MALANG KOTA, RADAR MALANG – Mitos seputar makanan menjadi salah satu tantangan terbesar yang dihadapi penyintas lupus. Berangkat dari persoalan tersebut, Dosen Departemen Gizi Universitas Brawijaya (UB) Olivia Anggraeny mengembangkan panduan gizi berbasis penelitian untuk membantu pasien mengendalikan penyakit autoimun tanpa mengorbankan kebutuhan nutrisi.
Riset yang telah ditekuninya lebih dari satu dekade itu berawal dari keinginan menghadirkan hasil penelitian yang dapat diterapkan langsung dalam kehidupan penyintas lupus. Temuannya menunjukkan, informasi keliru yang beredar di media sosial kerap membuat pasien menghindari berbagai jenis makanan bergizi sehingga justru meningkatkan risiko kekurangan nutrisi.
Panduan Gizi Disusun untuk Melawan Misinformasi
Olivia mulai mendalami penelitian lupus saat menempuh pendidikan magister pada 2011. Ketika itu, dosen pembimbingnya, Prof. Dr. dr. Kusworini Handono, M.Kes., Sp.PK(K), membuka peluang riset mengenai penyakit autoimun. Kedekatannya dengan Yayasan Kupu Parahita Indonesia yang dipimpin Kusworini membuat Olivia memiliki akses untuk berinteraksi langsung dengan para penyintas.
"Kemudian beliau juga membuka penelitian untuk penyakit autoimun, termasuk lupus," ujar Olivia.
Penelitian awal yang dilakukan masih berupa riset in vitro. Namun, saat melanjutkan studi doktoral, ia ingin hasil penelitiannya tidak berhenti sebagai publikasi ilmiah. Olivia memilih menggali persoalan yang benar-benar dialami pasien dalam kehidupan sehari-hari.
Dari berbagai diskusi dengan penyintas, ia menemukan pola yang sama. Banyak pasien memperoleh informasi kesehatan dari media sosial tanpa memastikan sumbernya berasal dari tenaga kesehatan.
"Yang saya lihat, mereka banyak mencari informasi dari media sosial. Sumbernya ada dari influencer hingga yang bukan tenaga medis," ungkapnya.
Akibatnya, tidak sedikit penyintas yang menghindari nasi, sayuran hijau, susu, hingga berbagai bahan pangan lain karena percaya makanan tersebut dapat memperburuk kondisi lupus.
Padahal, menurut Olivia, sebagian besar makanan tersebut tetap dibutuhkan tubuh sebagai sumber vitamin, mineral, protein, dan zat gizi lainnya.
"Alhasil, asupan gizi cenderung kurang karena mereka takut untuk mengonsumsi makanan-makanan tertentu," katanya.
Kondisi tersebut berpotensi memperburuk kesehatan pasien. Kekurangan zat gizi dapat memicu penurunan daya tahan tubuh dan meningkatkan risiko peradangan sehingga gejala lupus lebih mudah kambuh.
Sembilan Pesan Gizi untuk Penyintas Lupus
Berangkat dari temuan tersebut, Olivia menyusun panduan berupa sembilan pesan gizi yang lebih mudah diterapkan dibanding daftar panjang pantangan makanan.
Panduan itu mengatur keseimbangan konsumsi sayur, buah, lauk pauk, makanan tinggi serat, hingga teknik pengolahan makanan yang lebih sehat. Rekomendasi aktivitas fisik yang aman bagi penyintas lupus juga menjadi bagian dari panduan tersebut.
Baca Juga: FIA UB Undang 74 Dosen dan Pakar untuk Review Kurikulum
Olivia mencontohkan, pasien tetap dianjurkan mengonsumsi ikan sebagai sumber omega-3 sebanyak dua kali dalam sepekan. Sumber karbohidrat juga tidak harus berasal dari nasi, tetapi dapat diganti dengan bahan pangan tinggi serat lainnya. Selain itu, penyintas dianjurkan memperbanyak konsumsi real food dan membatasi makanan olahan.
"Namun, inovasi yang saya buat ini masih tahap awal. Baru diperuntukkan bagi pasien lupus yang rawat jalan," jelasnya.
Menurut Olivia, panduan tersebut masih memerlukan pengembangan agar dapat diterapkan pada pasien lupus dengan komplikasi.
Pendampingan Beri Harapan Baru bagi Penyintas
Sebanyak 16 penyintas lupus mengikuti uji coba program pendampingan gizi yang dikembangkan Olivia. Baginya, komitmen para peserta menjadi pengalaman paling berkesan selama penelitian berlangsung.
"Mereka ini benar-benar komitmen untuk mengubah pola hidup menjadi lebih baik. Padahal, mereka berjuang sekali dengan penyakit mereka dan kelelahan kronis," tuturnya.
Baca Juga: Karya IoT Mahasiswa Vokasi UB Tampil di Forum Nasional BOPM
Salah satu peserta adalah Tjahyanni Komoratih atau Anni. Perempuan berusia 58 tahun itu didiagnosis lupus sejak 2008. Setelah sempat menghentikan pengobatan karena merasa sehat, penyakitnya kembali kambuh pada 2018 sehingga ia harus menjalani terapi secara rutin.
Harapan baru datang saat mengikuti program pendampingan gizi pada 2025.
"Lalu tahun 2025, saya ikut program diet dari Mbak Olivia. Saya merasa lebih baik," ujarnya.
Selama tiga bulan, Anni mendapat pendampingan intensif, mulai pemantauan status gizi hingga panduan pembagian porsi makan. Meski sempat frustrasi karena berat badan tidak kunjung turun, ia tetap bertahan setelah mendapat penjelasan bahwa perubahan metabolisme pascamenopause menjadi salah satu penyebabnya.
"Saya sempat stres karena meskipun sudah diet, berat badan tidak turun-turun. Namun Mbak Olivia menyemangati saya dan menjelaskan kondisi itu wajar karena perempuan yang sudah menopause biasanya metabolismenya berubah," kenangnya.
Kini, Anni tetap mempertahankan pola makan yang telah dijalani. Baginya, informasi yang benar, kedisiplinan menjalani terapi, dan pola hidup sehat menjadi kunci agar penyintas lupus tetap dapat menjalani kehidupan dengan kualitas yang baik.
Editor : Aditya Novrian