Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Gagal Jadi Raja Tanjakan Bromo, Pesepeda Asal Malang Sugeng Wahyudi Kini Bidik Gelar Ngebel KOM

Andika Satria Perdana • Kamis, 9 Juli 2026 | 16:49 WIB
Sugeng Wahyudi (kiri) naik podium Bromo KOM kategori 40-44 tahun, Juni lalu. Dia hanya terpaut satu menit dari sang juara dalam ajang tersebut. (Dokumen Sugeng Wahyudi)
Sugeng Wahyudi (kiri) naik podium Bromo KOM kategori 40-44 tahun, Juni lalu. Dia hanya terpaut satu menit dari sang juara dalam ajang tersebut. (Dokumen Sugeng Wahyudi)

MALANG, RADAR MALANG – Gelar Raja Tanjakan Bromo KOM 2026 belum berhasil diraih pesepeda asal Malang, Sugeng Wahyudi. Meski hanya terpaut sekitar satu menit dari juara di kelas usia 40–44 tahun, hasil tersebut justru menjadi motivasi baru bagi atlet yang akrab disapa Sarjoe itu untuk kembali berburu podium pada ajang Ngebel KOM, Agustus mendatang.

Sarjoe menilai hasil di Bromo KOM bukan sebuah kegagalan, melainkan bekal untuk memperbaiki performa pada balapan berikutnya. Apalagi, Bromo KOM menjadi satu-satunya seri King of Mountain (KOM) yang belum berhasil ia menangi setelah sukses menjadi juara Ijen KOM pada 2024.

Selisih Satu Menit Gagalkan Mimpi Jadi Raja Tanjakan

Bromo Trilogi King of Mountain (KOM) 2026 digelar pada 6 Juni lalu dengan titik start di Mapolda Jawa Timur, Surabaya. Sekitar 1.000 pesepeda mengikuti balapan sejauh 100 kilometer yang menyuguhkan total elevasi hampir 2.000 meter.

Penentuan juara berada di sektor KOM Challenge sepanjang 24,6 kilometer dengan elevasi sekitar 1.634 meter menuju kawasan Wonokitri, Pasuruan. Jalur tersebut menjadi tantangan utama karena didominasi tanjakan panjang yang menguras tenaga sekaligus menguji strategi peserta.

Baca Juga: Berawal dari Freestyle Motor, 10 Pemuda Pakisaji Kini Jadi Stuntman Film Internasional dan Film Zombie Indonesia

Di kategori usia 40–44 tahun, Sarjoe bersaing dengan 94 peserta dari berbagai daerah di Indonesia. Seluruh persiapan yang dilakukan selama dua bulan akhirnya membawanya finis dengan selisih waktu sekitar satu menit dari Purwantoro yang keluar sebagai juara.

"Untuk Bromo KOM 2026 persiapan dilakukan selama dua bulan. Sejak awal saya optimistis bisa naik podium, targetnya tentu juara satu," ujar Sarjoe.

Jalur Pujon-Cangar Jadi Arena Latihan

Untuk menghadapi karakter lintasan Bromo KOM, Sarjoe memilih berlatih secara rutin di jalur Pujon-Cangar, Kabupaten Malang. Medan tersebut dinilai memiliki karakter tanjakan yang hampir serupa dengan rute perlombaan.

"Untuk latihan menanjak biasanya saya dari Pujon terus ke Cangar. Sehingga sudah terbiasa untuk Bromo KOM," katanya.

Menurutnya, latihan tersebut tidak hanya meningkatkan kekuatan fisik, tetapi juga melatih kemampuan menjaga ritme saat menghadapi tanjakan panjang tanpa jeda.

Bangkit Setelah Vakum, Kini Fokus ke Ngebel KOM

Perjalanan Sarjoe di dunia balap sepeda tidak selalu mulus. Pada 2018 ia sempat menghentikan aktivitas bersepeda kompetitif. Namun, tiga tahun kemudian ia kembali berlatih setelah mendapat dorongan dari pendiri Ratjoen Cycling Club yang melihat potensinya masih besar.

Keputusan kembali ke lintasan membuahkan hasil. Pada 2022 ia langsung meraih podium, lalu mencapai prestasi tertinggi dengan menjadi juara Ijen KOM 2024.

Meski belum mampu menaklukkan Bromo KOM tahun ini, Sarjoe tetap mensyukuri hasil yang diraih.

Baca Juga: Peneliti Universitas Brawijaya Malang Menemukan Empat Spesies Kumbang Baru, Begini Manfaatnya

"Saya sudah memberikan yang maksimal. Mungkin memang belum rezekinya juara tahun ini," ucapnya.

Kini ia mulai mengalihkan fokus ke Madiun–Ponorogo Ngebel KOM yang dijadwalkan berlangsung pada 1 Agustus mendatang. Sementara gelar Raja Tanjakan Bromo masih menjadi target yang ingin diwujudkannya pada kesempatan berikutnya.

Editor : Aditya Novrian
#Bromo KOM 2026 #Sugeng Wahyudi #Ngebel KOM #Ratjoen Cycling Club #balap sepeda Malang