Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Wisata Edukasi Petik Madu Andalkan Penjualan Madu untuk Bertahan

Editor : Hendarmono Al S. • Rabu, 2 September 2020 | 03:54 WIB
SEPI PENGUNJUNG: Wisata Petik Madu dalam kondisi normal disinggahi sampai 10 bus, tetapi saat pandemi sekarang ini tidak ada sama sekali bus yang singgah. (Foto: Intan Refa Septiana/Radar Malang)
SEPI PENGUNJUNG: Wisata Petik Madu dalam kondisi normal disinggahi sampai 10 bus, tetapi saat pandemi sekarang ini tidak ada sama sekali bus yang singgah. (Foto: Intan Refa Septiana/Radar Malang)
LAWANG – Geliat wisata edukasi mulai terlihat di Wisata Petik Madu. Berlokasi di belakang Ruko Puri Kencana Jalan Wahidin, Kecamatan Lawang, wisata ini juga sempat tutup operasional selama pandemi. Wisata edukasi tentang lebah ini, mengandalkan penjualan madu untuk tetap bertahan.

“Normalnya ya pemasukan kami bisa sampai Rp 100 juta, itu pendapatan kotor masih belum dikurangi biaya-biaya,” terang Supervisor Wisata Petik Madu Rini Windy, Selasa (1/9).

Sedangkan saat pandemi ini, Rini mengatakan, pendapatannya terjun bebas menjadi sekitar Rp 50 juta. Itupun sebagian besar berasal dari penjualan madu yang ada di outlet.

Menurut dia, sebelum pandemi, setiap harinya wisata ini mampu menarik pengunjung baik perorangan maupun rombongan. “Kalau dulu itu bisa sampai 10 bus yang datang ke sini, sekarang tidak ada sama sekali,” kata Rini. Sedangkan saat yang paling ramai dipenuhi pengunjung biasanya pada bulan November-Januari.

Rini juga mengungkapkan, 14 karyawan yang dipekerjakan tetap bekerja meski pandemi. “Sebisa mungkin mereka tetap dapat gaji, jadi kalau tidak ada pengunjung ya bersih-bersih,” terangnya.

Per tahun, wisata ini mampu memproduksi 1.500 kotak sarang lebah. Masing-masing kotak memproduksi sekitar 110 kilogram (kg) madu. “Tapi untuk tahun ini kita gagal panen,” terang Rini.

Alasannya, kotak-kotak madu ini diharus dibawa ke perkebunan dimana ia bisa mengisap nectar. Biasanya dibawa ke perkebunan se-Jawa Bali yang sudah menjalin kerja sama. Ketika pandemi, para pemilik kebun melarang siapapun dari luar kota untuk masuk ke perkebunan mereka.

Sejak kembali dibuka awal Agustus ini, beberapa pengunjung terlihat berdatangan. Meski tak banyak, kebanyakan mereka datang hanya ingin tahu lebih banyak tentang lebah. Karena ada bee keeper yang mengedukasi pengunjung.

Salah satu bee keeper, M Hendro Tri Saputro menjelaskan di Wisata Petik Madu ini ada 3 jenis lebah. “Apismelivera, ini jenis lebah dari Australia,” kata Hendro ketika mengedukasi salah seorang pengunjung.

Yang kedua Apiscerana dan terakhir Trigona. Dua jenis lebah terakhir itu adalah lebah lokal yang berukuran lebih kecil dari Apismelivera. “Hasil madunya tergantung dari flora sekitarnya, kalau disini madu multiflora,” terangnya.

Selain jenis lebah, ia juga mengedukasi pengunjung tentang cara mengeluarkan madu dari sarang, pengolahan ulang sarang lebah yang sudah rusak, serta khasiat dari madu hingga liur lebah. Disana para pengunjung juga bisa mencicipi madu langsung dari sarangnya.

Pewarta: Intan Refa Septiana Editor : Editor : Hendarmono Al S.
#Kecamatan Lawang #Ruko Puri Kencana Lawang #Kabupaten Malang #RMOC #Wisata Petik Madu