RADAR MALANG - Derap kaki kuda memecah pagi di Lahore. Matahari belum benar-benar tinggi, tetapi hawa panas sudah terasa menyengat. Di tengah arena berdebu itu, Daniel Azmi Muhammad tetap menggenggam busur sambil menahan nyeri di bahu kirinya.
Cedera dislokasi tulang belikat yang dialaminya sesaat sebelum bertanding ternyata tak menghentikan langkah remaja 16 tahun tersebut. Bersama Aqilah Fathiyah El Haq, Daniel tetap tampil membela Indonesia di ajang Pakistan-Indonesia Friendship Horseback Archery Competition 2026 pada 20–27 April lalu.
Cedera saat Pemanasan, Daniel Tetap Memilih Bertanding
Insiden bermula ketika Daniel terjatuh dari kuda saat sesi pemanasan. Kuda yang ditungganginya mendadak kaget akibat suara drone dan berhenti tiba-tiba.
“Waktu itu kudanya kaget karena suara drone lalu mendadak berhenti. Saya langsung terlempar,” ujarnya.
Benturan tersebut menyebabkan bahu kirinya mengalami dislokasi. Cedera itu sebenarnya cukup serius bagi atlet horseback archery karena bahu menjadi tumpuan utama untuk menarik busur sambil menjaga keseimbangan di atas kuda yang melaju cepat.
Namun Daniel memilih tetap turun bertanding.
Keputusan itu berbuah hasil. Pada nomor Tower 110, ia berhasil finis di posisi kedua dengan nilai 184,892 poin. Meski sempat turun performa di nomor Raid 235 akibat rasa sakit, Daniel mampu bangkit di Hunt Track dan akhirnya meraih podium kedua kategori junior serta podium ketiga overall.
“Senang masih bisa dapat medali walaupun kondisi tidak maksimal,” ungkap siswa SMP Quba Malang tersebut.
Cuaca Lahore Jadi Tantangan Berat Atlet Indonesia
Selain cedera, tantangan lain datang dari cuaca ekstrem di Lahore. Saat kompetisi berlangsung, suhu siang hari mencapai 38 derajat Celsius.
Bahkan pada pagi hari, hawa panas sudah terasa menyengat bagi para atlet Indonesia yang terbiasa dengan cuaca berbeda.
“Jam delapan pagi saja rasanya seperti pukul sebelas siang di sini,” kata Aqilah.
Kondisi tersebut membuat atlet lebih cepat kehilangan cairan sehingga harus terus menjaga stamina dan fokus di sela pertandingan.
Padahal, Daniel dan Aqilah juga datang dengan persiapan singkat. Undangan dari Indonesia Equestrian Archery (IEA) dan Wening Academy baru diterima sekitar sepekan sebelum keberangkatan.
Mereka juga harus beradaptasi dengan nomor pertandingan berbeda seperti Tower 110, Raid 235, dan Hunt Track yang memiliki aturan serta pola lintasan tersendiri.
Aqilah Pecah Target Internasional di Pakistan
Bagi Aqilah, kompetisi di Pakistan menjadi momentum memperbaiki pencapaian internasionalnya setelah sebelumnya hanya meraih medali perunggu di Kazakhstan.
Atlet asal Kota Malang itu tampil cukup konsisten sepanjang pertandingan. Ia finis ketiga di nomor Tower 110 dengan 135,91 poin dan posisi kedua di nomor Raid 235 lewat raihan 94,035 poin.
Tantangan terbesar datang di nomor Hunt Track karena menjadi pengalaman pertamanya tampil di nomor tersebut dalam kompetisi resmi.
“Awalnya masih mencari ritme karena belum terbiasa,” ujarnya.
Meski demikian, Aqilah tetap mampu menutup kompetisi dengan podium ketiga kategori junior dan posisi keempat overall. Di kategori perempuan, ia bahkan keluar sebagai juara pertama.
“Pengalaman di Pakistan ini sangat berharga buat saya. Jadi motivasi supaya bisa berkembang lebih baik lagi,” ujar siswi MAN 2 Kota Malang tersebut.
Tak hanya bertanding, Daniel dan Aqilah juga mendapat tugas memberikan coaching clinic kepada anak-anak di Pakistan selama tiga hari.
Aqilah mengajarkan teknik dasar memanah, sementara Daniel membantu memilih karakter kuda yang cocok digunakan untuk horseback archery.
Menurut Daniel, tidak semua kuda memiliki karakter ideal untuk olahraga tersebut karena banyak kuda di Pakistan masih berusia muda.
“Banyak kuda di sana masih muda, jadi emosinya belum stabil,” katanya.
Kini sepulang dari Pakistan, keduanya kembali bersiap menghadapi Liga Memanah Berkuda Indonesia (LMBI) seri kedua. Dari Lahore, Daniel dan Aqilah membawa lebih dari sekadar medali. Mereka pulang dengan pengalaman bertanding di tengah cedera, cuaca ekstrem, dan tekanan internasional di usia muda.
Editor : Aditya Novrian