Trianko Hermanda, Relawan Asal Malang Bantu Penanganan Pasca-Gempa NTT

Andika Satria Perdana • Dipublikasikan Rabu, 2 September 2026 | 12:04 WIB

  

Trianko Hermanda bersama anak-anak korban gempa di Nusa Tenggara Timur (NTT)
Trianko Hermanda bersama anak-anak korban gempa di Nusa Tenggara Timur (NTT)

 

Demi membantu korban gempa, Trianko Hermanda terbang ke Nusa Tenggara Timur (NTT). Masuk ke desa terpencil yang belum banyak tersentuh bantuan. Mengajak anak-anak bermain hingga memenuhi kebutuhan warga.

 

ANDIKA SATRIA PERDANA

SEJAK diguncang gempa pada 15 Agustus lalu, kondisi Desa Rokirole, Nusa Tenggara Timur (NTT) belum pulih. Rumah porak-poranda yang belum dihuni, akses menuju desa terputus longsor, hingga fasilitas umum (fasum) belum berfungsi.

Sementara itu, warga masih tinggal di rumah darurat. Untuk menampung warga korban gempa, pemerintah memang mendirikan rumah darurat. Tentu tidak senyaman tinggal di rumahnya sendiri.

”Masih banyak warga yang tidur dengan perlindungan seadanya. Menggunakan kain atau kardus untuk berlindung dari panas dan dingin,” ujar Trianko Hermanda, relawan asal Malang yang mendampingi warga Desa Rokirole, Kecamatan Paloe, Kabupaten Sikka, NTT.

Dia tiba di Rokirole pada 23 Agustus lalu. Sepekan setelah NTT diguncang gempa berkekuatan 7,7 skala richter (SR). Dia pilih membantu warga Rokirole dan beberapa desa di kecamatan Paloe karena belum banyak tersentuh bantuan.

Desa ini berada di pulau kecil dengan 11.000 penduduk. Letaknya berada di utara Pulau NTT. Akses dari NTT harus menggunakan ferry, dengan jarak tempuh lima jam. Hanya dapat diakses melalui Maumere.

Pasca-gempa, Rokirole dan beberapa desa di Paloe terisolasi. Selain bangunan rusak, di beberapa titik juga mengalami longsor. Hingga kemarin (1/9), masih ada akses jalan yang tertutup longsor. Sehingga hanya bisa dilalui dengan berjalan kaki.

”Kendaraan di Rokirole juga terbatas. Saya hitung hanya delapan pikap," ujar Trianko yang akrab disapa Slank itu.

Pada 23 Agustus lalu, dia datang bersama dua relawan Gimbal Alas. Dari Malang, dia menginjakkan kaki di Ende, NTT. Sempat mendirikan tenda kesehatan di Nagekeo, kemudian pada 27 Agustus menuju Pulau Paloe.

Selain belum banyak tersentuh bantuan, jumlah relawan di Paloe juga sedikit. Hanya sekitar 12 relawan umum dan 18 relawan untuk kesehatan.

"Kebanyakan relawan hanya mengantarkan bantuan sebentar ke Paloe, kemudian kembali lagi menuju NTT daratan," ucapnya.

Saat ini program yang dijalankan dia bersama Relawan Gimbal Alas adalah trauma healing. Setiap pagi, anak-anak di pengungsian diajak bermain. Tujuannya agar mereka tidak terlalu bersedih akibat musibah yang melanda kampung halamannya. Selain itu, proses pembelajaran belum dilakukan secara normal. Sehingga mereka butuh aktivitas pengganti.

Selain trauma healing, warga Desa Rokirole juga butuh tempat tidur yang layak. Yakni minimal menggunakan terpal. Penggunaan kain dan kardus sebagai penutup sangat tidak ideal. Karena kurang melindungi pengungsi saat panas pada siang hari dan dingin pada malam hari.

"Penanganan di Rokirole masih 30 persen. Sekitar 500 warga membutuhkan bantuan terpal untuk tidur layak," jelas Slank.

Dalam sepekan lebih, Gimbal Alas telah mendirikan 60 terpal. Rencananya akan ditambah menjadi 60 terpal. Namun mereka mengalami kendala karena keterbatasan dana. Belum lagi bahan yang dicari juga langka akibat tingginya permintaan.

”Kami harus membeli eceran di beberapa toko. Untuk mengumpulkan hingga 40 terpal, sesuai yang dibutuhkan,” kata dia.

Saat ini, Gimbal Alas baru memperoleh donasi Rp 14 juta. Padahal warga Rokirole masih banyak membutuhkan tambahan terpal. Slank berharap masih banyak bantuan masuk, sehingga pembuatan terpal untuk tempat tidur layak bisa ditambah.

"Kebutuhan warga di Rokirole tentu masih banyak, tapi yang prioritas terpal dulu," tutur pria penghobi naik gunung itu.

Kebutuhan lain yang diperlukan di antaranya air bersih. Untuk itu, perlu pembangunan tandon komunal. Pengerjaan tandon komunal dilakukan Gimbal Alas saat bencana banjir di Aceh dan Sumatera beberapa waktu lalu. Di NTT, pengerjaan ini belum bisa dilakukan karena terbatasnya dana. Dibutuhkan sekitar Rp 200 juta untuk fasilitas tersebut.

"Karena terlalu banyak bencana, di NTT ini donasinya sangat sedikit. Kemungkinan karena masyarakat sudah fokus sepenuhnya banjir di Sumatera," kata Slank.

Sembari menunggu tambahan dana, Slank berencana bertahan di Paloe sebulan. Artinya kurang dua pekan lagi. Harapannya, sebelum dia kembali ke Malang, minimal warga mendapatkan tempat tidur yang layak.

"Sama seperti di Aceh, penanganan bencana dari pemerintah daerah, saya rasakan sangat lambat. Kemungkinan NTT ini butuh recovery sampai enam bulan," pungkasnya. (*/dan)

Editor : Mahmudan
relawan Malang gempa ntt Bencana malang