Warung ini dirintis oleh Sukirno pada 1985 lalu. Saat itu, lokasinya, di sekitar kampus 3 UMM (Universitas Muhammadiyah Malang).
Namun, karena adanya perluasan kampus, di tahun 2014 Soto Pak Sukir berpindah tempat ke Jalan Tegalgondo, Desa Pendem, Kecamatan Junrejo, Kota Batu, hingga saat ini.
Saat ini, warung tersebut dikelola Gunawan, menantu Sukirno.
Gunawan menunjukkan semangkuk soto racikannya. Foto: Darmono/Radar Malang
Sepintas, di tempat tersebut terlihat layaknya warung soto pada umumnya. Hingga kini warung tersebut juga hanya menjual menu soto kambing saja.
Meski begitu, tempat ini tidak pernah benar-benar sepi pembeli. Ada saja pencinta kuliner yang datang, meski warung tersebut hanya menyediakan satu menu saja.
Menurut Gunawan, nama Ngelo sendiri diambil dari nama kawasan di Landungsari yang dahulu banyak ditemukan para penjaja kuliner. Salah satunya adalah Soto Kambing Pak Sukir yang bahkan hingga kini masih menggunakan kayu bakar untuk memasak.
Dia menceritakan, tradisi berjualan soto jika dirunut, diwariskan oleh almarhum (alm) Kasan, kakek Sukirno yang merintis usaha sejak tahun 1940-an.
Menurut Gunawan, mertuanya pernah bercerita bahwa alm Kasan yang juga kakek Sukirno awalnya memang ingin berjualan soto yang berbeda dengan lainnya. ”Kebanyakan soto ayam, waktu dulu soto kambing hanyalah alm Kasan yang menjualnya,” katanya.
Karena itulah soto kambing juga menjadi salah satu kuliner khas Malang karena sebelumnya olahan kambing biasanya hanya dikonsumsi untuk gulai dan sate.
Apa istimewanya Soto Kambing Pak Sukir Ngelo?
Anda yang pernah ke sana pasti setuju bahwa aroma rempahnya memang khas. Berpadu dengan irisan daging, babat, atau paru yang cukup besar beradu tempat dengan bawang prei di atas lontong.
Yang membuat soto ini berbeda adalah hadirnya koya dari kelapa yang ditumbuk menggunakan lumpang. Hal tersebutlah yang menjadi salah satu daya tarik pelanggan untuk terus menikmati soto kambing Pak Sukir Ngelo ini.
Penggunaan bumbu dan rempah untuk meracik soto kambing ini diwarisi dari almarhum Kasan.
Gunawan mengatakan, dahulunya, soto kambing dijual dengan Rp 100 per porsinya. Saat ini, untuk merasakan segarnya soto Pak Sukir, cukup dengan harga Rp 12 ribu per porsi.
Cita rasa rempah-rempah yang cukup kuat dan irisan daging kambing menjadi sensasi tersendiri saat disajikan dalam bentuk menu soto.
Segarnya kuah soto terasa nikmat saat bercampur dengan koya, kecap, serta sambal yang tidak terlalu pedas. Praktis, mereka yang tidak terlalu suka masakan pedas, tetap bisa menikmati soto yang satu ini.
Jika pembeli kurang puas dengan potongan daging yang ada, bisa langsung request isian daging. Atau bila suka jeroan, bisa memilih otak, paru, lidah, hati, hingga usus. ”Untuk tambahan daging atau jeroan hanya Rp 3 ribu per potong,” tambah Gunawan.
Untuk menemani makan soto kambing, pembeli dapat menambah dengan kerupuk yang disediakan dengan harga Rp 1 ribu. Sedangkan untuk minuman, pengunjung dapat memesan es jeruk maupun teh yang disediakan. Harga minuman berkisar Rp 2.000–Rp 3.000 saja.
Pewarta: Nugraha Perdana
Editor: Indra M Editor : Mufarendra