MALANG, RADAR MALANG – Hobi freestyle motor mengubah jalan hidup sepuluh pemuda asal Desa Kendalpayak, Kecamatan Pakisaji, Kabupaten Malang. Berbekal kemampuan mengendalikan motor ekstrem dan bela diri, mereka kini dipercaya menjadi stuntman dalam sejumlah produksi film, mulai dari film kolaborasi Indonesia-India hingga Zona Merah The Movie.
Kelompok yang kini dikenal sebagai Malang Action Team tersebut membuktikan bahwa kemampuan yang awalnya diasah di jalanan kampung mampu mengantarkan mereka ke industri perfilman profesional. Mereka tidak hanya menjalankan adegan berkendara berisiko tinggi, tetapi juga aksi laga dan koreografi pertarungan.
Dari Komunitas Freestyle Motor Menuju Industri Film
Malang Action Team merupakan transformasi dari komunitas Malang Motor Extreme yang berdiri sejak 2006. Awalnya, komunitas itu menjadi wadah para pencinta freestyle motor. Namun, ketika mulai menerima tawaran produksi film dan konten laga, mereka menggunakan nama baru sebagai identitas profesional.
Komunitas tersebut beranggotakan Rifqi Mubasyir, Alpi Adam, Syadili, Aprilianto Saputra, Ahmad Donny, Amin Rosid, Dimas, Akda Rival, Reyhandika, dan Resa. Seluruhnya berasal dari Desa Kendalpayak, Kecamatan Pakisaji.
"Semuanya dari Watudakon, Kendalpayak, Pakisaji, termasuk saya. Tapi kami beda gang," ujar Rifqi.
Selama hampir dua dekade, mereka terbiasa melakukan berbagai atraksi ekstrem, mulai wheelie, stoppie, hingga adegan jatuh dari motor. Kemampuan itu kemudian dipadukan dengan latihan bela diri yang rutin mereka jalani di Rahman Camp, Desa Genengan, Kecamatan Pakisaji.
Teknik berguling, menjatuhkan lawan, hingga meminimalkan risiko cedera menjadi bekal penting ketika mereka dipercaya menjalankan adegan berbahaya dalam produksi film.
"Saya juga tampil saat Hari Bhayangkara. Tetap ada freestyle, sekaligus adegan perkelahian dengan anggota polisi," kata Rifqi.
Baca Juga: Menilik Perjalanan Bayu Skak, Pria Asli Malang di Balik Kesuksesan Film Sekawan Limo 2
Kesempatan Pertama Datang dari Video Operasi Zebra
Pintu masuk menuju dunia perfilman berawal dari proyek video kampanye keselamatan lalu lintas pada 2017.
Saat itu Satlantas Polres Malang menggandeng komunitas tersebut dalam produksi serial Zebra Boss yang mengadaptasi tren film Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss!. Melalui video bertema edukasi yang dikemas dengan komedi, kemampuan freestyle mereka mulai dikenal lebih luas.
"Saya waktu itu freestyle sambil dikejar Pak Lusi menggunakan motor kecil. Kami diajak Pak Nova untuk proyek tersebut," kenang Rifqi.
Usai proyek itu selesai, aktivitas syuting kembali berhenti. Mereka kembali menjalani rutinitas sebagai komunitas freestyle motor sambil menerima berbagai undangan pertunjukan.
Dipercaya Produksi Film India hingga Zona Merah The Movie
Kesempatan besar datang pada Desember 2025 ketika rumah produksi Lingkar Pictures menghubungi Rifqi untuk mengikuti proses casting film Bang Bang, film berbahasa Tamil hasil kolaborasi rumah produksi Indonesia dengan Chennai, India.
Awalnya Rifqi hanya diminta menjadi stunt rider. Namun, kemampuan bela diri yang dimiliki dirinya bersama anggota Malang Action Team membuat mereka dipercaya mengerjakan adegan laga sekaligus menjadi stuntman.
Tak hanya itu, Rifqi juga membantu merekrut sekitar 60 warga sebagai figuran. Mereka berasal dari berbagai profesi, mulai pengemudi ojek online, petugas pengangkut sampah, hingga pekerja dapur Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Baca Juga: Ini Alasan DPRD Kota Malang Tidak Merestui Pembentukan Dinas Baru yang Diusulkan Pemkot
Seluruh figuran tersebut memerankan warga yang menjadi korban serangan zombi dalam film tersebut.
"Film itu shooting di Singapura, Thailand, dan Bali. Saya tidak ikut yang di Bali meski sempat diajak," ujarnya.
Meski demikian, Rifqi mengaku bangga karena salah satu adegan yang diperankan timnya dipilih menjadi pembuka film.
Langganan Adegan Laga dan Zombie
Kepercayaan terhadap Malang Action Team terus bertambah setelah proyek Bang Bang selesai.
Pada Februari 2026, mereka kembali dipercaya menjadi stuntman dalam proses produksi Zona Merah The Movie, adaptasi serial populer yang sebelumnya tayang di Vidio. Syuting berlangsung di kawasan Kota Lama, Surabaya, dengan tema yang masih mengandalkan adegan laga dan serangan zombi.
Bagi sepuluh pemuda asal Pakisaji itu, perjalanan menuju industri perfilman menjadi bukti bahwa hobi yang ditekuni secara konsisten dapat membuka peluang karier yang tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya. Dari atraksi freestyle di jalanan kampung, mereka kini menjadi bagian dari produksi film berskala nasional hingga internasional.
Editor : Aditya Novrian