Para relawan ini punya jiwa sosial yang tinggi. Mereka menyediakan tempat peristirahatan gratis bagi pendaki. Di balik fasilitas seadanya, tersimpan amanah kemanusiaan yang terus dijaga, bahkan setelah sang perintis tutup usia.
INDAH MEI YUNITA
SUASANA base camp anggota Tumpang Camp Adventure (TCA) di Desa Tulusbesar, Kecamatan Tumpang sepi. Maklum, semuanya sedang mengantar pendaki ke Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS). Rumah berukuran sekitar 120 meter persegi itu biasanya dijadikan anggota TCA sebagai tempat singgah sementara.
Selain menyediakan jasa guide bagi pendaki, TCA juga menyediakan tempat gratis bagi pendaki yang ingin beristirahat. Kapasitasnya maksimal 30 orang. Untuk sementara, para pendaki yang ingin beristirahat saat ini akan menempati base camp di Jalan Kebonsari, Desa Tumpang.
“Di base camp tersebut, tersedia toilet, tempat tidur yang nyaman, dan dapur umum,” ucap Ketua Base Camp TCA Haikal Sofyan kemarin (24/5).
Ukurannya kurang lebih sama dengan base camp anggota TCA, sekitar 120 meter persegi. Base camp tersebut masih bersifat sementara sambil mencari tempat baru.
Base camp TCA sudah aktif memberi tempat singgah gratis sejak 2011 silam. Kala itu, ada salah satu teman Haikal yang menampung pendaki secara sukarela. Pada tahun itu, pendaki membeludak, hingga ada yang tidur di tepi jalan.
“Teman saya itu membantu mengamankan pendaki tersebut ke rumah neneknya. Inisiatif dia itu diceritakan dari satu pendaki ke pendaki lain, hingga mereka mulai mengenal kami,” kata pria 33 tahun itu.
Satu bulan berjalan, pendaki yang datang ke tempat itu semakin banyak. Jika sebelumnya kurang dari 10 orang, seiring berjalannya waktu bisa mencapai lebih dari 15 orang. Haikal dan teman-temannya mulai berinisiatif membuat base camp khusus menampung pendaki yang membutuhkan tempat beristirahat.
Sekitar Juli 2012, Base Camp TCA diresmikan. Waktu itu bertempat di Desa Ledoksari, Kecamatan Tumpang. Di desa tersebut, ada satu lahan perkebunan dengan luas sekitar 450 meter persegi. Di hamparan lahan itu dibangun tempat singgah, meski bukan berupa bangunan permanen.
“Di sana muat sampai 150 orang. Mereka bebas singgah di sana. Ada yang sampai 3-4 hari juga. Mau sampai satu bulan juga tidak masalah,” imbuhnya.
Meski gratis, TCA menyediakan kotak donasi yang bisa diisi sukarela. Jika terkumpul, uang dari donasi tersebut digunakan untuk membayar listrik dan air. Namun karena berbagai alasan, base camp di Desa Ledoksari tidak bisa lagi digunakan. Untuk sementara pindah ke Desa Tumpang sambil mencari tempat baru.
Belasan tahun berjalan, kebiasaan pendaki mulai bergeser. Pada awal-awal berdiri, mayoritas orang melakukan pendakian mandiri. Kini mulai banyak yang memanfaatkan jasa travel. Meski begitu, base camp masih dijadikan tempat aman bagi para pendaki. Kuota pendakian yang dibatasi hanya 200 orang juga berpengaruh terhadap kunjungan ke base camp.
“Pengunjungnya tidak seramai dulu. Sekarang, 7-10 orang masih ada yang datang setiap hari,” kata Haikal.
Meski begitu, dia tetap mempertahankan base camp TCA. Sebab, base camp itu menjadi amanah terakhir dari rekannya yang pertama kali membentuk base camp demi kemanusiaan sebelum rekannya tersebut tutup usia. Sehingga apa pun keadaannya, base camp akan tetap bertahan.
Saat ini, anggota base camp sekitar 30 orang dengan keaktifan 50 persen. Tujuh orang di antaranya merupakan warga Tumpang, lainnya dari luar kota. Mereka bekerja sebagai porter dan guide untuk pendakian ke TNBTS.
Selain itu, mereka juga aktif melakukan kegiatan sukarela. Misalnya menjadi relawan saat erupsi Gunung Semeru pada 2021 silam maupun kegiatan sosial lainnya.
Jika ditotal, sejak 2012-2019, sudah 10.000 lebih pengunjung yang singgah di base camp itu. Dari jumlah tersebut, 70 persen pendaki lokal dan 30 persen pendaki mancanegara. Sebagian dari mereka bahkan sudah menjadi seperti saudara.
“Kami selalu menyambut pengunjung bukan sebagai tamu, melainkan seperti saudara. Mereka bisa menganggap base camp seperti rumah sendiri. Jadi meskipun tidak mendaki, saat ke Malang, ada yang mampir ke base camp hanya untuk silaturahmi,” pungkasnya. (*)
Editor : Mahmudan