangkan kompetisi Inovasi Sayur Organik Jawa Timur sekitar 2023 lalu. Serapan pasar kadang kala tak sebanding dengan produksinya. Alih-alih hanya dibiarkan membusuk, Widji mulai mencari ide memanfaatkannya.

Ia sangat memperhatikan komposisi agar inovasi tidak sekadar menjadi camilan manis. Ia menggunakan madu murni sebagai pengganti gula dan susu segar dari peternak sapi perah di kelompoknya sendiri. Modifikasi tekstur menjadi puree yang lembut ternyata ampuh mengelabui lidah para bocah.

"Tester pertama itu pakcoy. Banyak yang bilang rasanya mirip alpukat. Anak-anak tidak tahu bahwa itu sebenarnya sayur," sebutnya.

Sayur yang dibuat es krim pun beraneka ragam. Mulai pakcoy, bayam, hingga wortel. Agar memikat anak-anak, tampilan es krim dibuat menarik dengan memadukan buah blackberry atau stroberi. Perpaduan manis, asam, lembut dan dingin membuat produk buatannya terasa sempurna.

Perpaduan cerdas antara sayur organik dan susu segar itu akhirnya membawa Widji menyabet posisi ketiga di ajang inovasi tingkat provinsi. Sejak saat itu, keyakinannya kian bulat. Es krim buatannya bukan lagi sekadar eksperimen kompetisi, melainkan solusi nyata bagi para orang tua yang menghadapi anak picky eater.

Es krim sayur organik buatan Widji mulai dikenal luas, bahkan hingga ke luar daerah seperti Ponorogo dan Lampung. Pelanggannya rata-rata merupakan para orang tua yang mengeluhkan susahnya buah hati yang tidak suka sayur.

“Sering ke sini ambil beberapa kali, kadang juga kirim ke TK atau PAUD di Kota Batu,” paparnya.

Meski produksinya masih terukur dan berdasarkan pesanan, kehadirannya menjadi angin segar bagi para orang tua yang berjuang menerapkan pola hidup sehat bagi si buah hati mereka. Sekali ambil, Tim Pendamping Pertanian (TPP) bisa membawa 50 cup lebih untuk dipasarkan. Harganya merakyat, Rp 5 ribu per wadah.

Tantangan terbesar saat ini adalah teknik penyimpanan, mengingat ia tidak menggunakan bahan penstabil kimia. Hal ini membuat es krim produksinya cukup sensitif dan harus segera masuk ke mesin pendingin. Namun, di dalam freezer, camilan ini mampu bertahan hingga satu bulan tanpa mengurangi kemurnian nutrisi yang dikandungnya.

Bagi Widjianto, es krim ini adalah bentuk lain dari filosofi kesabaran yang ia tanam di lahan pertaniannya. Ia membuktikan bahwa kreativitas petani lokal menjadi solusi nyata bagi persoalan gizi nasional. Di tangan petani, sayur organik tidak hanya menyembuhkan tanah, tetapi juga menjaga pertumbuhan generasi masa depan.(*/dan)

Editor : Mahmudan
#es krim sehat #malang hari ini #pertanian batu