Dari segi penampilan, Soto Dok Lamongan H Slamet memang tidak berbeda jauh dari soto pada umumnya. Dalam satu mangkok terdiri dari nasi, daging, daun bawang, bawang goreng, tauge, dan kuah panas. Namun di balik itu, soto tersebut mampu memadukan rasa, daging empuk, dan rasa kelezatan yang konsisten puluhan tahun.
Ya, memang sudah tiga dekade lebih Soto Dok Lamongan H Slamet terus memanjakan lidah para pelanggannya. Sejak berdiri pada 1986 lalu, sang pemilik telaten mempertahankan standar soto yang diraciknya. Harga bahan baku yang acap kali naik tidak membuat sang pemilik menurunkan kualitas bahan bakunya.
”Kami terus menjaga kualitas. Artinya, rasa soto di sini tetap sama sejak awal berdiri puluhan tahun silam,” ujar Slamet, pemilik warung Soto Dok Lamongan.
Demi membuat sotonya enak, pria berusia 57 tahun itu tidak sekadar mempraktikkan resep. Tapi ada riset yang dilakukan. Misalnya, mempelajari dulu cita rasa yang cocok dengan lidah warga Ngalam. Setelah ketemu cita rasa kesukaan calon pelanggannya, barulah meracik soto dengan dengan cita rasa sesuai lidah orang Malang.
Selain cita rasa, penampilan juga diperhatikan. Misalnya, sengaja membuat soto tampak bening sehingga berbeda dengan soto pada umumnya. Sebagaimana diketahui, soto Lamongan umumnya berkuah pekat dan tanpa tauge. Hanya daun bawang dan bawang goreng untuk isian sayurnya.
Tapi kuah bening Soto Dok Lamongan H. Slamet menawarkan sensasi gurih dan segar ketika disantap. Ketika masuk kerongkongan kerap memberikan kehangatan kepada penikmatnya.
”Sebetulnya untuk kuah, kami gunakan bahan-bahan soto seperti pada umumnya. Namun, kami selalu pilih yang terbaik,” tutur ayah tiga anak itu.
Kebiasaan-kebiasaan penggunaan bahan berkualitas membuat daging atau jeroan sapi yang digunakan di Soto Dok Lamongan H Slamet terasa empuk dan nikmat saat disantap. Menurut Slamet, jika yang digunakan daging tidak berkualitas, risikonya bisa merusak cita rasa. ”Daging yang bagus juga memudahkan pengolahan,” papar Slamet.
Untuk membuat empuk daging yang disajikan, dia perlu memasaknya sekitar 3-4 jam. Setiap harinya, pria yang berdomisili di Betek (Kelurahan Penanggungan, Kecamatan Klojen) itu mengaku menghabiskan sekitar 9-10 kilogram daging. ”Tapi, kalau ramai begitu, biasanya bisa habis 15 kilogram daging,” ucap dia.
Kolaborasi tiga unsur, yakni empuknya daging, rasa, dan konsistensi selama bertahun-tahun adalah menjadi resep Soto Dok Lamongan H. Slamet tetap mampu bertahan di tengah semakin menjamurnya penjual soto dan makanan-makanan modern.
”Pengaruh dari adanya pandemi memang ada. Namun para pelanggan setia terus datang lagi dan lagi,” klaim pria asal Lamongan itu.
Untuk harga, satu mangkok Soto Dok Lamongan H. Slamet dibanderol Rp 20.000. Apabila menambah lauk seperti daging, hati, dan babat, pelanggan akan dikenakan tambahan biaya Rp 5.000, sedangkan untuk tambah perkedel dikenakan tambahan Rp 4.000.
Selama penerapan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) pada 11-25 Januari 2021, Soto Dok Lamongan Haji Slamet buka pukul 17.00 hingga 20.00. (gp/c1/dan/rmc) Editor : Shuvia Rahma