Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Menyusuri Tiga Bangunan Bersejarah di Kawasan Heritage Kajoetangan

Farik Fajarwati • Sabtu, 5 Juni 2021 | 20:42 WIB
Kampung Heritage Kayutangan yang tengah dibenahi. (dok JPRM)
Kampung Heritage Kayutangan yang tengah dibenahi. (dok JPRM)
RADAR MALANG – Menjadi salah satu jujukan destinasi wisata di Kota Malang, pesona kawasan heritage Kayoe Tangan sulit untuk dilewatkan. Bernuansa tempo dulu, beberapa peninggalan dengan nilai sejarah di masa lampau terekam apik di kawasan yang berada di Jalan Basuki Rachmad dan Jalan Arif rahman Hakim Kelurahan Kauman, Kecamatan Klojen ini.

Tidak hanya arsitektur, kesan tempo dulu di kawasan ini juga tertuang dalam budaya juga kuliner yang dilestarikan oleh warga sekitar. Tak tanggung-tanggung, usia bangunan maupun warisan budaya tersebut telah berusia puluhan hingga ratusan tahun.

Berikut ini beberapa bangunan era Kolonial yang masih terjaga di Kampung Herritage Kajoetangan yang bisa anda kunjungi serta diabadikan sebagai spot foto yang instagramable.

  1. Rumah Jacoeb (1920)


Photo
Photo
Ruang tamu rumah Jacoeb menjadi salah satu spot favorit wisatawan. (Mega Annisa/ Radar Malang)

Rumah bergaya arsitektur Belanda  ini menambah kesan suasana nostalgia di Kampung Herritage Kajoetangan kembali ke masa 1920-an. Menariknya, bangunan ini masih terjaga dan berdiri kokoh hingga saat ini. Bahkan, banyak para wisatawan domestik yang tertarik berfoto di rumah kuno tersebut.

”Jadi bangunan ini dibangun mulai 1920-an, arsitekturnya bergaya belanda. Bangunannya hingga sekarang masih kokoh, cuma tambah teralis aja. Semuanya masih memakai arsitektur lama,” ujar Yuris pemilik Rumah Jacoeb.

Menariknya, semua perabotan yang ada dirumah Jacoeb juga masih dirawat dengan baik nuansa kuno juga menjadi daya tarik para wisatawan yang berkunjung ke Rumah Jacoeb sebagai spot foto. Terutama di bagian ruang tamu. ”Iya yang paling sering dijadikan spot foto ya di ruang tamu ini karena banyak perabotan antik juga, tapi paling utama para wisatawan itu foto di depan rumah ada tulisan rumah Jacoeb yang ada tulisannya 1920-an. disamping rumah ada spot foto juga itu paling sering dikunjungi wisatawan,” Jelas Yuris.

  1. Galeri Nyak Abbas Akub


Photo
Photo
Galeri Nyak Abbas Akun salah satu rumah yang pernah menjadi tempat tinggal Sutradara Senior Indonesia yaitu Nyak Abbas Akun sebagai yang juga dikenal sebagai Bapak Komedi. (Mega Annnisa/Radar Malang)

Memiliki nilai historis tinggi, bangunan ini sudah berdiri sejak 1930. Galeri Nyak Abbas Akub merupakan rumah milik sutradara Senior Indonesia dengan nama yang sama. Abbas Akub dikenal sebagai bapak film komedi karena telah menyalurkan karya terkenal seperti  Bing Slamet Koboi Cengeng, Jenderal Kancil dan Inem Pelayan Sexy.

Pemilik Galeri Nyak Abbas Akub, Reynold mengungkapkan, alasannya memilih nama tersebut karena dia ingin mengenang dan mengangkat kembali sejarah tokoh sineas Indonesia yang pernah bermukim di Kampung Kajoetangan Malang.

”Nama Galeri Nyak Abbas Akub, Semata-mata untuk mengenang dan mengangkat kembali sejarah beliau bahwa di Kota Malang ini pernah ada satu tokoh yang bisa mengangkat sineas Indonesia. Beliau dikenal sebagai bapak komedian karena beliau pencetus film bertajuk Komedi,” ungkap Reynold.

Di sana, Anda bisa berfoto  dengan beberapa barang antik yang terdapat dirumah Nyak Abbas Akub. Seperti lukisan 3 dimensi milik adik Nyak Abbas Akub hingga karya ukiran milik Reynold.

  1. Gubuk Ningrat atau Rumah Jengki


Photo
Photo
Perabotan Antik di Gubug Ningrat menambah kesan suasana nostalgia. (Mega Annisa/Radar Malang)

Bangunan ini merupakan rumah dengan arsitektur Nusantara yaitu ‘Jengki’. Gedung tersebut telah berdiri sejak tahun 1964. Gaya bangunan Gubug Ningrat mencerminkan citra bangsa Indonesia. Salah satu yang menjadi daya tarik bagi para wisatawan adalah sisi historis tentang peradaban bangunan Indonesia di era 1950-an.

Secara fisik rumah Jengki ini memiliki ciri khas arsitektur besifat bebas seperti bangunannya di dominasi arsitekturnya miring. Pemilik Rumah Gubug Ningrat, Rizal mengungkapkan, selain unik alasan rumah Jengki ini kerap dikunjungi wisatawan adalah karena terdapat nilai historis di dalamnya.

”Rumah Jengki ini merupakan rumah wacana. Pada saat itu Presiden Soekarno meminta agar Indonesia harus memiliki gaya rumah sendiri,” ungkapnya. Karenanya, bangunan ini juga dikenal dengan sebutan Gubuk Ningrat. ”Rumah Jengki ini sudah ada sejak tahun 1950 sampai 1970-an,” tambah Rizal.

Jika tertarik, seluruh destinasi tersebut sudah dibuka mulai pukul 08.00 WIB. Tidak perlu khawatir merogoh kocek terlalu dalam sebab untuk tarif masuk pengunjung hanya dikenakan biaya sebesar Rp 5 ribu saja. Anda sudah mendapatkan postcard dan peta tematik sebagai panduan untuk menyusuri  kampung Herritage Kayutangan.

 

Pewarta: Mega Annisa N Editor : Farik Fajarwati
#explore malang #Kayoe Tangan #wisata kota malang #wisata heritage malang