MALANG KOTA, RADAR MALANG - Mimpi menjadi dokter sudah tumbuh dalam benak drg Meilia Aquina Hakim Sp PM MMRs sejak kecil. Jas putih menjadi simbol cita-cita yang terus ia kejar. Meski jalannya tidak selalu lurus, perempuan asli Kota Malang itu justru menemukan jalan suksesnya melalui dunia kedokteran gigi.
Awalnya, drg Meilia bercita-cita masuk fakultas kedokteran umum. Saat mengikuti seleksi masuk perguruan tinggi sekitar pada 2008, ia mencoba mengejar Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Indonesia dan Universitas Brawijaya. Namun takdir membawanya masuk ke Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) UB.
“Awalnya karena keterpaksaan, saya sebenarnya ingin FK,” kenangnya sambil tersenyum.
Meski begitu, lingkungan akademik perlahan membuatnya jatuh cinta pada dunia kedokteran gigi. Setelah menyelesaikan pendidikan, drg Meilia menjalani pengabdian sebagai dokter gigi PTT Kementerian Kesehatan di daerah terpencil.
Ia sempat ditempatkan di Kabupaten Malaka, Nusa Tenggara Timur. Daerah yang kala itu masih sangat minim tenaga kesehatan. Untuk menuju lokasi tertentu, ia harus menempuh perjalanan berjam-jam. Dalam satu kecamatan bahkan hanya ada satu dokter gigi. “Tahun-tahun awal itu benar-benar cukup berat. Pasien sedikit, fasilitas terbatas, bahkan suasana puasa sendirian pernah saya rasakan,” tuturnya.
Setelah dua periode pengabdian, drg Meilia melanjutkan pendidikan spesialis penyakit mulut. Pada 2016, ia diterima menempuh pendidikan spesialis dan mulai merintis praktik secara perlahan.
Dari satu kursi dokter gigi di sebuah praktik sederhana di Jalan Melati, Kota Malang, langkah bisnisnya dimulai. Awalnya ia tak pernah memiliki ambisi membangun banyak cabang. Namun peluang datang satu per satu. Sebuah apotek di kawasan Dinoyo menawarkan kerja sama tempat praktik. Dari sana, ia menambah kursi perawatan, merekrut tenaga kerja, hingga membuka cabang baru. “Awalnya ya jalan saja, tidak pernah kepikiran punya banyak cabang,” ujarnya.
Kini, klinik yang ia bangun berkembang menjadi delapan cabang yang tersebar di Malang, Surabaya, Gresik hingga Jombang. Beberapa kliniknya dikenal dengan nama Denthaus dan Jasmine Dental. Tak hanya menyediakan layanan dokter gigi umum, klinik-klinik tersebut juga melayani perawatan kesehatan gigi dan mulut secara lengkap.
Kesuksesan bisnis itu tidak datang instan. Meilia mengaku banyak belajar langsung di lapangan. Ia kemudian memahami setiap daerah memiliki pendekatan pemasaran berbeda.
Di kota besar seperti Surabaya, promosi digital dan influencer cukup efektif untuk menjangkau pasar menengah atas. Sementara di daerah seperti Jombang, pendekatan konvensional dan edukasi ke sekolah-sekolah justru lebih berhasil. “Setiap daerah beda cara. Tidak bisa disamakan,” katanya.
Selain bisnis klinik, drg Meilia juga merambah usaha lain mulai dari distribusi alat kesehatan gigi, kos-kosan, hingga properti. Berawal dari mencari supplier alat kesehatan dengan harga murah untuk kebutuhan klinik sendiri, ia kemudian mencoba menjual perlengkapan dental kecil-kecilan melalui marketplace.
Dalam perjalanan bisnisnya, ia juga pernah mengalami masa sulit. Salah satunya saat mengalami kerugian hingga ratusan juta rupiah akibat penipuan. “Waktu itu karena uangnya dibawa lari partner, dan ternyata korbannya tidak hanya saya,” ucapnya.
Saat ini, jaringan bisnis yang ia bangun turut membuka lapangan pekerjaan bagi sekitar 120 orang. Namun di tengah kesibukan sebagai entrepreneur, drg Meilia tetap menjaga identitas utamanya sebagai akademisi dan dokter. Lulusan FKG Universitas Brawijaya itu kini juga aktif mengabdi sebagai dosen.
Baginya, dunia pendidikan dan praktik tetap menjadi bagian penting dalam hidupnya. “Saya ingin layanan kesehatan gigi semakin mudah dijangkau, tapi kualitas tetap harus bagus,” pungkasnya.
Editor : A. Nugroho